Oleh: Shuniyya Ruhama
Hadlrotussyaikh Hasyim Asy'arie adalah salah satu priyagung yang telah dianugerahkan Gusti Allah SWT untuk bangsa Indonesia.
Beliau pernah didatangi Van Den Berg untuk diberi bintang jasa. Dengan halus beliau menolaknya dengan alasan bahwa beliau ibarat bapak, dan umat adalah anaknya. Meramut anak adalah kewajiban orang tua. Bukan sebuah prestasi yang patut diberi bintang jasa. Belanda pun keki dibuatnya.
Lalu, NU berdiri. Sementara kekuatan sentral Islam dunia waktu itu telah tumbang. Maka diputuskan berdirinya NU boleh atas legalitas kafir Belanda dengan syarat mutlak Belanda harus segera diusir dari bumi pertiwi. Itulah salah satu alasan mengapa sebelum Indonesia merdeka Muktamar NU dilakukan setiap tahun.
Karena militansinya dan sikap non-kooperatifnya, maka tahun 1937 Pondok Pesantren Tebu Ireng dibakar habis oleh Belanda. Hadlrotussyaikh tetap Istiqomah pada pendiriannya. Beliau tetap bersikukuh bahwa Belanda adalah penjajah kafir yang wajib diusir dari Indonesia. Beliau bersikukuh agar kaum Muslimin diberikan hak sepenuhnya untuk bisa mengurusi masalah nikah, talak, rujuk, dan waris. Tidak perlu ikut hukum Hindia Belanda.
Mbah Hasyim pernah mengeluarkan fatwa haramnya ibadah haji melalui perusahaan kapal milik Belanda. Akibatnya, Belanda mengalami kerugian sangat besar.
Perang kebudayaan juga beliau lancarkan melalui gerakan cinta produksi sendiri. Para santri dilarang menggunakan busana ala Belanda, menjadi ambntenaar (ASN kalau zaman sekarang), dan gaya hidup ala Belanda.
Hal ini cukup memukul Belanda hingga mereka bersikap melunak kepada kaum muslimin dan para kiai. Terutama dalam hal kebebasan beragama dan berkepercayaan.
Beliau selalu mengobarkan cinta tanah air hingga Jepang datang. Kedatangan Jepang adalah hal yang tidak disangka dalam peta sejarah dunia. Menurut salah satu santri beliau dikisahkan bahwa Mbah Hasyim melakukan riyadloh untuk mendapatkan jawabannya.
Maka didapatlah irhas berupa sanepo Surat Rum. Yang diterjemahkan secara cerdas oleh beliau bahwa yang kelak mengalahkan Jepang adalah Belanda dan kawan-kawannya.
Maka beliau memilih untuk menggalang kekuatan agar Jepang bisa transfer keterampilan perang dan penguasaan senjata modern kepada para santri.
Beliau amat berduka cita atas wafatnya KH Zainal Musthofa yang memilih jalan melakukan perlawanan bersenjata kepada Jepang. Namun tetap memilih sikap tidak membela secara terang-terangan. Juga tidak pernah mau mengeluarkan fatwa bahwa perlawanan itu pemberontakan, ghurur, bughot ilegal atau sejenisnya.
Demikian pula beberapa perlawanan lain kepada Jepang tidak pernah beliau salahkan sama sekali. Beliau memilih jalan kesabaran menuju kemenangan Indonesia merdeka yang diyakininya.
Dan benarlah. Jepang hanya seumur jagung. Bisa dikalahkan Sekutu. Ketika Sekutu datang, para santri sudah mahir berperang secara modern dan menguasai persenjataan canggih.
Maka dikumandangkanlah Resolusi.Jihad yang memicu peristiwa 10 November 1945 yang sukses mempermalukan Sekutu sebagai pemenang Perang Dunia II dan membuat mereka kehilangan dua jenderalnya. Sesuatu yang tidak pernah mereka alami selama berperang melawan Nazi maupun Dai Nippon.
Karena traumatis inilah maka Sekutu di kemudian hari melalui Inggris secara bertahap meminta Belanda yang gagal sekalipun ngeyel merangsek melalui Agresi Militer I dan II hengkang dari Indonesia.
Dengan catatan sejarah yang terang benderang ini, tuduhan keji apalagi yang hendak difitnahkan kepada Guru Mulia kita sebagai antek penjajah Belanda?
Mari warga NU bersama-sama merapatkan barisan, bergandengan tangan dan donga dinonga. Kita bersihkan keharuman nama agung Hadlrotussyaikh Hasyim Asy'arie. Kita tolak fitnah keji yang tidak berdasar sama sekali itu. Semoga kelak kita diakui sebagai santri beliau.
Kagem Mbah Hasyim Asy'arie, semua pendiri NU, semua kiai dan ulama NU, para pejuang NU, para syuhada NU, para para punggawa NU, santri NU, warga NU, para pecinta NU, dan para pejuang kemerdekaan RI lahum alfatihah.
Penulis adalah Pengajar PPTQ Al Istiqomah Weleri