Belajar dari Kasus Kanti Utami, Dua Tangan Seribu Beban?

...

Oleh: Laili Mawadah Kasus ibu muda yang membunuh anaknya ramai jadi pemberitaan media. Kanti Utami, warga Desa Tonjong Kabupaten Brebes tega menggorok ketiga anaknya, Minggu (20/3) sekitar pukul 04.00 WIB. Kanti melakukannya bukan tanpa sebab. Ia beralasan bahwa anak-anaknya kelak harus hidup bahagia, tak menderita seperti ibunya. Ia membunuh anak-anaknya agar berhenti hidup susah. Meskipun ia berdalih demi membahagiakan anak-anaknya, dari sudut manapun cara yang ia lakukan tidak bisa ditolerir. Aksi yang dilakukannya sangat fatal. Anak kedua meninggal di tempat, anak pertama dan ketiga masih menjalani perawatan intensif di RSUD Prof dr Margono Soekarjo, Purwokerto, Kabupaten Banyumas. Sekilas kasat mata seperti tak ada masalah, tidak ada beban yang berat pada ibu muda itu. Kita akan berpikir demikian tanpa menyelami lebih dalam permasalahan apa yang sedang ia alami sehingga ia tega membunuh ketiga anaknya. Sebagai ibu muda yang sejatinya harus fokus membesarkan anak-anak, ia harus membagi pikiran dan tenaganya untuk merawat anak-anak, mencari nafkah, memikirkan kebutuhan rumah tangga dan lain-lain. Tak dipungkiri itulah hebatnya perempuan yang hanya memiliki dua tangan tapi mampu menjalankan seribu peran. Kondisi yang dialami Kanti sungguh menyesakkan dada. Sebagai sesama perempuan, kita sangat berempati dengan apa yang dialaminya. Ia yang seharusnya menikmati separuh hidupnya dalam kenyamanan di pundak suami, tapi harus merelakan pundaknya menjadi penyangga biduk rumah tangga. Tulang rusuk yang disematkan untuk para perempuan ternyata harus beralih fungsi menjadi tulang punggung yang harus memikul beban yang sangat berat. Kita berharap jangan sampai ada Kanti-Kanti lain lagi. Terlepas dari kasus Kanti Utami, sudah saatnya para suami hadir dalam keluh kesah yang dialami istri. Keluarga, tetangga, saudara harus mendukung dan mau berbagi. Support system yang baik akan mencetak sikap dan kepribadian yang baik pula. Ini mungkin sangat tidak fair bagi suami ketika disela-sela kesibukannya harus menerima curhatan yang tak berujung dari istrinya. Tapi ini obat sangat mujarab bagi seorang istri yang hanya ingin didengarkan keluh kesahnya tatkala mengurus rumah tangga. Belajar dari kasus Kanti, para perempuan seharusnya mau bersosialisasi dengan baik. Bukankah lingkungan yang baik akan memberikan impact yang baik pula.  Lingkungan yang baik itu bisa kita dapat dari mengikuti pengajian di sekitar kita, berorganisasi seperti mengikuti kegiatan Fatayat, Muslimat, PKK dan lain-lain. Minimal dengan mengikuti kegiatan tersebut, kita akan terhibur bahwa masih banyak teman kita yang belum seberuntung kita. Selain itu, kita akan mendapatkan ilmu dan pengetahuan dari ahlinya. Entah dari ustadz atau ustadzah, nara sumber parenting dan lainnya. Betapa mulia derajat perempuan di mata Allah. Betapa hebat maqom perempuan ketika bisa menjalankan tugas dan fungsinya dengan ikhlas. Tapi tidak semua perempuan bisa memahami manfaat dan berkahnya. Misal, ia beranggapan ikut pengajian atau organisasi hanya akan dibebani iuran, daripada ikut pengajian lebih baik memanfaatkan waktu untuk bekerja dan mencari uang, dan segudang alibi lainnya. Perlu kita ketahui, bukankah sebagai manusia sosial memang kita harus mampu dan mau bersosialisasi dengan lainnya. Sebagai seorang muslim kita juga berkewajiban menuntut ilmu hingga akhir hayat. Jangan pernah mempermasalahkan berapa rupiah yang harus kita keluarkan, karena itu memang sudah ada jatah dari Allah SWT Sang Pemberi Rezeki. Disinilah agama hadir, ketika kita dalam masalah yang tak ada ujung pangkalnya, kita harus selalu mendekatkan diri pada Sang Pencipta. Bukankah Allah Maha Kaya dengan semua kesempurnaan yang dimilikinya?

Penulis adalah Ketua PAC Fatayat NU Pegandon dan Pengajar di SMP Al Musyaffa' Kendal

Informasi Lainnya

Banser dan Natal: Khidmah Kemanusiaan Tanpa...

Oleh: Anis Hidayati Barisan Ansor Serbaguna (Banser) merupakan lembaga semi-otonom di bawah naungan Gerakan Pemuda (GP) Ansor, badan otonom...

Bola Liar Konflik PBNU dan Harapan Nahdliyyin...

Oleh: M. Irhamni Sabil, S.Sy., MH Sudah hampir satu bulan konflik yang menerpa jajaran Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) bergulir di ruang...

Seni Merawat Khidmah: Ikhtiar Menghidupkan...

Oleh: M. Adib Shofwan Khidmah di Nahdlatul Ulama bukan sekadar soal niat baik, tetapi juga membutuhkan seni, gagasan kreatif, dan strategi yang...

Gus Dur, sudah Lama Jadi Pahlawan Rakyat

Desember identik dengan bulan Gus Dur. Khaul ke-16 tahun ini digelar di mana-mana .Majalah AULA edisi bulan Desember tak absen mengangkat tema...

Advertisement

Press ESC to close