Hindari Politisasi Kiai dan Lembaga NU

...

Oleh: Moh. Muzakka Mussaif Sebenarnya saya malas untuk menulis auto kritik terhadap kiai dan lembaga NU. Mengapa? Sebab, sedikit atau banyak pasti akan menyinggung dinamika dan kinerja pengurus yang dikomandani para kiai dan tokoh-tokoh NU. Terlebih lagi di Kabupaten Kendal yang akhir tahun ini akan menggelar konferensi PCNU. Yah, tentu agenda konferensi sangat jelas yakni pemilihan rois syuriyah dan ketua tanfidziyah PCNU periode 2022-2027. Namun, sebagai akademisi yang juga berkhidmah di NU, saya tergugah untuk urun rembug terkait agenda Konferensi Cabang NU sekaligus memetakan tantangan PCNU ke depan. Hal ini penting untuk dijadikan pertimbangan untuk memilih nahkoda PCNU. Sebab, jika tidak berhati-hati NU akan terpecah belah oleh politik kepentingan dan kepentingan politik di tengah naiknya suhu politik praktis menyongsong 2024. Menurut saya sangat wajar bahkan harus bermunculan sederet nama-nama calon kader NU terbaik yang akan berkontestasi menjadi nahkoda PCNU ke depan. Nahkoda NU adalah rois syuriyah dan ketua tanfidziyah. Pemilihan rois syuriyah dalam Perkum NU 2022 sangat jelas dipilih oleh Ahwa, sedangkan ketua tanfidziyah cabang dipilih secara langsung oleh pimpinan ranting dan ketua MWC. Pemilihan rois syuriyah ini tidak asal-asalan, sebab syuriyah itu pengonsep sekaligus pengendali pelaksanaan program kerja NU yang dilaksanakan oleh ketua tanfidziyah. Di sinilah dibutuhkan figur rois yang kuat dan berwibawa. Figur demikian ini tentu dapat dipilih seorang kiai alim-alamah, adil, tidak partisan, punya sistem manajerial yang baik, serta pernah berkhidmah di NU. Bagaimana mendapatkan rois syuriyah yang ideal tersebut? Tentu tergantung kecermatan Ahwa. Peran Ahwa sangat penting dalam pemilihan rois karena ketidak cermatan memilih rois akan berdampak besar terhadap NU ke depan. Di sini pulalah sangat dibutuhkan tim Ahwa yang arif dan adil. Alangkah baiknya jika tim Ahwa itu adalah para kiai yang alim, zuhud, adil serta non partisan. Tim Ahwa yang demikian pasti akan jernih dalam memilih rois karena tidak mempunyai tendensi khusus selain berjuang membesarkan jamiyah NU ke depan. Untuk mendapatkan tim Ahwa demikian tidak terlalu rumit. Namun, alangkah baiknya jika anggota tim Ahwa itu juga berasal dari rois MWC yang telah berkhidmat di NU dengan tulus ikhlas. Dengan terpilihnya rois syuriyah yang ideal tersebut, maka laju organisasi NU ke depan akan terkendali dengan baik. Sebab, lembaga syuriyah sebagai pengawas dan pengendali eksekutif (tanfidziyah) dapat memantau kinerja eksekutif dalam melaksanakan pokok-pokok program kerja yang telah disahkan dalam konferensi. Hindari Politisasi Hal baru yang menggelitik dalam konferensi nanti menurut Perkum NU 2022 adalah ketua tanfidziyah PCNU dipilih langsung oleh ketua ranting dan ketua MWC. Hal demikian tentu sangat demokratis meskipun di balik itu rentan juga dengan politisasi kiai dan lembaganya. Mengapa? Sebab, dengan pemilihan yang dilakukan ranting itu akan melibatkan pemilih berjumlah lebih dari 300 orang pemilih. Hal demikian sangat rentan dengan politisasi kiai dan lembaga NU. Dari kondisi ini pula rentan juga dengan money politic dari pihak yang ingin mengambil keuntungan politik praktis dan strategis untuk menghadapi pemilu 2024. Dalam pengamatan saya, ada tiga atau empat kubu besar yang akan "bertarung" dalam konferensi nanti untuk berebut rois syuriyah dan ketua tanfidziyah. Meskipun