Oleh: Mawardi Abu Dzarr A. Profil Abu Dzarr mempunyai nama kecil Abu Syihab atau Syihabuddin. Beliau lahir pada Senin wage pukul 11.00 siang, tanggal 11 Syawal 1324 H/1903 M di Dukuh Gempolbapang Desa Brangsong dari pasangan Moh. Rowo (wafat Rabu kliwon, 8 Jumadil Akhir 1365 H/1946 M) dan Salminah (wafat Selasa kliwon, 13 Shafar 1371 H/1951 M). Abu Syihab adalah putra pertama dari 4 bersaudara, 3 adiknya yaitu Abu Amar, Saudah dan Shofiyah. Abu Syihab kemudian berganti nama menjadi Abu Dzarr saat melaksanakan ibadah haji yang pertama pada tahun 1950-an. Alkisah, sebelum kedatangan Abu Syihab atau Abu Dzarr, konon para tokoh masyarakat Desa Purwokerto, Brangsong tidak pernah akur. Mereka saling berebut ingin menjadi imam atau pemimpin. Jambari, Lurah/Kepala Desa Purwokerto saat itu mempunyai ide untuk menyatukan para tokoh masyarakat yang berselisih dengan meminta tolong pada orang terpandang di Dukuh Krayapan Desa Purwokerto yakni H. Ma'shum agar anak perempuannya yang bernama Hj. Amnun (sudah hajjah sejak kecil) dijodohkan dengan putra Moh. Rowo Desa Brangsong yaitu Abu Syihab. Saat itu Abu Syihab masih menuntut ilmu di pesantren. Permintaan Lurah Jambari pun akhirnya disambut baik kedua belah pihak. Abu Syihab disuruh pulang dari pesantren kemudian dijodohkan dengan Hj. Amnun. Keduanya dibuatkan rumah oleh H. Ma'shum di Dukuh Kedinding Desa Purwokerto. Keberadaan Abu Syihab di Desa Purwokerto membawa kedamaian, warga merasa terayomi dan terlindungi. Orang-orang yang tadinya berselisih kini tak terjadi konflik lagi. Manusia punya rencana tapi Allah-lah yang menentukan. Badai besar kemudian menerpa rumah tangga Abu Syihab. Kebahagiaan lahirnya putra yang pertama tak berlangsung lama. Selang beberapa tahun, putra yang mereka cintai menghadap Sang Kuasa. Hal serupa juga terjadi pada putra keduanya. Kesedihanpun bertambah saat istri tercinta, Hj. Amnun meninggal dunia dan dimakamkan di Dukuh Babat Desa Purwokerto. Abu Syihab akhirnya pergi meninggalkan rumah tanpa pamit dan tanpa sepengetahuan keluarga. Ayah dan mertuanya sangat kehilangan putra mereka yang alim dan sangat dicintai. Selang beberapa bulan, keberadaan Abu Syihab akhirnya diketahui tinggal di sebuah pesantren di Cirebon Jawa Barat. Lurah Jambari, H. Ma'shum dan M. Rowo kemudian berembuk membawa pulang Abu Shihab untuk dinikahkan dengan adik almarhumah Hj. Amnun, yaitu Marfuatun. Keduanya kemudian menempati rumah yang ditinggalkan di Desa Purwokerto. Pernikahan Abu Syihab dengan Marfu'atun dikaruniai 10 anak, yaitu:
- Maryam (lahir Rabu kliwon, 10 Syawal 1361 H/1942 M)
- Kona'ah (lahir Selasa pon, 22 Jumadil Akhir 1364 H/1945 M)
- Anas Abu Dzarr (lahir Senin wage, 6 Rabiul Tsani 1367 H/1948 M)
- Zaenab (lahir Ahad kliwon, 18 Muharram 1370 H/1950 M)
- Husnul Khotimah (lahir Selasa wage, 5 Jumadil Akhir 1373 H/1954 M)
- Zulaekha (lahir Kamis manis, 15 Rajab 1375 H/1956 M)
- Istianah (lahir Selasa kliwon, 18 Rabiul Awal 1377 H/1957 M)
- Mawardi Abu Dzarr (lahir Kamis pon, 5 Ramadan 1379 H/ 1961 M)
- Ahmad Abu Dzarr (lahir Senin legi, 16 Jumadil Akhir 1385 H/1965 M)
- Marwah (lahir 1968 di Makkah dan meninggal dunia)
- Pondok Pesantren Gubugsari Pegandon (Mbah Kiai Jambari/KH.Abdul Wahab)
- Pondok Pesantren Termas Pacitan Jawa Timur (KH. Abdullah)
- Pondok Pesantren Poncol Salatiga (KH. Hasan Asy'ari ) tahun 1345-1349 H.
- Pondok Pesantren Tebuireng Jombang Jawa Timur (KH. Hasyim Asy'ari ) tahun 1349 H.
