Baju-Baju yang Tertinggal menggambarkan proses perjalanan manusia di sepanjang hidupnya. Ceritanya bermula dari dua orang yang datang ke Paris dan tinggal bersama selama kurang lebih dua minggu. Selama di Paris, mereka juga mengunjungi kota-kota lain di Eropa seperti Bruxelles di Belgia, Berlin dan Potsdam di Jerman, lalu kota-kota di ujung barat selatan Eropa, Granada dan Cordoba di Spanyol sebelum akhirnya balik lagi ke Perancis melalui Marseille. Ketika meninggalkan Perancis, mereka ternyata meninggalkan sebagian baju-bajunya. Sepertinya memang disengaja. Bisa jadi mereka berpikir, ini kan pergi, bukan pulang. Pergi berarti akan kembali (lagi). Perjalanan hidup itu sesungguhnya menuju atau kembali, pergi atau pulang, itu tak ada beda, alias sama saja. Bahwa hidup di dunia ini semuanya adalah soal kesementaraan dan ketidakpastian, uncertainty, unpredictable. Disadari atau tidak, hidup kita sesungguhnya berangkat dari dan menuju ke titik nol, yakni titik kehampaan. Dititik kehampaan inilah, segala ikhlas bermuara pada pasrah. Pasrah itu bukan berarti menyerah, kalah. Pasrah lebih bermakna terserah, atau lebih tepatnya menyerahkan kepada yang Maha Berkehendak, karena menyadari bahwa dirinya tak memiliki daya dan kekuatan apapun (La haula wala quwwata illa billahi al 'aliyy al 'adhim). Seperti wayang, yang bergerak dan berjalannya tergantung pada dalang, maka hidup manusiapun sesungguhnya demikian juga. Nah, kebahagian sejati dan hakiki tercapai jika seseorang sampai pada titik ini. Membaca sajak-sajak Rozie, Dian, dan Bryna (ayah beranak) dalam buku Baju-Baju yang Tertinggal seperti dibawa ke lorong-lorong dari semua sisi dan aspek kehidupan. Ada aspek ketuhanan seperti dalam Ada dan Tiada , ada aspek sosial dan humaniora, juga ada aspek romantisme dan hubb yang dibungkus dengan apik. Tetapi dalam semua tulisannya mengarah pada satu aspek, yakni bagaimana menjalani hidup secara harmoni di tengah kebhinekaan dengan tetap mendasarkan diri dan berorientasi pada keimanan akan Allah. Bahasanya yang mengalir dan diksinya sederhana, mudah sekali dicerna. Ini buku yang menggugah jiwa dan mengungkap optimisme. (KH. Nasrulloh, MH, Rektor UNUGHA Cilacap dan ketua PCNU Kabupaten Cilacap) Puisi lahir dari kerja keras mencari puncak makna dan kekuatan kata. Kemudian ditata dengan kesungguhan menjadi kalimat. Hasilnya adalah diksi yang mengusung pengertian unik menggetarkan dan merentang cakrawala jiwa dan kesadaran. Itulah kerja kreatif Rozie Kroya Cilacap dalam kumpulan puisinya Baju-Baju yang Tertinggal. (Ahmad Tohari, Sastrawan) Sajak-sajak Dian Sophya Jelang R (Dian) menampilkan potensi dan harapan akan munculnya penyair muda berbakat. Pelajar SLTA ini diharapkan terus mengasah kemampuan kreatifitasnya. Teruslah berkarya kesusastraan Indonesia menunggu goresan penamu. ( Ahmad Tohari, Sastrawan) Data Buku : Judul : Baju-Baju yang Tertinggal Penulis : Fahrur Rozi, Dian Sophya Jelang R, Bryna Fakhrina Rachmaniyya Penerbit : Pondok Pesantren Miftahul Huda Kroya Cilacap Tebal : xx + 172 hlm, ukuran 14 x 20,5 cm Cetakan 2 : April 2022 Informasi : 0813-8861-8077
Informasi Lainnya
Banser dan Natal: Khidmah Kemanusiaan Tanpa...
Oleh: Anis Hidayati Barisan Ansor Serbaguna (Banser) merupakan lembaga semi-otonom di bawah naungan Gerakan Pemuda (GP) Ansor, badan otonom...
Bola Liar Konflik PBNU dan Harapan Nahdliyyin...
Oleh: M. Irhamni Sabil, S.Sy., MH Sudah hampir satu bulan konflik yang menerpa jajaran Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) bergulir di ruang...
Seni Merawat Khidmah: Ikhtiar Menghidupkan...
Oleh: M. Adib Shofwan Khidmah di Nahdlatul Ulama bukan sekadar soal niat baik, tetapi juga membutuhkan seni, gagasan kreatif, dan strategi yang...
Gus Dur, sudah Lama Jadi Pahlawan Rakyat
Desember identik dengan bulan Gus Dur. Khaul ke-16 tahun ini digelar di mana-mana .Majalah AULA edisi bulan Desember tak absen mengangkat tema...