Kubu Penentu dalam Konfercab NU

...

Oleh: Fahroji Dalam setiap musyawarah tertinggi organisasi semacam Konfercab yang pernah saya ikuti di Kendal, baik IPNU, Ansor maupun NU selalu saja muncul "kubu penentu". Kubu ini biasanya menjadi penentu atau bahasa Jawa sering disebut "Bandul" bagi kemenangan salah satu kubu yang berkompetisi karena adanya kekuatan imbang kedua kubu. Berbicara NU Kendal adalah berbicara wilayah Pantura dari ujung barat Weleri sampai kota santri Kaliwungu. Nama Kendal juga cukup disegani di komunitas nahdliyin dan dunia pesantren baik provinsi maupun nasional. Namun secara administrasi tentu saja Kendal bukan hanya Pantura. Masih ada wilayah pegunugan atau selatan yang meliputi Siboli (Singorojo, Boja dan Limbangan) dan P3S (Patean, Pageruyung, Plantungan dan Sukorejo). Wilayah pegunungan atau selatan memilki beberapa keunggulan baik sektor pendidikan, ekonomi maupun politik. Sederet nama politisi dan pengusaha sebagian lahir dari wilayah ini. Namun tidak demikian dengan suara NU. Di wilayah selatan gema suara NU sering hilang ditelan percaturan kepentingan elit NU di Pantura. Dalam bahasa Ahmad Misno (Sekretaris MWC NU Boja) sering menyebut "Dikiwakke" (tidak dihitung). Dalam kegiatan Konfercab baik NU maupun Badan Otonom NU, wilayah selatan sering dijadikan "medan gerilya" seperti saat ini dari pihak-pihak yang akan bertarung dari wilayah Pantura. Siapapun peserta Konfercab baik hanya tingkat Kecamatan (MWC/PAC) atau melibatkan Ranting, Wilayah selatan jika dilihat dari jumlah suara memiliki 1/3 dari seluruh suara di Kabupaten Kendal. Jika hanya melibatkan tingkat MWC/PAC daerah pegunungan ini memiliki 7 suara dari 20 Kecamatan. Jika melibatkan Ranting wilayah ini jumlah desanya relatif banyak. Di Kendal, jumlah desa (Ranting) terbanyak adalah Boja dan Patebon yang memiliki 20 desa/Ranting. Peringkat kedua Sukorejo 18 desa. Selain Boja dan Sukorejo, rata- rata jumlah desa/Ranting di wilayah ini mencapai belasan. Dengan data ini, maka secara hitungan biting (suara), wilayah ini memang layak disebut "Kubu Penentu", dengan catatan suaranya tidak pecah termakan isu. Dalam Konfercab IPNU di gedung NU Kendal tahun 1999 yang melibatkan suara Ranting misalnya, kemenangan Zainal Alimin (Rowosari) banyak disokong juga dari wilayah selatan. Begitu juga kemenangan Sukron Samsul Hadi di Konfercab Ansor Kendal dengan peserta hanya PAC, daerah pegunugan ambil peran cukup signifikan baik periode pertama maupun kedua. Jika bakal calon terlalu kuat dan tidak adanya perlawanan yang berarti, maka "Kubu Penentu" biasanya memilih diam. Hal ini bisa dilihat dalam Konfercab NU Kendal 2017 yang nyaris tidak ada dinamika yang berarti. Namun, dalam Konfercab NU Kendal 2022 ini nampaknya KH. Muhammad Danial Royyan "mboten kerso" menjadi ketua NU lagi sehingga menimbulkan kebingunan mencari figur ketua PC NU Kendal. "Kubu Penentu" sebenarnya memiliki banyak persamaan baik dilihat dari aspek geografis maupun sosiologis. Medan perjuangan yang bergunung-gunung dan jurang serta jarak yang cukup jauh sering harus dilalui untuk "menyapa" warga NU yang ada di Ranting. Tidak hanya itu, tantangan yang dihadapi di wilayah kubu ini juga sama, bersaing dengan pihak eksternal, mempunyai wilayah "rawan akidah". Beberapa waktu lalu radikalisme juga menguat di wilayah ini, misalnya kasus sweeping FPI dan khutbah provokatif di Banom Sukorejo. Mantan ketua PC Ansor Kendal, Sapuan Muhammad yang lama dinasnya berada di SMP 1 Pageruyung dan tahu banyak wilayah ini kepada penulis suatu ketika pernah mengatakan bahwa tantangan NU Kendal terbesar justru ada di wilayah selatan. Sehingga sudah semestinya dalam Pro Konfercab nanti juga perlu dirumuskan skala prioritas program pembinaan dan pendekatan yang berbeda dengan Pantura. Di masa lalu, kondisi geografis dan topografis di wilayah selatan yang merupakan daerah pegunungan menjadi salah satu penyebab kesenjangan informasi ke-NU-an. Namun saat ini dengan semakin membaiknya infrastruktur jalan di desa-desa dan kemajuan teknologi informasi, permasalahan itu bisa teratasi sehingga ruang dan waktu tidak lagi menjadi kendala. Oleh karenanya, sudah semestinya kesenjangan NU di Pantura dan pegunungan mulai terkikis dan kian menipis. Menyikapi Konfercab NU Kendal yang mulai "memanas", seyogyanya NU di wilayah selatan juga bisa ambil peran yang signifikan. Peran itu bisa terwujud jika ada persatuan sehingga bisa benar-benar menjadi kubu penentu dalam sebuah pemilihan. Terlepas kepada siapa pilihan itu akan diberikan.

Penulis adalah pemerhati Konfercab NU Kendal 2022

Informasi Lainnya

Banser dan Natal: Khidmah Kemanusiaan Tanpa...

Oleh: Anis Hidayati Barisan Ansor Serbaguna (Banser) merupakan lembaga semi-otonom di bawah naungan Gerakan Pemuda (GP) Ansor, badan otonom...

Bola Liar Konflik PBNU dan Harapan Nahdliyyin...

Oleh: M. Irhamni Sabil, S.Sy., MH Sudah hampir satu bulan konflik yang menerpa jajaran Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) bergulir di ruang...

Seni Merawat Khidmah: Ikhtiar Menghidupkan...

Oleh: M. Adib Shofwan Khidmah di Nahdlatul Ulama bukan sekadar soal niat baik, tetapi juga membutuhkan seni, gagasan kreatif, dan strategi yang...

Gus Dur, sudah Lama Jadi Pahlawan Rakyat

Desember identik dengan bulan Gus Dur. Khaul ke-16 tahun ini digelar di mana-mana .Majalah AULA edisi bulan Desember tak absen mengangkat tema...

Advertisement

Press ESC to close