- Pondok Pesantren Kasingan Rembang (KH. Kholil) tahun 1350 H. Saat mondok di Kasingan, beliau seangkatan dengan KH. Mahrus Ali Lirboyo, KH. Ahmad Abdul Hamid Kendal, KH. Bisri Musthofa Rembang, dan KH. Sulaiman Magelang. Menurut penuturan Gus Ali Masyhar Demak, saat mondok di Kasingan beliau merupakan salah satu santri kesayangan Mbah Kholil dan menjadi qori' (pembaca/pengajar kitab) bersama menantu Mbah Kholil yakni KH. Abdullah Zaini pendiri Pondok Pesantren Al Fattah Demak.
- Pondok Pesantren di Cirebon Jawa Barat
- Ngaji tabarruk-an kepada Mbah Maksum, Mbah Kholil, dan Syekh Masduqi Lasem, Rembang.
- Alim
2. Ahli Silaturahim
Semasa hidupnya, KH. Abu Dzarr suka sekali bersilaturahim kepada saudara-saudaranya, masyayih atau guru-gurunya, dan para kiai atau ulama yang masih hidup pada masanya, seperti KH. Ahmad Abdul Hamid, KH. Ahmad Slamet Kendal, KH. Musthofa Pandes, KH. Nur Fathoni Kersan, KH. Anas Pamriyan, KH. Musyaffa' Kampir, dan beberapa kiai Kaliwungu.
Silaturrahim juga beliau lakukan pada guru dan ulama yang sudah meninggal dengan menghadiri peringatan haulnya. Diantaranya, beliau selalu menyempatkan hadir pada peringatan haul KH. Abdul Wahab Gubugsari Pegandon meskipun harus menempuh perjalanan menggunakan kereta api dari Brangsong ke Pegandon, dilanjut naik andong menuju Gubugsari. Peringatan haul Mbah KH. Hasan Asy'ari Poncol Salatiga dan Mbah KH. Kholil Rembang juga selalu beliau hadiri ditengah kesibukan mengajar para santri.
3. Sederhana dan Dermawan
Kesederhanaan KH. Abu Dzarr tampak dari kehidupannya sehari-hari. Meski tergolong hidup dalam kecukupan, selama hidupnya KH. Abu Dzarr hanya mempunyai 3 setel pakaian yang semuanya berwarna putih dan jubah untuk salat berjamaah di masjid. Saat bepergian, beliau sering memakai sandal bakiak dan bersarung, karena tidak mempunyai celana.
Sementara kedermawan beliau tampak terutama ketika bulan Ramadan. Beliau selalu menyediakan menu berbuka puasa untuk para santri yang ikut mengaji atau pasan hingga para tetangga. Beliau juga sangat peduli kepada fakir miskin yang ada di lingkungannya.
5. Istiqamah dan Ikhlas
Istiqamah dan ikhlas dalam beribadah dan mendidik para santri dan masyarakat menjadi prinsip hidup KH. Abu Dzarr. Beliau hampir tak pernah meninggalkan salat berjamaah di masjid, mengajar para santri, dan mengaji bersama warga.
Pada musim hujan, terkadang hanya beberapa santri yang ikut mengaji karena lebatnya hujan ditambah gelapnya malam karena belum ada listrik. Suatu ketika, istri beliau Hj. Mahmudah menyarankan untuk meliburkan ngaji karena kondisi beliau yang sedang tak enak badan. Beliaupun menjawab, “Aku ora lagi sakit, aku jamaah lan mulang ngaji ora kerana sapa-sapa. Umpama ora ana sing jamaah lan ngaji, malaikat-malaikat sing arep jama'ah lan melu ngaji".
5. Ahli Wira'i
Dalam kesehariannya, KH. Abu Dzarr juga terkenal sebagai ahli wira’i, yakni selalu menjauhi hal-hal yang syubhat dan haram. Kebiasaan itu terbawa hingga menjelang ajal beliau. Menurut penuturan keluarga, sebelum meninggal beliau sudah mempersiapkan kain kafan dari pakaian ihram saat beliau haji. Batu nisan juga sudah dipesan pada santrinya yaitu H. Asnawi Madugowong, Limpung, Batang berupa batu yang dipahat. Sementara papan untuk bendosa dari pohon duwet besar di depan rumahnya juga sudah disiapkan. Semua beliau persiapkan sendiri tanpa membelinya di toko, dengan alasan kekhawatiran beliau bila barang yang dibeli tercampur dengan barang haram atau syubhat yang bisa menjadi beban di alam kubur.
Sebelum meninggal beliau juga berpesan kepada istrinya agar setelah beliau meninggal tak di hauli dengan meminta sumbangan pada warga. Beliau khawatir orang yang memberi sumbangan ada yang tak ikhlas atau menjadi beban bagi yang tidak mampu. Beliau meminta haulnya hanya ingin diperingati dengan ziarah dan dibacakan Alquran.
