Subarie Syam, Tokoh Dibalik Bangkitnya Ansor Sukorejo

...

Oleh: Fahroji Bagi Ansor dan Banser Sukorejo nama Subarie Syam, mantan Ketua Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kendal era 90-an punya peran sejarah dalam menghidupkan organisasi kepemudaan sayap NU di Kecamatan Sukorejo. Disamping ada nama lain, Sapuan Muhammad yang menjadi penerus Ketua PC GP Ansor Kendal kala itu. Kedua nama tersebut menurut hemat saya punya perhatian ektra terhadap perjalan GP Ansor Sukorejo. Tentu saja Pak Bari maupun Pak Sapuan, demikian saya memanggil, tidak dalam konteks mengistimewakan PAC Ansor Sukorejo. Bagi keduanya, kalau pembacaan saya tidak salah menghidupkan Ansor Sukorejo diharapkan akan berdampak terhadap dinamika di PAC Ansor di kecamatan sekitarnya seperti Pageruyung, Patean maupun Plantungan. Jumat (4/3) sore, Pak Subarie datang ke Stadion Kebondalem Kendal untuk menghadiri undangan kehormatan Apel 2000 Banser dalam rangkaian peringatan hari lahir (Harlah) ke-99 NU Kabupaten Kendal. Sambil menunggu acara dimulai, pak Bari sempat singgah di stan bazar MF Agency yang menjual buku bernapas NU pada gelaran puncak Harlah NU ke-99. Kunjungan Pak Bari menjadi obrolan yang menarik karena pada waktu bersamaan juga ada wakil sekretaris PC NU Kendal, Nur Wahib dan Kang Asikin. Melihat Pak Bari mengenakan seragam Ansor dan bercerita kegiatan masa lalu Ansor seakan mengingatkan saya bagaimana ikhtiarnya menghidupkan Ansor Sukorejo yang menjadi tanggung jawabnya selaku ketua PC GP Ansor Kendal. Tahun 1997 PC Ansor Kendal mengundang para aktifis muda NU Sukorejo untuk silaturahmi membicarakan nasib Ansor Sukorejo yang sedang vakum. Saya yang sedang free kegiatan selepas menjabat ketua PAC IPNU Sukorejo 1993-1995 diminta untuk hadir dalam silaturahmi tersebut oleh Sahabat Turyono. Dalam pengamatan saya saat menjadi Ketua PAC IPNU, personil Ansor Sukorejo memang masih bisa dihitung dengan jari. Ada Pak Rochison yang menjabat ketua PAC, Kang Turyono sendiri, almarhum Kuat Qulma'fi yang menjabat Kasatkoryon Banser tapi tidak punya pasukan. Nampaknya pergantian Pengurus PAC Ansor Sukorejo tidak berjalan mulus. Di bawah kepemimpinan almarhum Nastain (Damarjati), PAC Ansor juga tidak beranjak dari titik nadir. "Acara silaturrahim malam ini kita ubah menjadi Konferancab luar biasa saja. Karena saya yakin jika pertemuan malam hari ini tidak menghasilkan keputusan apa-apa sangat sulit untuk mengumpulkan Ansor lagi," kata Pak Bari pada silaturahmi di Pondok Pesantren Jam'iyatul Mukimin Kauman Sukorejo. Nampaknya, baik Pak Subari maupun Pak Sapuan dan almarhum Pak Nashoha Sodiq selaku pengurus PC GP Ansor sudah menyiasati demikian. Sebab dalam pemikirannya, jika diberi label konferensi dikuatirkan tidak ada yang mau jadi ketua PAC. Silaturahmi dalam bulan Syawal yang berubah menjadi Konferancab luar biasa itu akhirnya memutuskan Lik Turyono, demikian saya memanggil satu-satunya pengurus Ansor yang tersisa untuk menjadi ketua PAC GP Ansor Sukorejo 1997-2000, saya sebagai Sekretaris dan Suharyana sebagai bendahara. PAC Ansor Sukorejo periode 1997-2000 mulai menggeliat dengan masuknya para mantan aktifis IPNU periode pertama era Ahmad Jupri dan periode angkatan saya. Ketika PC GP Ansor Kendal di bawah kepemimpinan Pak Sapuan, beliau menggelar kegiatan Diklatsar Banser Kendal ditempatkan di Selokaton Sukorejo. Isu dukun santet yang merebak diawal orde reformasi telah mendorong banyak pemuda NU ikut Diklatsar Banser. Sukorejo sebagai tuan rumah tentu banyak peserta yang ikut Diklatsar. Sejak itu juga Banser Sukorejo hidup di bawah komandan Satkoryon Subandrio. Tahun 2000 PAC GP Ansor Sukorejo baru bisa mengadakan Konferensi periodik yang normal sesuai ketentuan AD/ART di MTs NU 13 Arrahmat Sukorejo. Pada penjaringan calon ketua PAC Ansor saya mendapat dukungan suara terbanyak, namun kenudian memilih mundur karena merasa belum siap dan ingin istirahat setelah menjabat sekretaris mendampingi Sahabat Turyono. Kepemimpinan Ansor kemudian dipegang sahabat Nurudin. Baru pada Konferancab Ansor 2003 saya tidak bisa mengelak amanat karena saat itu sudah tidak berstatus "jomblo". Konferancab Ansor Sukorejo 2000 saya memang mundur dari pencalonan dengan alasan belum menikah yang sebenarnya tidak bisa diterima oleh peserta, namun saya tetap ngotot tidak mau. Dalam pandangan saya masa-masa Ansor memang masa sulit untuk sekedar kumpul waktu itu. Anggotanya rata-rata pengantin baru, pengagguran dan hidupnya menumpang orang tua atau mertua. Karena belum mengalami masa itu, saya merasa belum punya formula yang cocok untuk kegiatan Ansor sehingga memilih mundur. Pasca kepengurusan saya 2003-2006, kepengurusan PAC Ansor Sukorejo relatif dipegang para alumni IPNU berikutnya yang tentu saja sesuai dengan jenjang pengkaderan yang diharapkan. Keberhasilan Pak Subarie menghidupkan Ansor Sukorejo kala itu nampaknya terus berproses hingga eksistensi Ansor Sukorejo saat ini. Keprihatinan, kepedulian dan keikhlasan beliau dalam upaya menghidupkan Ansor sukorejo kala itu bagi saya justru semakin mengingat dan hormat pada beliau selaku senior saat ada kesempatan bertemu seperti kesempatan sore hari itu.

Penulis adalah wakil ketua PC GP Ansor Kendal periode 2007-2011

Informasi Lainnya

Banser dan Natal: Khidmah Kemanusiaan Tanpa...

Oleh: Anis Hidayati Barisan Ansor Serbaguna (Banser) merupakan lembaga semi-otonom di bawah naungan Gerakan Pemuda (GP) Ansor, badan otonom...

Bola Liar Konflik PBNU dan Harapan Nahdliyyin...

Oleh: M. Irhamni Sabil, S.Sy., MH Sudah hampir satu bulan konflik yang menerpa jajaran Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) bergulir di ruang...

Seni Merawat Khidmah: Ikhtiar Menghidupkan...

Oleh: M. Adib Shofwan Khidmah di Nahdlatul Ulama bukan sekadar soal niat baik, tetapi juga membutuhkan seni, gagasan kreatif, dan strategi yang...

Gus Dur, sudah Lama Jadi Pahlawan Rakyat

Desember identik dengan bulan Gus Dur. Khaul ke-16 tahun ini digelar di mana-mana .Majalah AULA edisi bulan Desember tak absen mengangkat tema...

Advertisement

Press ESC to close