Oleh: H. Moh Mahrus Ali
Helatan konferensi NU Kendal tinggal hitungan hari. Hingar bingar sudah mengitari nuansa helatan yang bakal digelar Sabtu, 24 Desember 2022 di SMK NU 01 Kendal ini. Tidak seperti biasanya, konferensi kali ini kelihatannya lebis “seksi”. Marwah ke-NU-annya juga lebih mengemuka. Angin kedamaian lebih terasa sejuk jauh dari intrik dan “bisik- bisik” para “kapitalis” yang ditengarai akan memberi “amunisi”. Suasana penolakan pada tokoh tertentu juga semakin menjadi “kegenitan” pada acara lima tahunan ini.
Hal-hal di atas menurut penulis disebabkan beberapa faktor. Diantaranya, Pertama, karena adanya perubahan aturan. Sebelum Muktamar NU Lampung, yang memilih Pengurus Cabang NU adalah pengurus MWC di tingkat kecamatan. Ini tentu saja memudahkan dalam mengakomodir kepentingan-kepentingan yang muncul. Selain jumlah pemilih sedikit juga kedekatan dengan pengurus cabang sudah terjalin.
Pelaksanaan Konferensi kali ini merujuk pada hasil Muktamar NU Lampung yang mengamanatkan bahwa yang memilih Pengurus Cabang NU adalah Pengurus Ranting, tingkat desa atau kelurahan. Selain jumlah pemilih menjadi banyak, hal ini juga dapat menyulitkan dalam mengakomodir berbagai kepentingan. Suasana “euforia” para Pengurus Ranting yang memiliki “biting” suara juga akan terasa sebagaimana dulu pernah terjadi dalam pemilihan Pengurus Cabang. Jeda masa itu barangkali yang menumbuhkan euforia tersebut.
Kedua, menghadapi tahun politik 2024. Pada tahun 2024 bangsa Indonesia akan menghelat Pemilu legislatif (DPR, DPRD dan DPD), pemilihan Presiden dan Kepala Daerah. Secara normatif memang tidak ada hubungan antara NU dengan perhelatan Pemilu tersebut sebagaimana sudah diatur dalam hasil Muktamar NU tahun 1984 dengan Khittah NU. Secara institusi/kelembagaan, NU tidak boleh berpolitik praktis. Tapi pada tataran praktis para pemangku kepentingan NU akan berbicara lain dikarenakan syahwat politik orang-orang NU bisa dikatakan “mana tahan”. Artinya, mereka tidak secara langsung terjun ke kancah politik, tapi bermain secara mata “berkedip- kedip”.
Ketiga, akibat dari liberalisasi pemikiran Islam/NU pada era 80-an yang sekarang kita baru memanen. Tokoh- tokoh yang menghembuskan liberalisasi saat itu seperti Mukti Ali, Dawam Rahardjo, Nurcholis Madjid, Djohan Effendi, Abdurrahman Wahid, Ahmad Wahib, dan generasi berikutnya Ulil Abshar Abdalla dengan Jaringan Islam Liberal (JIL)-nya sedikit banyak akan mempengaruhi pemikiran-pemikiran ke-Islam-an terutama pada kalangan NU muda.
Angin Kedamaian di Musda MUI
Pada Sabtu, 3 Desember 2022, Majlis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Kendal mengggelar Musda ke-9 di Pendopo Kabupaten Kendal. Wajah-wajah peserta Musda tampak begitu lembut dalam suasana damai. Dari pengamatan penulis, tak satupun tampak wajah “ambisius”, tanpa ada kepentingan. Semua semata-mata mengedepankan pengabdian pada agama, nusa dan bangsa.
Pembahasan di sidang- sidang komisipun berjalan penuh dengan hikmat dan rasa pengabdian yang tulus. Tidak ada adu konsep, menjegal sesama teman meski mereka memiliki sederet titel akademis mulai profesor, doktor, dan sarjana. Tidak banyak argumen pada pembahasan-pembahasan dalam sidang karena niat mereka hanya li i’laa i kalimatillah.
Bisakah suasana Konferensi PCNU Kendal meniru suasana Musda MUI tersebut? Seharusnya secara geneologis MUI lebih sulit untuk di-”sejuk”-kan dibanding NU yang secara geneologis dari gen yang sama. Geneologis MUI memuat Muhammadiyah, NU, Rifaiyah dan lainnya. Semoga ke depan NU lebih sejuk lagi.
Penulis adalah Ketua PRNU Truko, Kangkung