Solusi Pesantren Jawab Tantangan Zaman

...

Majalah Nasional AULA edisi Juni 2022 terbitan PWNU Jawa Timur mengangkat tema kajian utama Solusi Pesantren Jawab Tantangan Zaman. Pesantren yang ada di tanah air saat ini melewati dialog yang demikian intensif dengan zaman. Beragam adaptasi dilakukan pengasuh dan pengelola demi memastikan bahwa keberadaan pesantren tetap diminati masyarakat. Namun demikian, agar ciri khasnya tidak tertelan waktu, maka ada sejumlah modifikasi yang dilakukan. Hal inilah yang akhirnya menjadikan pesantren tetap bertahan. Tak semata ada, juga memberikan jawaban bagi ketersediaan calon pemimpin bangsa dikemudian hari. Dan berbicara bagaimana pesantren menjawab tantangan zaman, tentu tidak akan dipisahkan dari sosok KH. Wahid Hasyim, kiai sekaligus dikenal sebagai sosok pembaharu pesantren yang wafat pada Ahad, 19 April 1953 dalam sebuah kecelakan di Cimahi Bandung dalam usia yang masih sangat muda 38 tahun. Masa muda Wahid Hasyim dihabiskan dengan menimba ilmu, termasuk memperdalam Islam di Mekah. Dirinya bukan tipikal ulama kolot karena justru memadukan sistem pengajaran di pesantren yang cenderung klasik dengan pengetahuan modern. Di pesantren Tebuireng Jombang waktu itu tak hanya bahasa Arab yang diajarkan dan dibiasakan, tapi juga Belanda, bahkan Inggris. Meski tahun 1940 ia dipercaya memimpin Majelis Islam A'la Indonesia (MAI), namun tetap memiliki perhatian terhadap pesantren. Betapa tidak, ayanda Gus Dur ini mempunyai pandangan jauh ke depan dan mempunyai cita-cita mengadakan pembaharuan dalam lingkungan pesantren. Suatu pembaharuan tetapi tidak menghilangkan esensi atau wujud dengan katakteristiknya. Menurut Rijal Mumazziq Zionis, dalam berbagai pemikiran dan tindakannya, kiai Wahid Hasyim menekankan perlunya pesantren melakukan inovasi agar update dan bergerak dinamis dengan ritme gelombang perkembangan zaman. Lantas bagaimana pesantren menjawab tantangan zaman diera milineal dan digital? Simak pandangan sejumlah kiai dan tokoh di majalah AULA edisi Juni, diantaranya KH A'tho'ilah Sholahudin Anwar (Pesantren Lirboyo Kediri), Rijal Mumazziq Zionis (Rektor Institut Agama Islam al-Falah Assunniyah, Kencong, Jember), KH. Fahrizal Ischaq Addimisqie (Pengasuh Pesantren Wisata Alam Wonosalam Jombang), KH. Robith Fuadi (Pesantren Progresif Bumi Sholawat Sidoharjo), dan H. Amin Said Husni (Ketua PBNU). Dapatkan juga info dan ulasan menarik lainnya di majalah kebanggaan warga NU ini. Layanan berlangganan hubungi MF Agency: 081388618077

Informasi Lainnya

Banser dan Natal: Khidmah Kemanusiaan Tanpa...

Oleh: Anis Hidayati Barisan Ansor Serbaguna (Banser) merupakan lembaga semi-otonom di bawah naungan Gerakan Pemuda (GP) Ansor, badan otonom...

Bola Liar Konflik PBNU dan Harapan Nahdliyyin...

Oleh: M. Irhamni Sabil, S.Sy., MH Sudah hampir satu bulan konflik yang menerpa jajaran Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) bergulir di ruang...

Seni Merawat Khidmah: Ikhtiar Menghidupkan...

Oleh: M. Adib Shofwan Khidmah di Nahdlatul Ulama bukan sekadar soal niat baik, tetapi juga membutuhkan seni, gagasan kreatif, dan strategi yang...

Gus Dur, sudah Lama Jadi Pahlawan Rakyat

Desember identik dengan bulan Gus Dur. Khaul ke-16 tahun ini digelar di mana-mana .Majalah AULA edisi bulan Desember tak absen mengangkat tema...

Advertisement

Press ESC to close