Oleh: Fahroji
Hari ini, Ahad 24 April 2022 Gerakan Pemuda (GP) Ansor memperingati ulang tahunnya yang genap berusia 88 tahun dengan tema Berkhidmat Tanpa Batas. Diusianya yang sudah tidak muda lagi, GP Ansor yang lahir 24 April 1934 tentunya sudah kenyang dengan pasang surut dalam mengawal kehidupan berbangsa dan bernegara sekaligus mengawal Nahdlatul Ulama.
Setiap memperingati Harlah, Ansor sering mengisi dengan acara refleksi dan introspeksi diri. Hal itu seperti yang pernah disampaikan Ketua PC GP Ansor Kendal masa khidmat 2003-2007, H. Sukron Samsul Hadi saat acara Malam Refleksi Harlah GP Ansor ke-73 tahun 2007 di Pendopo Kabupaten Kendal yang dimuat Koran Mingguan Forum Warga edisi 22 minggu ke-2 Juni 2007 terbitan LTN Kota Tegal bahwa Ansor perlu melakukan introspeksi diri menengok ke belakang dan menatap ke depan.
Dari acara yang sudah berselang lima belas tahun yang lalu, sejumlah pesan bisa di-review (dilihat kembali). Meskipun konteksnya sudah berbeda, namun subtansinya mungkin masih relevan untuk diungkap kembali pada Harlah ke-88 tahun ini.
Dilansir dari arsip koran tersebut, Ketua PWNU Jateng KH. Muhammad Adnan yang menjadi pembicara utama dalam acara tersebut menyampaikan Ansor sudah cukup tua, akan tetapi Ansor harus tetap bergerak dengan semangat muda dengan segala dinamikanya, karena Ansor terikat dengan dua huruf di depannya 'GP' yang artinya Gerakan Pemuda.
"Jangan sampai GP diplesetkan menjadi Gerombolan Pengacau, sebab belakangan ditengarai ada anak muda NU yang mulai meragukan Aswaja," ujarnya.
"Meskipun yang dimaksud belum tentu Ansor, namun kalau Ansor sampai ikut-ikutan, bisa jadi stigma Gerombolan Pengacau melekat pada Ansor. Oleh karena Ansor perlu melakukan muhasabah," pintanya.
Konteks pesan yang disampaikan ketua PWNU Jateng saat itu nampaknya karena maraknya gempuran aliran Trans Nasional semacam Hizbut Tahrir dan rmacam-macam baju Islam radikal yang berkembang di Indonesia pasca dibukanya kran reformasi.
Dalam pengamatan Kiai Adnan, dalam ranah ideologi ia melihat saat itu sudah mulai ada anak muda NU yang meragukan ajaran ahlussunnah wal jamaah. Ada yang terseret garis keras, ada juga yang cenderung ke garis bebas (liberal). Keduanya menurut Adnan sudah tidak sesuai dengan karakter Nahdlatul Ulama.
"Karenanya Ansor sebagai benteng NU dituntut untuk bisa membuktikan komitmennya. Allahu akbar-nya Ansor dan Allahu akbar-nya HTI (sekarang sudah bubar) tentu berbeda," tegasnya.
Pesan lain yang disampaikan Kiai Adnan saat itu adalah perlunya Ansor memperkuat program sosial. Sebab dengan kegiatan sosial diharapkan Ansor dapat menarik simpati kalangan muda, sehingga Ansor dapat berperan dalam pembinaan generasi muda.
"Tidak usah berbicara bangsa, jika Ansor mampu berperan sebagaimana yang dikehendaki para ulama, secara tidak langsung Ansor sudah menunjukkan komitmenya kepada bangsa ini," jelasnya.
Ditambahkan juga masa depan urusan dunia sangat tergantung dari penguasaan ilmu pengetahuan. Oleh karenanya, Ansor diminta untuk selalu menambah ilmu pengetahuan.
Dalam sambutannya, Ketua PCNU Kendal saat itu KH. Moch. Ali Hasan Umar berharap agar di Ansor tidak ada lagi istilah meninggalkan rumah baru dan kembali ke rumah lama.
"Yang harus dilakukan Ansor adalah kembali ke rumah besarnya NU," tegasnya.
Pesan itu disampaikan KH. Ali Hasan dalam konteksnya saat itu ada fenomena bangkitnya Partai Persatuan Pembangunan (PPP) setelah dilepas NU pasca Khittah 1984. Di sisi lain terjadi hubungan yang kurang harmonis antara NU dan PKB yang dinilai tidak mampu menjadi sayap politik NU yang telah memfasilitasi pendiriannya.
Senada dengan KH. Ali Hasan, pada acara lain sosialisasi menjelang Pilkada Kendal 2010 di RM Aldila Kendal, Ketua KPU Kendal 2008-2013 H. Abdullah Sachur yang diundang Ansor mengingatkan bahwa logo Ansor adalah segitiga sama sisi. Segi tiga sama sisi dibolak-balik dengan cara apapun tetap segitiga sama sisi tidak bisa berubah.
"Demikian pula dengan Ansor. Ansor tetap Ansor. Meskipun menghadapi situasi sulit dan benturan keras sekalipun, Ansor tidak boleh menjadi partai politik atau bekerja untuk partai politik. Ansor harus berkhidmat untuk NU," pintanya.
Demikian sejumlah pesan dari para tokoh NU dan lainnya yang saya tulis kembali dari apa yang pernah saya tulis sebagai bentuk ikut mangayubagyo Harlah GP Ansor ke-88. Semoga Bermanfaat.
Penulis adalah ketua PAC GP Ansor Sukorejo 2003-2006 dan Wakil Ketua PC GP Ansor Kendal 2007-2011.