Oleh: M. Laili Rosyad Aqib
KH. Muhammad Aqib Umar adalah salah satu tokoh Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Kendal yang berasal dari Desa Krajankulon Kecamatan Kaliwungu. Beliau lahir pada tahun 1940 dari pasangan KH. Umar Abdul Hamid dan Nyai Hj. Khomsiyah Mirghoni.
Pengasuh Pondok Pesantren Bani Umar Al Karim Kaliwungu ini merupakan sosok ulama yang dicintai dan dihormati. Tak sedikit orang yang datang kepadanya untuk bertawasul dan memohon doa agar hajat mereka tercapai. KH. Muhammad Aqib Umar mewarisi sosok ayah beliau yang juga dikenal sebagai orang alim dan ulama kharismatik di Kaliwungu.
Selain dari ayah beliau, pendidikan keagamaan KH. Muhammad Aqib Umar ditempuh dengan nyantri di berbagai pondok pesantren, diantaranya Pondok Pesantren Watucongol Muntilan Magelang, Ndresmo Surabaya, dan Mranggen Demak. Di Watucongol, beliau seangkatan dengan KH. Abdul Basith Kaliwungu, KH. Hamim Djazuli (Gus Miek) Ploso, KH. Nurul Huda Djazuli, dan KH. Zainuddin Djazuli Ploso Jawa Timur.
Muhammad Aqib Umar muda pernah menjadi tukang kayu yang telaten. Beliau juga seorang penggemar batu cincin dan permata atau batu akik. Selain itu, beliau juga ahli dalam olah raga catur. Sejumlah turnamen catur pernah ia ikuti sampai beliau berhenti mengikuti turnamen setelah dipuji oleh KH. Humaidulloh Irfan Kaliwungu dengan berkata, “Caturmu kok pinter,“ sambil memukul lirih pundak beliau.
Usai menamatkan pendidikan di pesantren, KH. Muhammad Aqib Umar kemudian menikah dengan Nyai Rusdiyah. Dari pernikahan itu, keduanya dikaruniani tujuh putra dan putri, yakni KH. Ahmad Nur Fathoni, Kiai Ahmad Ukasyah, Ummil Huda, M. Laili Rosyad, Laili Rosyid, Mubarokatul Izza dan M. Hasan Munadi. Nyai Rusdiyah berpulang ke rahmatullah pada 12 Februari 1989. KH Muhammad Aqib Umar kemudian menikah lagi dengan Nyai Hj. Alfiyah dan tidak dikaruniai putra.
Beliau sangat tegas tapi penuh welas asih dalam mendidik putra-putrinya. Seluruh putra- putri beliau dipondokkan dibeberapa pondok pesantren, diantaranya Pondok Pesantren Al Hidayat Krasak Demak, Langitan Tuban Jawa Timur, Roudlotul Ihsan Petuk Semen Kediri Jawa Timur, Al Falah Ploso Kediri, Mahir Ar Riyadl Pare Kediri, Sunan Pandanaran Yogyakarta, Az Zahro Pegandon Kendal, dan Pondok Pesantren Uswatun Hasanah Mangkang Semarang.
Keseharian beliau selalu mengajarkan ahlakul karimah, ketawaduan, keikhlasan dan kesederhanan kepada putra-putri, santri dan jamaah. Diantara pesan beliau yang sangat sederhana tapi sarat dengan makna mendalam tentang esensi keikhlasan adalah, “Dialem ora bungah diwodo ora susah“. Beliau juga memiliki prinsip hidup,“Telu ngaji, loro ngaji, siji ngaji, rak ono seng ngaji, ngaji dewe“.
Selain menjadi pengasuh pondok pesantren, beliau juga menjadi pengasuh Majlis Taklim Bani Umar Al Karim. Majlis Taklim yang beliau asuh diantaranya adalah pengajian rutin kitab Tafsir Al Ibriz dan Kitab Irsyadul Ibad setiap hari Selasa dan Sabtu pagi rintisan ayah beliau. Beliau meneruskan pengajian itu hingga wafat pada 30 April 2003. Saat ini, pengajian yang dihadiri ribuan jamaah tersebut dilanjutkan oleh putra pertama beliau KH. Ahmad Nur Fathoni bersama putra kedua Kiai Ahmad Ukasyah, dan menantu beliau KH. Muhibbudin Mahfudz bin KH. Mafudz Sarbini Kaliwungu.
