Mengenal Rois Syuriah NU Kabupaten Kendal, KH Muhsin Yunus Al Hafidz Pegandon

...

Oleh: Moh Fatkhurahman Sosok KH Muhsin Yunus BA AlHafidz tentu tak asing di kalangan nahdliyin terlebih di sekitar Kecamatan Pegandon karena beliau bermukim di Desa Penanggulan Kecamatan Pegandon. Lembaga pendidikan yang didirikan beliau hingga kini masih banyak diminati santri bukan hanya dari Kabupaten Kendal saja namun juga luar Kabupaten Kendal. Paket pendidikan agama dan umum sudah lama beliau rintis melalui Pondok Pesantren Azzahro, SMP Azzahro, dan SMK Azzahro yang lokasinya saling berdekatan. Lahir dari pasangan Kiai Yunus dan Ibu Aminah di Kota Wali Demak pada tanggal 16 Juli 1943, KH Muhsin Yunus tumbuh menjadi santri yang mengenyam pendidikan agama dan umum secara bersamaan. Hal inilah yang menginspirasi beliau untuk mendirikan lembaga pendidikan serupa di lingkungannya. Pendidikan umum KH Muhsin Yunus dimulai dari SR Karangdowo Wonosalam Demak. Setelah lulus kemudian melanjutkan ke MTs Al Ma’ruf Grobogan Purwodadi disambung ke MA Al Ma’ruf Grobogan Purwodadi sekalian nyantri di Pesantren Al Ma’ruf di lokasi yang sama. Jenjang pendidikan sarjana beliau tempuh di UNU Solo sekaligus nyantri di Pondok Pesantren Al Muayyad Mangkuyudan Solo. Karena ketertarikannya pada ilmu-ilmu Alquran dan menghafal Alquran, KH Muhsin Yunus kemudian memperdalam ilmu Alquran ke Pondok Pesantren Yanbuul Qur’an Kudus. Kiprah KH Muhsin Yunus di kalangan Nahdlatul Ulama Kabupaten Kendal tak diragukan lagi. Terlebih saat menjadi Rois Syuriyah PCNU Kabupaten Kendal setelah periode KH Nur Kholis Ali dan sebelum periode KH Izzudin Abdussalam. Tokoh berpengaruh yang menikah dengan Nyai Hajjah Musyarofah al Hafidhoh ini dikaruniai lima putra dan putri, yaitu KH Ahmad Ulin Nuha, Hj Innarotut Darojad, Afidatul Budur, Aniq Jihan Furaida, dan H Ulil Albab. KH Muhsin Yunus menghembuskan nafas terakhirnya pada tanggal 17 Juni 2008 dan dimakamkan di Pemakaman Penanggulan Pegandon. Meski beliau telah tiada namun lembaga pendidikan yang ditinggalkannya terus mencetak santri dan hafiz/hafizah setiap tahun di bawah asuhan putra-putrinya. Ada satu kata mutiara beliau yang terasa pas di segala zaman, “arep dadi opo wae anak-anakmu ojo lali dipondokke....”. Pesan ini menyiratkan perlunya pondasi ilmu agama dan menggembleng anak-anak kita dengan tradisi beragama yang benar.

Ditulis dalam rangka Hari Lahir Nahdlatul Ulama ke-99 Tahun 1443/2022 oleh Moh Fatkhurahman, Sekretaris NU Kendal Online / NUKO Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama Kabupaten Kendal.

Informasi Lainnya

Banser dan Natal: Khidmah Kemanusiaan Tanpa...

Oleh: Anis Hidayati Barisan Ansor Serbaguna (Banser) merupakan lembaga semi-otonom di bawah naungan Gerakan Pemuda (GP) Ansor, badan otonom...

Bola Liar Konflik PBNU dan Harapan Nahdliyyin...

Oleh: M. Irhamni Sabil, S.Sy., MH Sudah hampir satu bulan konflik yang menerpa jajaran Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) bergulir di ruang...

Seni Merawat Khidmah: Ikhtiar Menghidupkan...

Oleh: M. Adib Shofwan Khidmah di Nahdlatul Ulama bukan sekadar soal niat baik, tetapi juga membutuhkan seni, gagasan kreatif, dan strategi yang...

Gus Dur, sudah Lama Jadi Pahlawan Rakyat

Desember identik dengan bulan Gus Dur. Khaul ke-16 tahun ini digelar di mana-mana .Majalah AULA edisi bulan Desember tak absen mengangkat tema...

Advertisement

Press ESC to close