Oleh: H. Misno, S.T.M.Eng
Pernahkah kita sebagai pengurus NU merasa tidak memiliki waktu yang cukup untuk melakukan suatu aktifitas untuk kemajuan NU? Merasa beban tugas atau pekerjaan utama menumpuk meski sudah kita kerjakan? Mungkin salah satu penyebabnya adalah kurang cakap dalam mengatur waktu yang tersedia.
Mengatur waktu yang tersedia dan memanfaatkannya untuk menyelesaikan tanggung jawab kita sebagai pengurus organisasi kemasyarakatan NU yang kian bertambah memang suatu hal yang penting untuk dilakukan. Tujuannya agar kehadiran organisasi NU bisa berkembang dan bermanfaat bagi warganya.
Agar dapat mengerjakan tugas ataupun tanggung jawab dengan baik sebagai pengurus harian NU maupun Badan Otonom (BAnom) NU harus memiliki kemampuan manajemen yang baik. Tanpa kemampuan tersebut, maka visi dan misi yang diemban oleh NU tidak akan tercapai. Oleh karena itu, seorang pengurus NU harus dibekali dengan ilmu manajemen yang cukup.
Secara umum, manajemen adalah suatu proses di mana seseorang dapat mengatur segala sesuatu yang dikerjakan oleh individu atau kelompok. Manajemen perlu dilakukan guna mencapai tujuan atau target dari individu ataupun kelompok tersebut secara kooperatif menggunakan sumber daya yang tersedia.
Dari pengertian tersebut, ilmu manajemen dapat diartikan sebagai kemampuan dalam mengatur sesuatu agar tujuan yang ingin dicapai dapat terpenuhi. Sebetulnya, hal ini sudah sering terjadi di kehidupan nyata. Setiap orang juga pasti pernah mempraktikkan ilmu manajemen secara tidak langsung setiap harinya.
Selain itu, manajemen juga dapat diartikan menurut etimologinya. Manajemen berarti sebagai seni mengatur dan melaksanakan. Manajemen juga dapat diartikan sebagai usaha perencanaan, koordinasi, serta pengaturan sumber daya yang ada demi mencapai tujuan secara efektif dan efisien.
Dengan menerapkan ilmu manajemen, diharapkan sesuatu yang sedang dikerjakan dapat selesai tepat waktu dan tanpa ada hal yang menjadi sia-sia. Tujuan tercapai karena terorganisir secara baik.
Organisasi massa seperti NU dengan basis massa yang mempunyai anggota dengan berlatar belakang beragam penguasaan pengetahuan keilmuannya, tingkat strata pendidikan yang berbeda, yakni pendidikan salaf yang berbasis pada pondok pesantren maupun pendidikan umum berbasis pendidikan formal, serta warga NU mempunyai strata tingkat sosial ekonominya berbeda-beda, tentunya sangat memerlukan seorang leader (pimpinan ) yang mampu mengakomodir Sumber Daya Manusia (SDM) yang dimiliki oleh organisasi NU tersebut. Oleh karena itu, PCNU Kendal ke depan sudah semestinya membutuhkan seorang pemimpin dengan model kepemimpinan yang lebih baik dan mampu mengombinasikan antara manajemen tradisional dan modern.
Pola kepemimpinan di PCNU Kendal yang diperlukan di era saat ini merupakan gabungan atau kombinasi perlu dilakukan untuk mengatur dan membimbing umat yang memegang nilai-nilai tradisional atau konvensional. Akan tetapi, tantangan saat ini kita hidup di era digital sehingga perlu adanya sosok pemimpin yang mampu melaksanakan kepemimpinan NU secara manajemen modern.
Dalam melaksanakan amanah memimpin umat, NU perlu adanya standar manajemen secara modern, akan tetapi harus diikuti pula manajerial pendekatan tradisional seperti yang telah dilaksanakan selama ini.
“Tidak semua yang tradisional itu negatif dan tidak semua yang modern itu buruk”. Pola kepemimpinan berbasis kharisma seorang kiai seperti yang selama ini diterapkan memang diperlukan di organisasi massa NU, akan tetapi perlunya kerja sama ‘team work’ yang mempunyai kemampuan manajerial handal dan modern akan mampu menyesuaikan diri dan mengikuti perkembangan dan perubahan zaman yang terjadi.
Semoga dengan terwujudnya kombinasi manajemen modern dan trandisional akan mampu menghantarkan PCNU Kendal dalam menyongsong satu abad NU.
Penulis adalah Wakil Ketua Pergunu Kabupaten Kendal, Sekretaris MWC NU Kecamatan Boja, Pengurus Harian LPBI PC NU Kendal.