KH. Muhammad Aqib Umar juga merintis pengajian-pengajian rutin lainnya, seperti pengajian kitab Bidayatul Hidayah pada Rabu malam, dan Manaqib Nurul Burhani setiap Senin malam. Kitab-kitab tersebut juga dikaji pada setiap tanggal 1 sampai 11 Ramadan setelah jamaah asar. Tak jarang santri pondok dari berbagai penjuru turut mengaji dan meminta ijazah Manaqib Nurul Burhani.
Di samping itu, KH. Muhammad Aqib Umar juga merupakan mursyid Thariqah Qadiriyyah wa Naqsabandiyah yang dibaiat langsung oleh KH. Muslih Mranggen Demak. Saat masih berguru pada KH. Muslih Mranggen, KH. Muhammad Aqib Umar menempuh perjalanan dari Kaliwungu ke Mranggen Demak dengan bersepeda. KH Muhammad Aqib Umar kemudian mengembangkan jamiyah Ahli Thariqah Al Mu’tabaroh di Kaliwungu. Kini kegiatan Tawajuh-an diteruskan putra pertamanya KH. Ahmad Nur Fathoni yang dibaiat langsung oleh KH. Luthfi Hakim bin KH. Muslih Mranggen. Tawajuh-an dilaksanakan setiap Jumat pahing.
KH. Muhammad Aqib Umar juga menjadi imam dan khatib sekaligus Takmir Masjid Besar Al Muttaqin Kaliwungu. Beliau juga ditunjuk sebagai ketua renovasi masjid itu pada tahun 1987. Segenap waktu dan pemikiran beliau curahkan untuk mengembangkan masjid. Beliau bahkan sangat memperhatikan para pegawai masjid dan para tukang. Hubungan silaturahmi yang baik juga dijalin dengan ulama, umara dan warga sekitar.
Perkembangan pondok pesantren juga tak luput dari perhatian beliau. Setelah pulang haji yang pertama, beliau merenovasi pondok pesantren Bani Umar Al Karim pada tahun 1992 karena jumlah santri yang semakin bertambah. Setelah pulang haji yang kedua, beliau mulai membangun pondok pesantren Bani Umar Al Karim Putri. Tambahan nama Al Karim diambil dari nama pendiri pondok yang pertama pada tahun 1864 yakni KH Abdul Karim Kaliwungu. Beliau juga sangat memperhatikan para santri, bahkan beliau tahu persis nama dan tempat asal santri. Jika ada santri yang sakit, beliau tak canggung menjenguk dan memberikan obat, atau menyuruh putra-putrinya menjenguk untuk membuatkan secangkir teh hangat.
Selain pesantren, beliau juga menaruh perhatian pada perkembangan pendidikan formal di Kaliwungu. Beliau mempunyai andil besar dalam mengembangkan Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA) NU 03 Sunan Katong Kaliwungu bersama KH. Syamsul Ma’arif.
Pada tahun 1990, bersama KH. Syamsul Ma’arif dan Drs. KH. Asro’i Thohir, beliau mendirikan Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) Yayasan Arofah didasari pemikiran untuk memberikan bimbingan pelaksanaan ibadah haji bagi calon jamaah haji dan sebagai wadah untuk memberi kesempatan kepada ulama dan kiai menunaikan ibadah haji sebagai pembimbing haji.
Kedekatan beliau pada para penghafal Alquran juga memberinya dukungan pada berdirinya Yayasan Penghafal Quran (YPQ) Raudlatul Falah di Pungkuran Kaliwungu pada tahun 1987 sebagai lembaga pengajar Alquran untuk anak-anak.
Kesederhanaan, ketawaduan, keikhlasan, kepedulian dan keteladanan hidup yang diajarkan KH. Muhammad Aqib Umar menjadikan nama beliau tetap dikenang sampai sekarang. Kelebihan dan kemampuannya yang di luar nalar membuktikan beliau adalah sosok ulama kharismatik yang disegani banyak orang. Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fu’anhu. Amin
Penulis adalah Putra KH. Muhammad Aqib Umar dan Alumnus Pondok Pesantren Al Falah Ploso Mojo Kediri