nama-nama yang muncul dalam berbagai diskusi sangat banyak, tetapi yang bertarung kuat nanti ada tiga kekuatan besar saja sehingga yang tidak berkubu hanya jadi penggembira. Namun, ada juga satu kekuatan siluman yang tidak bisa diremehkan bahkan bisa menjadi kuda hitam dalam pertarungan tiga kubu besar nanti. Siapapun nama yang dicalonkan, saya kira tidak terlalu penting karena itu pasti sudah direncanakan dengan matang oleh tiga kubu tersebut. Tiga kubu besar itu menurut pengamatan saya adalah kubu status quo yakni pengurus lama, kubu yang dekat penguasa, dan kubu yang disponsori oleh Parpolnya warga NU. Kubu status quo tentu sangat kuat karena secara struktural, kubu ini berakar sampai ranting. Jika digerakkan dari atas dan kiri-kanan untuk memilih ketua tanfidziyah maka mesin struktural akan berjalan terarah. Kubu yang dekat penguasa juga cukup kuat karena kubu pecahan NU struktural ini pasti didukung penguasa untuk tujuan politik dan strategis ke depan. Sebab, penguasa juga sangat membutuhkan massa warga NU pada pemilu 2024. Kubu ketiga pun tidak bisa diremehkan. Meskipun didukung sebagian kecil struktural NU, tetapi kubu ini didukung oleh kekuatan parpol pemenang pemilu 2019 di Kabupaten Kendal. Sponsor pendukung juga sangat mudah menggerakkan mesin Parpol di tingkat ranting terutama di kantong-kantong masa anggota dewan Parpol tersebut. Bila ketiganya bergerak, pasti "pertarungan" pemilihan ketua tanfidziyah akan makin seru, bahkan pertarungan itu kian "sengit". Di sinilah perlu diwaspadai dampak negatif dari pertarungan itu pasca konferensi. Sebab, jika yang terpilih sebagai ketua nanti adalah tokoh yang disponsori Parpol atau penguasa pastilah nanti lembaga akan dibawa ke ranah politik praktis yang rentan dengan perpecahan. Selain tiga kubu besar itu, ada satu kubu yang saya sebut sebagai siluman. Saya katakan demikian, karena kekuatan struktural NU memang sangat kecil, tetapi kubu ini dikomandani oleh public figure yang pernah menjabat sebagai wakil bupati dan ketua partai serta sudah lama berkhidmat di NU. Kubu ini pun cukup kuat karena punya mesin jamaah thoriqoh sekaligus Fuspaq yang mengakar. Jika tiga kubu besar bertarung berebut pemilih, maka kubu siluman ini pasti akan bermain cantik untuk menarik simpati pemilih. Jika pertarungan itu berlangsung secara sportif, maka efek negatifnya tidak terlalu besar. Namun, jika dalam pemilihan nanti tidak sportif, terlebih digunakannya money politic dalam pemilihan, maka potensi pecahnya lembaga dengan para kiainya kian menganga. Waspadalah.

Penulis adalah Kolumnis NU Kendal Online, Dosen FIB Undip

Informasi Lainnya

Banser dan Natal: Khidmah Kemanusiaan Tanpa...

Oleh: Anis Hidayati Barisan Ansor Serbaguna (Banser) merupakan lembaga semi-otonom di bawah naungan Gerakan Pemuda (GP) Ansor, badan otonom...

Bola Liar Konflik PBNU dan Harapan Nahdliyyin...

Oleh: M. Irhamni Sabil, S.Sy., MH Sudah hampir satu bulan konflik yang menerpa jajaran Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) bergulir di ruang...

Seni Merawat Khidmah: Ikhtiar Menghidupkan...

Oleh: M. Adib Shofwan Khidmah di Nahdlatul Ulama bukan sekadar soal niat baik, tetapi juga membutuhkan seni, gagasan kreatif, dan strategi yang...

Gus Dur, sudah Lama Jadi Pahlawan Rakyat

Desember identik dengan bulan Gus Dur. Khaul ke-16 tahun ini digelar di mana-mana .Majalah AULA edisi bulan Desember tak absen mengangkat tema...

Advertisement

Press ESC to close