Antara Rezeki dan Uang

...

Oleh: Laili Mawadah Menjelang bulan Ramadan, kaum ibu-ibu dibuat kocar-kacir dengan melonjaknya harga kebutuhan pokok mulai minyak goreng, bumbu dapur, ayam, telur disusul dengan harga bahan bakar minyak. Alih-alih bergembira menyambut Ramadan, justru kenestapaan yang dirasakan. Sebagai rakyat biasa yang hanya fokus dengan perhitungan matematis bahwa besar pendapatan berbanding lurus dengan kecukupan kebutuhan hidup, berapa uang yang didapat dari bekerja itulah yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Bila berorientasi pada kalkulasi matematis dan perspektif bahwa rezeki sama dengan uang, maka kita akan dihadapkan pada kegelisahan dan rasa kuatir bila pendapatan kita tak bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari. Namun, mari kita telaah firman Allah dalam Alquran, "Dan tidak ada sesuatu apapun dari yang bergerak di bumi melainkan Allah lah yang menanggung rezekinya". Masihkah kita ragukan janji Allah untuk menanggung semua rezeki makhluk-Nya seperti yang disebutkan pada firman Allah tersebut? Lalu, mengapa manusia harus susah-susah bekerja jika rezekinya sudah ditanggung oleh Allah? Bekerja merupakan sarana ikhtiar manusia untuk mendapatkan uang. Namun rezeki tidak hanya berupa uang. Rezeki bisa berupa rumah tangga yang harmonis, kesehatan, anak- anak yang saleh dan solehah. Semua kebaikan yang diberikan Allah kepada kita adalah anugerah yang harus kita syukuri. Secara terminologi, rezeki itu sendiri berupa rezeki maadi dan rezeki maknawi. Rezeki maadi berupa materi seperti uang, tanah, buah-buahan, pekerjaan, dan harta. Rezeki tersebut diberikan Allah untuk hamba-Nya yang beriman mau tidak beriman. Sedangkan rezeki maknawi adalah rezeki yang berupa iman, rasa bahagia, sifat konaah, dan sifat istiqamah beribadah. Pemberian Allah ini hanya untuk hamba-Nya yang dicintainya. Dari sudut pandang tersebut, seharusnya kita berpikir positif dengan segala ketentuan yang diberikan Allah bahwa seberat apapun hidup kita, harus haqqul yaqin bahwa pertolongan Allah akan datang pada hamba-Nya yang beriman. Biarkan pemerintah dan pihak yang berwenang menentukan harga kebutuhan bahan pokok. Tugas kita cukup memohon kemudahan dalam menghadapi kehidupan yang serba sulit ini. Bukankah Allah maha kaya dengan semua sifat yang dimiliki-Nya?. Wallahu  a'lam.

Penulis adalah Ketua PAC Fatayat NU Pegandon dan Pengajar di SMP Al Musyaffa’ Kendal

Informasi Lainnya

Banser dan Natal: Khidmah Kemanusiaan Tanpa...

Oleh: Anis Hidayati Barisan Ansor Serbaguna (Banser) merupakan lembaga semi-otonom di bawah naungan Gerakan Pemuda (GP) Ansor, badan otonom...

Bola Liar Konflik PBNU dan Harapan Nahdliyyin...

Oleh: M. Irhamni Sabil, S.Sy., MH Sudah hampir satu bulan konflik yang menerpa jajaran Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) bergulir di ruang...

Seni Merawat Khidmah: Ikhtiar Menghidupkan...

Oleh: M. Adib Shofwan Khidmah di Nahdlatul Ulama bukan sekadar soal niat baik, tetapi juga membutuhkan seni, gagasan kreatif, dan strategi yang...

Gus Dur, sudah Lama Jadi Pahlawan Rakyat

Desember identik dengan bulan Gus Dur. Khaul ke-16 tahun ini digelar di mana-mana .Majalah AULA edisi bulan Desember tak absen mengangkat tema...

Advertisement

Press ESC to close