6. Karomah
Karomah KH. Abu Dzarr sudah nampak saat beliau nyantri di Cirebon tahun 1930. Saat itu beliau benar-benar kehabisan bekal untuk makan dan biaya di pondok. Ketika beliau sedang berjalan di sawah, beliau melihat mobil yang melintas di jalan. Seketika timbul pikiran nakal untuk menjatuhkan mobil ke sawah dari jarak jauh dengan harapan penumpang atau pemilik mobil akan memberikan imbalan bila nanti beliau tolong.
Benar saja, mobil itu akhirnya terperosok ke sawah dan beliau segera menolong menariknya kembali ke jalan dengan imbalan upah dari pemilik mobil. Upah tersebut kemudian ia gunakan untuk makan dan memenuhi kebutuhan sehari-hari di pesantren.
Karomah beliau juga terbukti saat seorang pencuri masuk rumah di malam hari. Sepanjang malam pencuri itu hanya berputar-putar di dalam rumah karena tak melihat apapun kecuali tanah lapang. Setelah diamankan pencuri itupun disuruh pulang dengan diberi sejumlah uang.
Karomah lainnya dikisahkan oleh santri beliau, Ahmad Masyhuri. Suatu malam ada seorang santri yang hendak mencuri kelapa di depan rumah kiainya. Tak disangka tiba-tiba kiainya berada di tempat itu sambil berdeham. Spontan santri tersebut segera pergi dan tak jadi mencuri. Padahal saat itu kiainya tengah tidur di dalam rumah.
KH. Fadlol Ali Demak juga pernah menceritakan karomah KH. Abu Dzarr kepada putranya, Gus Ali Masyhar. Suatu saat di kampung KH. Abu Dzarr terjadi kebakaran rumah, beliau nekat masuk ke dalam rumah yang terbakar sambil berdoa. Akhirnya apipun padam dengan sendirinya sehingga kebakaran tak menjalar ke rumah sekitar.
7. Benda Pusaka
KH. Abu Dzarr termasuk ulama ahli tirakat dan suka menyimpan benda-benda pusaka terutama pada masa penjajahan, karena beliau juga termasuk tentara Hizbullah. Benda pusaka yang pernah disimpannya antara lain keris berkepala naga dan bermata intan, dan tongkat yang terbuat dari kayu dan rotan besar. Konon tongkat tersebut bisa berbobot 1 ton bila dipukulkan musuh dalam kondisi emosi.
Pusaka lainnya adalah sabuk atau ikat pinggang. Ikat pinggang ini pernah dipakai putranya, Anas saat menjaga tambak. Suatu hari ada pencuri ikan bandeng ditambaknya bernama HNW. Pencuri itupun ketahuan sehingga terjadilah perkelahian antara Anas dengan HNW di pematang tambak. Beberapa kali bacokan senjata tajam HNW ke tubuh Anas tidak mempan, sampai akhirnya HNW dapat dilumpuhkan dan pagi harinya diarak beramai-ramai oleh warga. Kejadian tersebut terjadi pada tahun 1970-an.
Kejadian serupa juga terjadi lagi pada Anas. Ketika menjaga tambak, ia dikeroyok 4 orang pencuri udang dan terjadilah duel 4 lawan 1. Anas tak mempan dibacok senjata tajam, spontan hal itu membuat para pencuri lari tunggang langgang. Saat Anas menceritakan kejadian itu pada ayahnya, beliau hanya senyum-senyum tak banyak berkomentar.
D. Santri KH. Abu Dzarr?
Perjuangan tanpa lelah dan keikhlasan KH.Abu Dzarr dalam mendidik para santri berbuah manis dengan lahirnya santri-santri yang menjadi ulama terkemuka, antara lain:
- KH. Kharisuddin, Pengasuh Pondok Pesantren Dawar, Dawar, Boyolali
- KH. Fadlol Ali Pengasuh Pondok Pesantren Al Ishlah Sempal Wadak, Bintoro, Demak
- KH. Abdul Mu'thi Wahidun Madiun, Jawa Timur
- Kiai Masruri Pengasuh Pondok Pesantren Sabilun Najah Ploso, Karang Tengah, Demak
- KH. Musthofa Yunus Al Hafidz Pengasuh Pondok Pesantren PPHQ Annur Pamriyan, Gemuh
- KH. Mastur, Magangan, Ngampel
- H. Sholihin, Anggota DPRD II Kabupaten Batang
- KH. Junaedi, Muballigh asal Turunrejo, Brangsong
KH. Abu Dzarr meninggal dunia pada hari Kamis kliwon pukul 23.30 tanggal 15 Dzulhijjah 1406 H/21 Agustus 1986 M dalam usia 83 tahun. Istri beliau Hj. Mahmudah meninggal dunia pada hari Sabtu pahing pukul 09.00 tanggal 22 Dzulhijjah 1421 H/17 Maret 2001 M. Keduanya dimakamkan berdampingan di pemakaman Dukuh Kedinding Desa Purwokerto Kecamatan Brangsong.
Penulis adalah putra KH. Abu Dzarr