Oleh: M. Umar Sa'id
Adalah Syeikh Nawawi ulama asli Jawa yang alim allamah. Nama lengkapnya Muhammad Nawawi bin Umar. Keulamaan dan kealimanya sangat masyhur di Indonesia hingga mendunia. Namun demikian, ia sangat tawadhu dan khumul (tidak ingin dikenal).
Al-kisah, suatu hari Syeikh Nawawi berkunjung ke Mesir atas undangan para ulama Al Azhar untuk mempresentasikan kitab karyanya "Murohu Labid li Kasyf Al-Qur'an Al Majid" (dikenal dengan sebutan kitab tafsir Al-Munir).
Keagungan dan kemuliaan Syeikh Nawawi sudah dikenal lama sejak masa Syeikh Al-Azhar Imam Ibrahim Al-Bajuri (1267 H). Namun ketika Syeikh Nawawi tiba di Mesir bersama dua santrinya yang terkenal sebagai ulama Banten, yaitu Kiai Arsyad yang berperawakan tinggi (jangkung) dan Kiai Marzuqi yang gagah, ternyata kedatangan Syeikh Nawawi di Mesir banyak ulama Mesir tidak mengenali sosoknya. Yang terbayang dalam benak mereka ia berparas tampan, gagah dan berwibawa. Pantas saja para ulama Mesir tidak menghiraukan dan tidak menyapa Syekh Nawawi. Yang dihormati dan dipersilakan sebagai tamu agung justru kedua muridnya yang tampan dan gagah seperti orang Arab itu.
Setelah Syeikh Nawawi dipersilakan maju di atas mimbar, betapa terkejut dan malunya para ulama Mesir. Ternyata yang maju orang berperawakan kecil, kurus, berpakaian sangat sederhana dan berpeci. Masya Allah... Astaghfirullah... begitu hati mereka bergumam.
Al-Hikmah
Berdasarkan kisah di atas dapat diambil ibrah bahwa untuk dikenal sebagai orang alim allamah tidak harus menonjolkan diri dan tidak perlu berpakaian mewah, bersurban, memakai gamis bak orang Arab dan tidak perlu memaksakan diri agar dihormati, dikedepankan apalagi disanjung-sanjung. Kealiman dan kesalihan seseorang dikenal karena ilmu dan amaliah kesehariannya, yaitu ahlak yang mulia.
(Dikutip dari Kitab Tuhfat al-Qoshi wa al-Dani, Kiai Zulfa Mustofa, hal.23-24).
Penulis adalah Anggota Syuriah MWC NU Patebon