Virus "Duit Ora Payu" Mungkinkah Menular di Konfercab NU Kendal?

...

Oleh: Fahroji Belum lama ini beredar video viral di media sosial, adik sepupu KH Ahmad Bahauddin atau Gus Baha, yakni Muhammad Umar Faruq atau akrab disapa Gus Faruq berjalan bersama iring-iringan ratusan warga pendukungnya sambil teriak-teriak "duit ora payu... duit ora payu... diut ora payu..." Melansir dari http://portalpekalongan.com yang melakukan penelusuran informasi lebih lengkap terkait video viral tersebut. Faktanya, ternyata adik sepupu Gus Baha yang bernama Muhammad Umar Faruq atau akrab disapa Gus Faruq itu memenangkan Pemilihan Kepala Desa atau Pilkades di Desa Narukan, Kecamatan Kragan, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Pilkades di Desa Narukan itu berlangsung pada Minggu 2 Oktober 2022. Hasil perhitungan suara, Muhammad Umar Faruq atau Gus Faruq yang kebetulan populer sebagai adik sepupu Gus Baha, keluar sebagai pemenang setelah unggul dalam perolehan suara mengalahkan petahana Hanik Setiyawati. Dari total 1.039 suara yang sah, Gus Faruq atau adik sepupu Gus Baha memperoleh 709 suara. Sementara petahana Hanik Setiyawati memperoleh 330 suara. Dalam Pilkades itu, Gus Baha juga ikut memberikan hak suaranya. Namun, apakah Gus Faruq menang hanya gara-gara dikenal sebagai adik sepupu Gus Baha? Hanya warga Desa Narukan yang tahu. Namun dalam video yang viral, kemenagan Gus Faruq juga diwarnai teriakan-teriakan warga "duit ora payu... duit ora payu... duit ora payu..." Usut punya usut, ungkapan "duit ora payu" itu sebagai ekspresi kegembiraan warga pendukung Gus Faruq yang tidak melakukan politik uang untuk mencari dukungan suara warga. Sementara itu, rivalnya ramai dalam pergunjingan warga melakukan politik uang atau membagi-bagikan uang kepada warga untuk mendapatkan dukungan suara, namun ternyata kalah telak. Fakta itu menegaskan sebagian besar warga Desa Narukan sudah menjadi pemilih cerdas, mereka tidak mau memberikan suara hanya karena iming-iming mendapat uang. Demi memilih pemimpin yang tidak melakukan politik uang, mereka pun dengan bangga berteriak "duit ora payu... duit ora payu... duit ora payu...". Pilkades di Desa Narukan tempat kelahiran Gus Baha' itu tentu menjadi setitik harapan dan semoga menjadi influencer yang menular disetiap pesta pemilihan di tengah alam demokrasi dengan masyarakat "Perut Kosong" sehingga rela menukar suaranya dengan sebungkus nasi. Ya, politik uang atau atau money politic dalam Pesta Demokrasi diberbagai tingkatan baik Pilkades, Pilkada maupun Pil-Pil yang lainnya sudah menjadi rahasia umum di masyarakat. Bahkan belakangan penyakit itu sudah merambah organisasi profesi mau organisasi masa yang berbasis keagamaan sekalipun. Poliitik uang nampaknya sudah memasuki banyak sendi kehidupan pergerakannya juga sulit dihentikan. Pasal-pasal dalam UU Pemilu yang mengacam peserta Pemilu yang melakukan politik uang nampaknya juga sudah tidak dihiraukan sehingga politik uang dalam setiap Pemilu hampir selalu mewarnai. Kasus politik uang juga jarang bisa diproses karena sulitnya mencari bukti dan saksi. Tidak salah kalau orang mengibaratkan politik uang dengan "kentut" tidak bisa dilihat tapi baunya jelas ada menyengat. Di Ormas keagamaan penyakit politik uang dalam kegiatan musyawarah tertinggi dibungkus lebih samar dengan istilah tranport bisyaroh, ziarah dan bingkisan berupa sarung atau lainnya yang sumbernya dari pihak yang punya kepentingan baik internal maupun eksternal terhadap hasil musyawarah tertinggi. Beberapa kasus dapat disebut sebagai contoh misalnya Konfercab Ansor Kendal pernah diwarnai dengan istilah "Uang Rokok". Konferensi di sebuah MWC NU pernah diramaikan dengan istilah "Ziarah Pakai Sarung BHS" dan seterusnya. Lantas bagaimana dengan Konfercab NU Kendal yang akan berlangsung di penghujung tahun 2022 nanti. Nampaknya nuansa politik dan kekuatan eksternal masih akan ikut bermain di arena Konfercab nanti. Kecuali jika para rois dan ketua MWC dan ranting selaku eksekutor mau berteriak "duit ora payu.....duit ora payu... duit ora payu" seperti yang dilakukan mayoritas warga Narukan dalam Pilkades tersebut. Jika itu dilakukan insyallah NU Kendal ke depan akan lebih baik lagi. Semoga.

Penulis adalah ketua MWC NU Sukorejo 2016-2021

Informasi Lainnya

Banser dan Natal: Khidmah Kemanusiaan Tanpa...

Oleh: Anis Hidayati Barisan Ansor Serbaguna (Banser) merupakan lembaga semi-otonom di bawah naungan Gerakan Pemuda (GP) Ansor, badan otonom...

Bola Liar Konflik PBNU dan Harapan Nahdliyyin...

Oleh: M. Irhamni Sabil, S.Sy., MH Sudah hampir satu bulan konflik yang menerpa jajaran Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) bergulir di ruang...

Seni Merawat Khidmah: Ikhtiar Menghidupkan...

Oleh: M. Adib Shofwan Khidmah di Nahdlatul Ulama bukan sekadar soal niat baik, tetapi juga membutuhkan seni, gagasan kreatif, dan strategi yang...

Gus Dur, sudah Lama Jadi Pahlawan Rakyat

Desember identik dengan bulan Gus Dur. Khaul ke-16 tahun ini digelar di mana-mana .Majalah AULA edisi bulan Desember tak absen mengangkat tema...

Advertisement

Press ESC to close