"Sponsor" dalam Konfercab NU Kendal

...

Oleh: Fahroji Sudah menjadi hal yang lumrah dalam menggelar suatu kegiatan melibatkan pihak luar untuk berpartisipasi menjadi sponsor dalam kegiatan. Apalagi kegiatan besar sekelas Konfercab NU Kendal. Tentu saja ada kompensasi yang harus diberikan kepada pihak yang berkontribusi menjadi sponsor. Untuk memastikan suksesnya Konfercab NU pihak panitia tentu akan melobi dan meyakinkan perusahaan, instansi untuk berkontribusi dan menjadi sponsor guna mencukupi kebutuhan akomodasi dan seterusnya. Namun dalam kegiatan yang berujung pada pemilihan seperti Konfercab NU, ada "sponsor" jenis lain yang memberikan fasilitas untuk kemenangan kandidat. Kompensasi " sponsor" jenis ini tidak bersifat sesaat, namun jangka panjang, bahkan bisa berdampak pada kemandirian organisasi. Yang tertarik menjadi "sponsor" jenis kedua yakni pihak yang melihat NU sebagai Ormas besar untuk mendulang suara dalam Pemilu 2024 nanti. Sebut saja Parpol. Berapa Parpol yang tertarik menjadi sponsor? Tidak banyak bisa 1 atau 2 saja. Satu jika Parpol pemenang Pemilu di Kendal sama dengan Parpol pemenang pengusung Pilkada Kendal. Berpotensi muncul 2 sponsor jika Parpol pemenang Pemilu di Kendal berbeda dengan Parpol pemenang pengusung Pilkada Kendal. Dalam Konfercab NU Kendal mendatang nampaknya akan muncul 2 sponsor yang dimaksud terakhir. Pemetaan kubu calon menjadi 4 yang ditulis Ketua PC LDNU Kendal KH. Muzakka (baca juga: Hindari Politisasi Kiai dan Lembaga NU) saat artikel itu ditulis juga benar. Namun dinamika yang terjadi di Konfercab, peta itu kelihatannya akan atau bahkan sudah mengalami pengerucutan atau kristalisasi menjadi dua kubu besar yang sama-sama "bersponsor". Persoalannya, Bakal Calon (Balon) yang mampu meyakinkan pihak sponsor akan "kompensasi" yang diberikan biasanya akan gagal meyakinkan warga NU menjamin kemandirian dan independensi organisasi. Dalam situasi seperti saat ini, MWC NU dan Ranting selaku pemilik suara yang merupakan wakil dari warga NU harus berpikir cermat. Karena di lapisan akar rumput warga sebenarnya sudah jenuh dengan kondisi NU Kendal yang sulit lepas dari belenggu politik praktis. Dalam pengamatan penulis, sampai saat ini belum ada pihak yang berusaha mengkonsolidasikan keinginan-keinginan warga NU yang berharap NU tidak terhegemoni dan menjadi subordinasi Parpol. Sehingga belum ada tanda-tanda akan muncul "Kubu Tawasuth" atau dalam dunia politik disebut "Poros Tengah" yang pernah menghatarkan Gus Dur menjadi Presiden RI. Satu-satunya kubu yang ada mengimbangi kekuatan dua kubu yang akan muncul adalah "Kubu Langitan". Mereka terdiri dari kiai dan warga NU yang tidak punya hak suara dan mengandalkan doa yang terbaik untuk NU Kendal mendatang. Mereka yakin Allah SWT punya skenario. Apakah skenario itu cocok dengan salah satu kubu? Atau punya skenario lain. Kita lihat saja di Konfercab mendatang.

Penulis adalah Ketua MWC NU Sukorejo 2016-2021

Informasi Lainnya

Banser dan Natal: Khidmah Kemanusiaan Tanpa...

Oleh: Anis Hidayati Barisan Ansor Serbaguna (Banser) merupakan lembaga semi-otonom di bawah naungan Gerakan Pemuda (GP) Ansor, badan otonom...

Bola Liar Konflik PBNU dan Harapan Nahdliyyin...

Oleh: M. Irhamni Sabil, S.Sy., MH Sudah hampir satu bulan konflik yang menerpa jajaran Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) bergulir di ruang...

Seni Merawat Khidmah: Ikhtiar Menghidupkan...

Oleh: M. Adib Shofwan Khidmah di Nahdlatul Ulama bukan sekadar soal niat baik, tetapi juga membutuhkan seni, gagasan kreatif, dan strategi yang...

Gus Dur, sudah Lama Jadi Pahlawan Rakyat

Desember identik dengan bulan Gus Dur. Khaul ke-16 tahun ini digelar di mana-mana .Majalah AULA edisi bulan Desember tak absen mengangkat tema...

Advertisement

Press ESC to close