KH Abdurrahman Husain dan Pondok Pesantren Al Hidayah Kendal

...

Oleh: Nunuk Sarah Zenubia KH Abdurrahman Husain Al Hafidz lahir di Kendal tanggal 13 Desember 1890 dari ayah seorang ulama ahli tarekat KH. Chusen dan ibu Zaenab. Kedua orang tua beliau adalah pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Al Hidayah Ngilir Kendal yang kemudian pindah ke Pekauman Kendal. Pondok Pesantren Al Hidayah Ngilir Kendal berdiri sejak tahun 1350. Di samping menjadi pusat pendidikan keagamaan bagi para santri yang berasal dari pelosok Jawa, pada masa penjajahan Belanda dan pendudukan Jepang, pondok pesantren tersebut juga menjadi basis para pejuang Hizbullah dan Sabilillah mengatur strategi dan konsentrasi melawan penjajah. Pondok pesantren asuhan KH. Chusen menjadi simbol persatuan dan kesatuan bangsa, karena mempelopori integrasi antara orang Indonesia yakni suku Jawa dengan orang-orang keturunan Cina. Di pondok pesantren ini orang-orang Cina yang memeluk agama Islam dikhitankan. Selain belajar ilmu agama, para santri juga belajar olah raga dan kesenian tradisional pencak silat. Bahkan di pondok pesantren inilah Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ) pertama kali diselenggarakan. Hampir semua pengurus NU tahun 1950 pernah mondok di pesantren ini untuk mengenyam pendidikan bela negara dan bela diri melalui penggemblengan kekebalan tubuh sebelum peristiwa G30S PKI. Bahkan tokoh ulama Kendal, KH Makmun Amin menceritakan pada tahun 1942 Pondok Pesantren Al Hidayah pernah menjadi tempat penyelenggaraan Konferensi NU yang dihadiri oleh tokoh pendiri NU KH Wahab Hasbullah dari Jombang. Saat ia menjabat Rois Syuriah PC NU Kendal bersama Kiai Mohammad sebagai Tanfidziyahnya, rapat dan kegiatan penting lainnya sering dilakukan di pondok pesantren yang lokasinya cukup luas itu. Sebagaimana ayahnya, KH Abdurrahman Husain juga terkenal sebagai ulama ahli tarekat dan tasawuf. Beliau juga mengembangan seni baca Alquran di pondok pesantren peninggalan ayahnya. Para santri di pondok ini umumnya adalah santri yang sudah berpengalaman mondok di pesantren lain, sehingga di Pondok Pesantren Al Hidayah mereka mengaji kitab tingkat lanjutan seperti Ihya Ulumuddin, Bukhari Muslim, Iqna’, Fathul Wahhab, dan lain-lain. Menurut Kepala Makam Kaliwungu, KH Abu Khoir silsilah KH Abdurahman Husain sampai kepada Simbah Wali Syuja yang dimakamkan di belakang Masjid Agung Kendal. KH Abdurrahman Husain menikah dengan Maesah dan dikaruniai 4 orang anak yaitu Mohammad (tinggal di Makkah), Yahya, Muslim dan Siti Salamah. Setelah Maesah berpulang ke rahmatullah, beliau kemudian menikah dengan Maemunah  dan dikaruniai seorang anak, Abdul Karim Husain. Riwayat pendidikan KH Abdurrahman Husain pernah nyantri di Pondok Pesantren Krapyak, Yogyakarta kemudian melanjutkan belajar tafsir Alquran di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang. Setelah selesai mengenyam pendidikan di pesantren, beliau kemudian melanjutkan pengabdian ayahnya mengasuh Pondok Pesantren Al Hidayah Ngilir. Selain mengasuh pesantren, KH Abdurrahman Husain juga memiliki kiprah yang besar untuk Nahdlatul Ulama dan masyarakat Kendal. Antara lain, pernah menjabat Rois Syuriah Pengurus Cabang (PC) NU Kabupaten Kendal pada tahun 1950-an, dan menjadi Naib (penghulu) merangkap Penyuluh Agama Kantor Urusan Agama (KUA) Kendal. KH Abdurrahman Husain juga merupakan pendiri dan Ketua Jamiyatul Qurra wal Khuffadz Jawa Tengah, pendiri dan Ketua Thariqat Qadariyah Naqsabaniyah Pusat. Di usianya yang semakin tua, beliau tetap menjalankan tugas sebagai imam salat Subuh dan Isya di Masjid Agung Kendal. Pondok Pesantren Al Hidayah kemudian pindah ke Pekauman Kendal mengikuti kepindahan beliau ke Pekauman agar kegiatan belajar para santri tak terputus. Setelah KH Abrurahman Husain wafat pada tanggal 9 Februari 1970, kegiatan pembelajaran di pesantren dilanjutkan oleh putranya Abdul Karim Husain hingga beliau wafat saat menjalankan tugas negara sebagai Tim Pembimbing Haji Indonesia (TPHI) pada tahun 1990 dalam musibah di terowongan Harratul Lisan, Mina. Salah satu wejangan KH Abdurahman Husain yang sering disampaikan kepada santrinya adalah, ”Ayo podo ngaji Qur’an lan diwoco artine,” memiliki makna yang dalam karena Alquran adalah kalam Allah dan pedoman hidup bagi orang Islam di segala zaman.

Penulis adalah cucu KH Abduurahman Husain. Ditulis dalam rangka Hari Lahir Nahdlatul Ulama ke-99 Tahun 1443/2022.

Sumber: Tulisan Sejarah Pondok Ngilir oleh Abdul Karim Husain, 1990 dan wawancara dengan KH. Makmun Amin

Informasi Lainnya

Banser dan Natal: Khidmah Kemanusiaan Tanpa...

Oleh: Anis Hidayati Barisan Ansor Serbaguna (Banser) merupakan lembaga semi-otonom di bawah naungan Gerakan Pemuda (GP) Ansor, badan otonom...

Bola Liar Konflik PBNU dan Harapan Nahdliyyin...

Oleh: M. Irhamni Sabil, S.Sy., MH Sudah hampir satu bulan konflik yang menerpa jajaran Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) bergulir di ruang...

Seni Merawat Khidmah: Ikhtiar Menghidupkan...

Oleh: M. Adib Shofwan Khidmah di Nahdlatul Ulama bukan sekadar soal niat baik, tetapi juga membutuhkan seni, gagasan kreatif, dan strategi yang...

Gus Dur, sudah Lama Jadi Pahlawan Rakyat

Desember identik dengan bulan Gus Dur. Khaul ke-16 tahun ini digelar di mana-mana .Majalah AULA edisi bulan Desember tak absen mengangkat tema...

Advertisement

Press ESC to close