Asa Warga pada NU Kendal

...

Oleh: H. M Mahrus Ali Kepengurusan NU Kabupaten Kendal akan berakhir dalam hitungan hari. Konferensi bakal digelar pada 24 Desember 2022 mendatang di SMK NU 01 Kendal. Periode kepemimpinan duet KH Mohammad Danial Royyan dan KH Izzudin Abdussalam dengan berbagai program unggulan, diantaranya RSNU, Toko Aswaja, dan NU Mineral akan segera berakhir. Kiai Danial diperkirakan akan maju lagi, meski menurutnya tidak akan menempati posisi Tanfidziyah. Sementara Kiai Izzudin dalam berbagai kesempatan mengatakan bahwa dirinya sudah “lelah”, tetapi akan tetap berkhidmat di NU tidak di kursi yang diperhitungkan. Banyak Kader Bermunculan Berbeda dengan konferensi sebelumnya, pada Konferensi kali ini ditengarai akan bermunculan kader-kader yang siap memimpin NU Kendal. Sebut saja, Ahmad Khoiron, DR. KH Mustamsikin, Khusnul Huda, Fahroji, dan Sajidin. Secara demografi para kader tersebut mewakili semua wilayah, yakni wilayah timur, barat dan selatan. Ini menunjukkan salah satu keberhasilan kepemimpinan Kiai Danial dan Kiai Izzudin yang menghasilkan banyak kader. Yang lebih membanggakan, kader-kader tersebut sudah melewati tempaan jenjang pengkaderan baik di IPNU maupun Ansor. Ini artinya mereka sudah memiliki sens of belonging, management of crisis, dan managemen konflik terhadap organisasi NU manakala sewaktu-waktu terjadi. Secara akademik pun kader-kader tersebut tidak disangsikan lagi. Karena mereka minimal sudah Sarjana (S1) bahkan banyak yang sudah S2 dan ada yang sampai S3. Ini memang suatu prasyarat untuk memimpin NU sebagai Ormas Islam terbesar dan warganya semakin banyak yang berpendidikan. Lain halnya jika organisasi NU yang besar ini kesulitan memunculkan pemimpin. Bisa dikatakan periode sebelumnya kurang berhasil dalam menakhodai biduk organisasi. Karena salah satu indikator keberhasilan organisasi adalah bisa melahirkan banyak kader. Puji syukur penulis ucapkan karena konferensi kali ini banyak kader yang bermunculan. Salah satu sistem untuk melahirkan banyak kader adalah menjauhi sikap kepemimpinan yang otoriter. Dalam teori kepemimpinan, ada 3 tipe kepemimpinan yakni otoriter, demokratis, dan laizes fire. Kepemimpinan otoriter adalah kepemimpinan yang ada pada satu tangan. Hanya di tangan pemimpinlah semua kebijakan itu berasal. Sedangkan kepemimpinan demokratis adalah kepemimpinan di mana kebijakan yang dilahirkan bertumpu pada kepentingan rakyat, karena yang melahirkan kebijakan tersebut hasil dari musyawarah orang banyak. Adapun laizes fire merupakan pola kepemimpinan yang membiarkan rakyat. Filosofi kepemimpinan ini sebagai “penjaga malam”. Kepemimpinan ini dinilai terlalu pasif karena akan bertindak manakala sudah terjadi kejadian perkara dalam masyarakat. Asa Warga NU Keinginan warga NU pada kepengurusan NU Kendal ke depan tidak terlalu muluk. Program yang sudah berjalan tetap dipertahankan. Yang belum berjalan perlu didorong dan dikaji kembali. Materi program barangkali terlalu “berat”, atau para “kusir”-nya kurang ber-”tonikum”. Kalau ini yang terjadi, perlu di-upgrade, diganti yang lebih ber-tonikum. Toh banyak kader muda yang siap untuk menjadi kusir NU. Kepengurusan NU Kendal ke depan tetap mengedepankan kepentingan NU. Artinya, lembaga- lembaga yang pada periode lalu sudah berjalan, tetap dipasang. Enyahkan kepentingan, “itu” bukan orang saya, kemarin pada masa kampanye, (ma’af) dia kelompok “minhum”. Jangan sampai kepengurusan ke depan punya karakter seperti itu. Tetap mengedepankan profesionalisme, basic pendidikan, pengalaman tetap menjadi landasan untuk menempatkan seseorang untuk menakhodai sebuah lembaga. Sejarah NU selalu berkoalisi dengan pemerintah. Masa orde lama, NU sangat “mesra” dengan pemerintah. Bahkan NU pada masa itu menjadi bagian dari pemerintah itu sendiri. Pada masa penjajahan Jepang memang NU bermusuhan dengan pemerintah. Intinya sikap NU selama tidak bertentangan dengan syariat agama Islam, maka NU berbaikan dengan pemerintah. Hanya pada era orde baru NU berjarak dengan pemerintah. Karena pada saat itu yang memusuhi NU adalah orde baru. Perlu dicermati apa yang dikatakan Gus Dur, satu musuh terlalu banyak, seribu teman terlalu sedikit. Penulis sepakat apa yang dikatakan oleh Ketua NU Jawa Timur, KH Marzuki Mustamar, “Pengurus NU jangan hanya numpang nama”. Mari semua bergerak untuk kemajuan NU, kemaslahatan umat. Kita raih predikat “santri”-nya Mbah Hasyim Asy’ari dan meraih “husnul khotimah”. Amin. Semoga.

Penulis adalah Ketua NU Ranting Truko, Kangkung

Informasi Lainnya

Banser dan Natal: Khidmah Kemanusiaan Tanpa...

Oleh: Anis Hidayati Barisan Ansor Serbaguna (Banser) merupakan lembaga semi-otonom di bawah naungan Gerakan Pemuda (GP) Ansor, badan otonom...

Bola Liar Konflik PBNU dan Harapan Nahdliyyin...

Oleh: M. Irhamni Sabil, S.Sy., MH Sudah hampir satu bulan konflik yang menerpa jajaran Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) bergulir di ruang...

Seni Merawat Khidmah: Ikhtiar Menghidupkan...

Oleh: M. Adib Shofwan Khidmah di Nahdlatul Ulama bukan sekadar soal niat baik, tetapi juga membutuhkan seni, gagasan kreatif, dan strategi yang...

Gus Dur, sudah Lama Jadi Pahlawan Rakyat

Desember identik dengan bulan Gus Dur. Khaul ke-16 tahun ini digelar di mana-mana .Majalah AULA edisi bulan Desember tak absen mengangkat tema...

Advertisement

Press ESC to close