Oleh: Fahroji Ketika Pak Subarie Syam, mantan Ketua Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kendal singgah di stan bazar buku MF Agency pada helatan puncak Harlah NU ke-99 tingkat Kabupaten Kendal di Stadion Utama Kebondalem Kendal, Jumat (4/3), disela-sela perbincangan santai saya mencoba memancing pertanyaan, "Pripun Pak Bari, niki menjelang Konfercab NU, nopo mboten nderek meramaikan kandidat ketua NU?" Sebagai seorang yang pernah jadi jurnalis, nampaknya beliau tahu bahwa pertanyaan saya sekedar mancing-mancing dalam rangka menghangatkan suasana Konfercab NU Kendal. Dengan senyuman khasnya beliau menjawab, "Ah, kayak tidak ada kerjaan lain saja." Untuk saat ini, dari sisi usia beliau memang benar-benar tidak tertarik dengan urusan administrasi organisasi. Namun demikian, pada Konfercab-Konfercab NU sebelumnya sebagai bentuk tanggung jawab kader Ansor, Pak Subari pernah tercatat ikut meramaikan kandidat ketua PCNU Kendal. Selain Pak Bari, seniornya almarhum Pak Abdul Wahab juga pernah melakukan hal yang sama. Namun keduanya nampaknya tidak berkesempatan menduduki jabatan ketua PCNU Kendal. Kegagalan kedua mantan ketua PC GP Ansor Kendal itu kemudian menjadi inspirasi judul yang saya buat di atas. Dilihat dari struktur perangkat organisasi NU, GP Ansor bisa dianalogikan sebagai "Anak Lanang Mbarep" yang dalam banyak hal jika bapaknya berhalangan sering menggantikan perannya. Artinya, Ansor sebenarnya putra mahkota yang selangkah lagi dipersiapkan untuk suksesi kepemimpinan NU. Kader Ansor juga punya kelebihan mampu bergerak dalam lintas sektoral dan dilatih menggerakan semua lini organisasi semi otonomnya, seperti Banser, Rijalul Ansor dan lembaga lainnya. Hal ini berbeda dengan kader dari lembaga NU yang notabene spesifik pada leading sektor bidang garap masing-masing. Fenomena di atas nampaknya tidak hanya terjadi di tingkat Cabang, di tingkat PBNU dan Wilayah juga terjadi. Almarhum Slamet Effendi Yusuf, mantan Ketum PP GP Ansor sampai akhir hayatnya juga tidak berkesempatan menjabat Ketum PBNU. Yuniornya, Gus Ipul pada kepengurusan PBNU sekarang baru bisa menjadi orang kedua sebagai Sekjen dan disusul Nusron Wahid sebagai Waketum PBNU. Demikian juga di tingkat Wilayah Jawa Tengah, ada nama Ahmad Ni'am Sukri, Mufid Rohmat, Jabir Al Faruq dan Ihwanudin yang semuanya mantan ketua PW GP Ansor Jateng sampai saat ini juga belum mampu masuk ring NU Jateng 1. Berbeda dengan tingkat PBNU, PW maupun PC, untuk tingkat MWC NU beberapa mantan ketua PAC GP Ansor di Kendal punya kesempatan menjadi ketua MWC NU diantaranya Moh Izzudin Kota Kendal, Moh. Abas Kaliwungu, Masturi Patebon, Akhmad Khoiron Kangkung dan saya sendiri Sukorejo. Lantas bagaimana dengan partisipasi kader Ansor dalam Konfercab NU Kendal di akhir 2022 nanti?. Jika pak Subarie sudah memberi sinyal ketidaktertarikannya, bagaimana dengan kader di bawahnya?. Masih ada beberapa mantan ketua PC GP Ansor Kendal secara urut bisa disebut Sapuan Muhammad, Muhammad Sukron Samsul Hadi, Wahidin Said, dan Muhammad Ulil Amri. Namun dilihat dari konstalasi bursa kandidat ketua PCNU Kendalsaat ini, nama-nama mantan ketua PC GP Ansor itu masih belum banyak diperbincangkan. Jika demikian keadaanya, judul di atas memang benar adanya. Kapan akan berakhir?, Wallahu'alam bishowab.
Informasi Lainnya
Banser dan Natal: Khidmah Kemanusiaan Tanpa...
Oleh: Anis Hidayati Barisan Ansor Serbaguna (Banser) merupakan lembaga semi-otonom di bawah naungan Gerakan Pemuda (GP) Ansor, badan otonom...
Bola Liar Konflik PBNU dan Harapan Nahdliyyin...
Oleh: M. Irhamni Sabil, S.Sy., MH Sudah hampir satu bulan konflik yang menerpa jajaran Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) bergulir di ruang...
Seni Merawat Khidmah: Ikhtiar Menghidupkan...
Oleh: M. Adib Shofwan Khidmah di Nahdlatul Ulama bukan sekadar soal niat baik, tetapi juga membutuhkan seni, gagasan kreatif, dan strategi yang...
Gus Dur, sudah Lama Jadi Pahlawan Rakyat
Desember identik dengan bulan Gus Dur. Khaul ke-16 tahun ini digelar di mana-mana .Majalah AULA edisi bulan Desember tak absen mengangkat tema...
