Ahmad Khoiron, Si Tangan Dingin Koki Organisasi

...

Oleh: Drs. H. Mahrus Ali Penulis masih ingat, pertama kali Ahmad Khoiron didapuk untuk menakhodai MWC NU Kangkung oleh peserta konferensi. Saat itu yang maju di ajang kontestasi di antaranya H. Fatkon S.Pd, M.Pd secara mendadak mengundurkan diri. Sontak panitia dan peserta konferensi kebingungan karena saat itu Ahmad Khoiron tidak berada di area konferensi dan tidak termasuk peserta kontestasi. Akhirnya pihak panitia atas persetujuan Rois terpilih, Kiai M Rofwan meneleponnya. Cukup alot pembicaraan via telepon itu. Intinya Ahmad Khoiron tidak bersedia mencalonkan. Tapi kalau dicalonkan dan didukung oleh para kiai, beliau mengatakan siap. Dari penggalan cerita di atas menunjukkan bahwa Ahmad Khoiron tak mau “pamer” atas kemampuan organisasinya. Justru sikap itu merupakan sikap rendah hati atau ketawadhuannya terutama kepada para kiai dan terhadap orang lain, walaupun orang yang berada dalam strata di bawahnya sekalipun. Dalam hal ini, penulis tidak berliterasi atau teori, tetapi “maujuduhu” beliau seperti itu karena kebetulan selain menjadi salah satu koleganya di MWC NU Kangkung, penulis adalah tetangga satu RT dengan beliau. Dalam tulisan Fahroji, (baca juga: Kubu Penentu dalam Konfercab NU) ada sedikit menggelitik dalam pikiran saya. Kang Fahroji mengklaim bahwa daerah atas lebih maju dari pantura dalam pendidikan. Ini parameternya apa?. Memang iya, selama ini memang Kendal 1 dari daerah atas. Apakah hal ini yang menjadi parameter?. Kalau ini parameternya, bisa saja orang pada umumnya mengklaim yang sebaliknya. Artinya, para Kendal 1 yang berasal dari daerah atas itu berakhir tidak “husnul khatimah”. Barangkali Kang Fahroji hanya “kelakar” saja. Daftar Riwayat Hidup Ahmad Khoiron Ahmad Khoiron, S.T., M.Si, terlahir dari pasangan Ahmad Khozin dan Siti Asmah, 14 Nopember 1971. Ayahnya seorang pegawai KUA dan ibu sebagai ibu rumah tangga. Ahmad Khoiron ditempa pendidikan agama sangat ketat. Hal itu ditandai dengan selesainya pendidikan diniyah, yakni MDA ditempuh di Truko, sementara MDW di Gebanganom Wetan yang saat itu masih diasuh oleh KH Samrodin Rois (Yai Samer). Sementara jenjang pendidikan umum, SDN Truko lulus 1984, SMP N Cepiring 1987, SMA N 1 Kendal 1990, Fakultas Tehnik UNDIP 1997, dan S2 Undar 2005. Seabrek pengalaman organisasi ditempuhnya dari IPNU Ranting sampai Cabang, Ansor Ranting sampai Cabang, NU dari ranting sampai menjadi Ketua MWC NU Kangkung tiga masa khidmat. Belum lagi di lembaga-lembaga NU tingkat Cabang seperti LPMNU dari wakil ketua sampai ketua ( sampai sekarang), PC ISNU sebagai sekretaris (2007- 2012), PC Lakpesdam  sebagai pengurus pleno (2002- 2007), PC Pergunu sebagai sekretaris (2008- 2013), sebagai Bendahara (2016- 2018). Beliau juga aktif dalam kehidupan bermasyarakat di desanya, Truko. Mulai dari pengurus Takmir Masjid Attuqo sebagai sekretaris sampai sekarang, Ketua dan anggota BPD sampai sekarang, Pengurus MDA Attuqo sampai sekarang, Pengurus jamiyyah tahlil, juga aktif di pertemuan NU Ranting. Ketum MWC NU Kangkung Tiga Kali  Seperti yang sudah penulis sampaikan di awal tulisan, bahwa semula Ahmad Khoiron menolak untuk menakhodai MWC NU Kangkung dengan alasan tidak mau mencalonkan diri. Tapi kalau didaulat oleh para kiai akhirnya beliau mengatakan sam’an wa thoatan, sendiko dawuh pada kiai. Ini bukan berarti dalam diri beliau memiliki kepasifan nantinya dalam menakhodai MWC NU Kangkung. Justru sebaliknya memiliki jiwa keikhlasan yang begitu bersemangat untuk memajukan sebuah roda organisasi. Bahkan beliau pernah mengatakan pada penulis bahwa kerja dan organisasi adalah “hiburan” dalam hidupnya. Hiburan artinya melakukan program-program organisasi dan bekerja tidak ada beban psikis, sebagaimana yang banyak dialami oleh orang lain. Selain tidak ada beban, juga ada rasa selalu “happy”. Ini yang membuat hasil akan mencapai maksimal. Tidak berlebihan jika masyarakat Kangkung menginginkan beliau untuk menjadi pilot di MWC NU Kangkung. Menjadi Ketum sampai tiga kali, ini suatu prestasi yang perlu kita apresiasi. Kenapa?, arena nakhoda di Ormas seperti NU sangat jauh berbeda dengan nakhoda yang ada misalkan di Parpol. Bedanya kalau di Ormas modal yang dimiliki oleh seorang pemimpin adalah kemampuan (skill, managerial, sosial skill, dll) dan yang lebih utama kober. Tapi kalau di Parpol secara general sudah bukan rahasia lagi, yang utama adalah modal finansial. Kenapa sampai tiga kali?, bukan berarti wilayah Kangkung defisit kader. Di MWC NU Kangkung semua personalia yang menempati ketua lembaga sudah mumpuni, kapabel dan memiliki pengalaman sesuai dengan lembaganya, dan 90% berijazah S1. Semua lembaga di MWC NU Kangkung juga menjadi leading sector suatu kegiatan. Suatu kegiatan menyesuaikan lembaganya juga. Jadi tidak beralasan kalau Kangkung minim kader. Yang jelas karena kepemimpinan Ahmad Khoiron masih dibutuhkan dan membawa berbagai kemajuan di MWC NU Kangkung. Hampir semua lembaga di naungan MWC NU Kangkung memiliki program masing-masing kecuali LP Ma’arif dan RMI, penulis tidak akan memviralkan lagi karena kedua lembaga tersebut di semua MWC penulis rasa sudah berjalan. Lembaga Perekonomian NU (LPNU) telah melahirkan koperasi dengan nama Koperasi “Nahdlatut Tujar” yang dibidani oleh Ketua LPNU saat itu, Drs. H. Mahrus Ali dan sekaligus sebagai ketua koperasi. Berdiri pada tahun 2016 dan mendapat respon yang begitu positif oleh aktifis MWC sebagai ajang simpan pinjam para aktifis MWC sampai sekarang masih berjalan. Lakpesdam MWC NU Kangkung yang digawangi oleh Syaefurrahman S.E, juga punya program pengajian rutin diasuh oleh Kiai muda, Mufton setiap Sabtu malam dengan tagline Ngopi dan Ngaji Bareng sampai sekarang juga masih eksis. Lazisnu MWC NU Kangkung dikomandani oleh H. Sapuan, sejak awal periodenya sudah memiliki armada ambulans sampai sekarang. Armada tersebut tidak hanya melayani kebutuhan warga Kecamatan Kangkung saja melainkan sampai kecamatan tetangga. Lazisnu MWC NU Kangkung juga menempati peringkat tertinggi dalam perolehan “kaleng” sedekah se-Kabupaten Kendal dalam 5 bulan terakhir. Ini sekilas tentang si koki organisasi Ahmad Khoiron yang begitu piawai dalam meramu perjalanan organisasi Nahdlatul Ulama yang kita cintai ini. Sangat wajar dan logis kalau pilihan para ketua pengurus Ranting NU se-Kabupaten Kendal menjatuhkan pilihannya pada Ahmad Khoiron. Semoga.

Penulis adalah Wakil Ketua MWC NU Kangkung

Informasi Lainnya

Banser dan Natal: Khidmah Kemanusiaan Tanpa...

Oleh: Anis Hidayati Barisan Ansor Serbaguna (Banser) merupakan lembaga semi-otonom di bawah naungan Gerakan Pemuda (GP) Ansor, badan otonom...

Bola Liar Konflik PBNU dan Harapan Nahdliyyin...

Oleh: M. Irhamni Sabil, S.Sy., MH Sudah hampir satu bulan konflik yang menerpa jajaran Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) bergulir di ruang...

Seni Merawat Khidmah: Ikhtiar Menghidupkan...

Oleh: M. Adib Shofwan Khidmah di Nahdlatul Ulama bukan sekadar soal niat baik, tetapi juga membutuhkan seni, gagasan kreatif, dan strategi yang...

Gus Dur, sudah Lama Jadi Pahlawan Rakyat

Desember identik dengan bulan Gus Dur. Khaul ke-16 tahun ini digelar di mana-mana .Majalah AULA edisi bulan Desember tak absen mengangkat tema...

Advertisement

Press ESC to close