KH. Imron Rosidi Pegandon, Khidmah Tanpa Lelah

...

Oleh: Laili Mawadah Kabupaten Kendal merupakan salah satu daerah di wilayah Provinsi Jawa Tengah yang mayoritas warganya adalah nahdliyin (sebutan warga Nahdlatul Ulama). Ajaran NU yang fleksibel dan luwes mampu diterima oleh masyarakat di Indonesia yang memiliki karakter ramah dan toleran. Hal ini tak lepas dari pengaruh dan campur tangan dari para punggawa NU mulai dari tingkat pusat sampai tingkat ranting (baca: desa) yang mengedepankan ahlakul karimah dalam menyampaikan ajaran-ajaran NU. Tidak sedikit kita jumpai tokoh-tokoh NU baik jajaran Tanfidziyah maupun Syuriah berasal dari keluarga religius dan sederhana yang berdomisili di desa, salah satunya adalah KH. Imron Rosidi. Mantan Syuriah NU Kabupaten Kendal ini berasal dari Pucangrejo, desa kecil yang terletak di perbatasan Kecamatan Pegandon dan Ngampel. Beliau menjabat sebagai Syuariah NU Kabupaten Kendal selama 2 periode yaitu pada tahun 1982-1992. KH. Imron Rosidi lahir pada 17 Agustus 1926 dari ayah KH. Abdur Rosyid dan ibu Nyai Hj. Azizah. Dari garis ibu, beliau merupakan keponakan dari KH. Abdul Wahab Gubugsari mertua dari Kiai Musyaffa Kampir. Terlahir dari keluarga biasa dan sederhana membentuk kepribadian beliau yang sangat sederhana, religius, lembah manah, tawadu’ dan tidak suka riya’. Pada tahun 1950-an  KH. Imron Rosidi menikah dengan Nyai Hj. Munawaroh. Dari pernikahan itu, keduanya dikaruniai sembilan putra dan putri, yaitu Istianah, Fathoniyah, Imronah, Umrotun, Abdul Wahid Solihin, Solkan, Nuriyah, Moh Adib dan Siti Anisah. Putra-putri beliau berhasil menjadi tokoh dan aktivis NU, diantaranya Fathoniyah pengurus Muslimat NU Ranting Dawungsari dan suaminya merupakan Syuriah NU Kecamatan Pegandon, dan Moh Adib aktivis NU Ranting Pucangrejo yang saat ini menjadi pengajar di Yayasan Al Musyaffa Kampir. Sejak kecil KH. Imron Rosidi menimba ilmu agama pada KH. Abdul Wahab Gubugsari selama kurang lebih 25 tahun. Berbekal keuletan dalam belajar dan kesungguhan menjalankan tirakat, akhirnya beliau dibaiat wirid Thoriqoh Syathoriyah oleh KH. Abdul Wahab. Beliaupun kemudian mendapat izin mursyid dari Kiai Musyaffa. Thoriqoh Syathoriyah merupakan ajaran Syathoriyah yang dikembangkan oleh Syekh Abdullah Assyattariy. Ajarannya antara lain untuk mencapai makrifat dengan memformulasikan Masyrab Sathoriyah yang terdiri dari praktik zikir dan kontemplasi yang harus berdasar pada baiat dan petunjuk sorang guru Mursyid. Kecintaan beliau pada NU tampak pada kegigihannya dalam mengenalkan ajaran thoriqoh kepada masyarakat di Kabupaten Kendal. Perjuangan lahir dan batin dalam mendukung NU di Kabupaten Kendal tak diragukan lagi. Usaha lahir beliau tunjukkan dengan keaktifannya terjun langsung sebagai pengurus NU mulai tingkat desa, kecamatan hingga kabupaten. Sementara usaha batin beliau tunjukan pada masa orde baru, masa dimana perjuangan NU tidaklah mudah. Berbagai praktik konspirasi dibenturkan pada NU agar organisasi ini tidak bisa berkembang di Indonesia. Segala upaya dilakukan para tokoh NU agar bendera NU tetap berkibar pada masa itu. Demikian halnya dengan usaha KH. Imron Rosidi melalui amalan-amalan dan wirid-wirid Thoriqoh Sathoriyah-nya. Selain aktif di NU, beliau juga aktif menyebarkan ajaran agama Islam di lingkungan tempat tinggalnya. Berdirinya madrasah dan Taman Pendidikan Alquran (TPQ) di depan kediaman beliau menjadi bukti fisik perhatian beliau pada pendidikan keagamaan di lingkungannya. Bukan itu saja, beliau juga merintis majelis taklim untuk warga Pucangrejo dan sekitarnya. Saat ini majelis taklim tersebut diteruskan oleh putranya, Moh Adib. Kesederhanaan dan karismatik KH. Imron Rosidi menjadikan beliau sosok yang disegani di wilayahnya. Salah satu putra beliau, Moh Adib menuturkan bahwa selama hidupnya, KH. Imron Rosidi selalu menunjukkan sifat yang sangat sabar dalam mendidik putra-putrinya. Jarang sekali beliau menunjukkan sikap marah meskipun putra-putrinya melakukan kesalahan. Salah satu pesan beliau kepada putra-putrinya yang selalu diingat adalah, “Tirakato seng kuat, ikhtiyaro seng mempeng. Insyaallah oleh hasil seng maksimal”. Demikian kisah perjuangan KH. Imron Rosidi dalam mengibarkan bendera NU di Kabupaten Kendal. Semoga semangat beliau dalam memperjuangkan NU  menjadi motivasi untuk terus berkhidmah untuk NU.

Penulis adalah Ketua Fatayat NU Kecamatan Pegandon

Informasi Lainnya

Banser dan Natal: Khidmah Kemanusiaan Tanpa...

Oleh: Anis Hidayati Barisan Ansor Serbaguna (Banser) merupakan lembaga semi-otonom di bawah naungan Gerakan Pemuda (GP) Ansor, badan otonom...

Bola Liar Konflik PBNU dan Harapan Nahdliyyin...

Oleh: M. Irhamni Sabil, S.Sy., MH Sudah hampir satu bulan konflik yang menerpa jajaran Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) bergulir di ruang...

Seni Merawat Khidmah: Ikhtiar Menghidupkan...

Oleh: M. Adib Shofwan Khidmah di Nahdlatul Ulama bukan sekadar soal niat baik, tetapi juga membutuhkan seni, gagasan kreatif, dan strategi yang...

Gus Dur, sudah Lama Jadi Pahlawan Rakyat

Desember identik dengan bulan Gus Dur. Khaul ke-16 tahun ini digelar di mana-mana .Majalah AULA edisi bulan Desember tak absen mengangkat tema...

Advertisement

Press ESC to close