Antara AHWA, HAWA dan HOWO

...

Oleh: Fahroji Tiga kata itu tidak jauh berbeda AHWA dan hawa hanya berbeda letak huruf pertama yang dibalik. Sedangkan hawa (hawa nafsu) dan howo sebenarnya sama, huruf "o" dalam bahasa Jawa ketika diserap ke dalam bahasa Indonesia sering berubah menjadi "a". Namun kata howo dalam bahasa Jawa bisa bermakna dua (homonim) bisa tetap howonepsu bisa juga howo berarti udara, suasana baru. Ketika orang desa dalam Pilkades kemarin ditanya mau pilih siapa? Kemudian jawab, "pengen ganti howo". Maka yang dimaksud ia ingin suasana baru di desanya dengan cara memilih figur baru. Lantas apa korelasinya dengan Konfercab NU Kendal? Ada guyonan menggelitik di salah satu group WhatsApp yang selama ini intens mengikuti perkembangan menjelang Konfercab NU Kendal yang akan digelar Desember mendatang. Adalah Rois Syuriyah MWC NU Patean, KH. Ahmad Rajin yang nyletuk "Anggota AHWA tidak boleh mengajak HAWA saat memilh Rois Syuriyah". Tak lama kemudian Rois Syuriyah MWC NU Singorojo, KH. Fathkurrahman mengomentari, "Kalau AHWA mengajak Hawa berarti tidak bisa menjadi AHWA. Tapi nek pados HOWO angsal nggih, Yi... " Komentar Kedua Rois MWC NU ini sebenarnya menanggapi dinamika yang muncul dalam Konfercab terkait munculnya dua versi bakal calon tim AHWA. Hal itu sekaligus sinyal bahwa Konfercab mendatang tidak hanya ketua tanfidziyah yang akan diperebutkan, namun Rois Syuriyah juga bakal ramai, dan AHWA menjadi sasaran untuk perebutan itu. Karena Jabatan Rois Syuriyah berpotensi menjadi rebutan, maka sidang AHWA juga berpotensi "panas". Apalagi kalau AHWA terpilih merupakan perpaduan dua versi yang sudah beredar, maka bisa terjadi voting diri 5 anggota AHWA. Dalam situasi yang panas, hawa nafsu bisa saja ikut berbicara. Dalam hal ini yang dimaksud yakni keinginan menjabat Rois Syuriyah. Memprediksi kemungkinan itu, Rois Syuriyah MWC NU Singorojo, KH. Fathurrahman kemudian berkomentar," Kalau anggota AHWA bersidang mengajak hawa (hawa nafsu) maka tidak bisa jadi AHWA lagi. Karena dipandang tidak lagi sesuai kriteria AHWA dalam Perkum NU yang diantaranya memiliki sifat wara', zuhud, adil dan tawadu'. "Tapi kalau pados 'howo' angsal nggih yi". Howo yang dimaksud Kiai Fatkhur di sini adalah suasana baru atau perubahan. Dalam teori perubahan, perubahan bisa dilakukan sistemnya dengan tetap menggunakan orang lama. Tapi kalau orang lama dipandang tidak mampu beradaptasi dengan sistem tentu harus dicari figur baru. Menghadapi kompetisi perebutan tim AHWA ada baiknya dimunculkan versi tim AHWA 3 yang diisi Kiai yang belum disebut dari kedua versi yang telah beredar yang tentu saja memenuhi kriteria Perkum NU. Secara normatif, Perkum tidak menyaratkan jabatan baik jajaran Syuriyah Cabang atau MWC. Menyangkut karakter ulama yang disebut dalam Perkum, sebenarnya juga sulit mengukurnya dan usiapun tidak ada ketentuan yang mengaturnya. Sehingga penilaian siapa yang layak menjadi AHWA menjadi hak Pengurus Syuriyah MWC untuk mengusulkannya. Dengan munculnya bakal calon (Balon) tim AHWA 3 yang tentunya diharapkan muncul dari kiai yang non partisan semoga dapat menghindari kesan "Pertarungan Kiai" yang bisa membawa imbas kurang menguntungkan bagi NU sendiri. Dalam banyak kegiatan pemilihan, munculnya dua kubu sama kuat harus dimunculkan kubu poros tengah untuk meredakan ketegangan. Semoga sidang AHWA yang tidak diikuti hawa nafsu untuk berebut jabatan akan menghasilkan "howo" (suasana) baru yang lebih sejuk bagi perjalanan PCNU Kendal 5 tahun mendatang.

Penulis adalah Ketua MWC NU Sukorejo 2016-2021

Informasi Lainnya

Banser dan Natal: Khidmah Kemanusiaan Tanpa...

Oleh: Anis Hidayati Barisan Ansor Serbaguna (Banser) merupakan lembaga semi-otonom di bawah naungan Gerakan Pemuda (GP) Ansor, badan otonom...

Bola Liar Konflik PBNU dan Harapan Nahdliyyin...

Oleh: M. Irhamni Sabil, S.Sy., MH Sudah hampir satu bulan konflik yang menerpa jajaran Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) bergulir di ruang...

Seni Merawat Khidmah: Ikhtiar Menghidupkan...

Oleh: M. Adib Shofwan Khidmah di Nahdlatul Ulama bukan sekadar soal niat baik, tetapi juga membutuhkan seni, gagasan kreatif, dan strategi yang...

Gus Dur, sudah Lama Jadi Pahlawan Rakyat

Desember identik dengan bulan Gus Dur. Khaul ke-16 tahun ini digelar di mana-mana .Majalah AULA edisi bulan Desember tak absen mengangkat tema...

Advertisement

Press ESC to close