Oleh: Fahroji
Saya sempat merenung dan berpikir apa yang harus dilakukan dan mulai dari mana, sesaat setelah diamanati menjadi ketua MWC NU Sukorejo pada Konferensi 2016 dengan program unggulan pembangunan Gedung NU Sukorejo. Pasalnya saya memang tidak pernah bermimpi menjadi ketua MWC NU Sukorejo. Apalagi dalam Konferensi itu saya masih menjadi wakil sekretaris PCNU Kendal yang diberi tugas KH. Muhammad Danial memimpin sidang pleno pemilihan Rois dan Ketua MWC NU Sukorejo.
Apa yang saya alami itu tentu harus saya terima sebagai takdir karena memang saya tidak bisa mengontrol apa yang akan terjadi. Meski di MWC NU sebelumnya juga menjabat wakil ketua namun relatif tidak aktif. Barangkali itu memang skenario dari Yang Maha Berkehendak karena dalam setiap Konferensi NU di berbagai tingkatan sering memunculkan "kejutan-kejutan" di luar prediksi.
Dengan situasi demikian, saya mencoba melakukan identifikasi terhadap kondisi nyata MWC NU Sukorejo saat itu. Pertama, 17 Ranting NU dari 18 yang ada vacum dan kadaluarsa. Kedua, Pengurus NU jarang disebut saat pengajian umum di masyarakat yang mengindikasikan kian redupnya kiprah NU di Sukorejo. Ketiga, masyarakat Sukorejo memahami NU identik dengan PKB karena terhegemoni beberapa periode sebelumnya sehingga kiai-kiai yang simpatisan PPP saat itu memilih tidak aktif di NU.
Atas kondisi riil tersebut MWC NU Sukorejo kemudian mengambil beberapa langkah strategis. Pertama, menargetkan dalam 1 tahun ranting-ranting harus selesai reorganisasi dan bisa hidup, sehingga hampir tiap minggu pada tahun pertama saya sering menyambangi tokoh-tokoh NU di Ranting.
Kedua, dengan segala resiko, MWC NU Sukorejo harus disterilkan dalam urusan politik praktis agar kiai dan warga NU yang ada di PPP dan jumlahnya masih signifikan di Sukorejo mau aktif di NU. Saya dan Kiai Ibadi selaku Rois Syuriyah akhinya sepakat dan berbagi peran. Kiai Ibadi masih "Ngemong" orang-orang PKB sedangkan saya banyak komunikasi dengan kiai PPP. Posisi saya saat itu sebagai komisioner KPU Kendal nampaknya menjadi garansi kepercayaan bahwa saya tidak mungkin menyeret MWC NU Sukorejo ke politik praktis.
Langkah strategis menetralkan MWC NU Sukorejo dari hegemoni dan sub ordinasi partai politik ini secara finansial sejak dari awal saya sadari memang tidak banyak bisa diharapkan dalam upaya pembangunan Gedung MWC NU Sukorejo. Baik PKB maupun PPP yang sama-sama konstituennya warga NU tidak memberikan kontribusi yang cukup berarti jika dibanding suara yang diberikan warga NU pada kedua Parpol tersebut dalam setiap hajatan Pemilu.
Nampaknya upaya menetralkan posisi MWC NU Sukorejo menjaga jarak yang sama dengan Parpol saat itu disisi lain justru mendapat sambutan luar biasa dari warga NU Sukorejo. Dukungan moral dan material untuk dimulainya pembangunan Gedung MWC NU Sukorejo terus mengalir. Sehingga tahun kedua (2017) pembangunan itu dimulai dengan menggelar Pengajian Umum dan Tahlil Akbar dalam rangka peletakan batu pertama.
Kini Gedung MWC NU Sukorejo sudah bisa difungsikan meskipun belum sempurna. Target satu periode selesai harus terkendala dengan pandemi Covid 19 yang meluluh lantakkan sendi-sendi ekonomi. Proses pembangunan yang "dibumbu" ungkapan nyinyir dan pesimistis dari sebagian kalangan tentu saja ikut mewarnai dan menjadi penyemangat MWC NU dan panitia pembangunan kala itu.
Cerita di atas sebenarnya hanya ingin menyampaikan bahwa di tingkat grassroot (akar rumput), warga NU sebenarnya sudah jenuh dengan upaya-upaya elit NU menyeret-nyeret NU dalam kubangan politik praktis. Tarik-menarik kepentingan itu sangat terasa dalam Konferensi mulai dari tingkat MWC NU dan di tingkat Konfercab NU nampaknya sangat "kental".
Saya tidak tahu apakah kejenuhan mayoritas warga NU Sukoejo terhadap politisasi NU itu juga terjadi di MWC NU lain. Jika ya, maka Konfercab NU Kendal besok perlu mencari sosok yang bisa menggaransi dan menjamin bahwa PCNU Kendal yang akan datang tidak akan diseret-seret untuk kepentingan politik praktis tertentu. Kepercayaan warga NU terhadap netralitas pemimpinnya nampaknya perlu dikedepankan. Hal ini penting untuk membangun partisipasi warga NU dalam melanjutkan pembangunan RSNU di samping perlu dilakukan kerja sama dengan para pihak yang memiliki atensi terhadap RSNU.
Penulis adalah Ketua MWC NU Sukorejo 2016-2021