Oleh: Fahroji
Sabtu, 15 Januari 2022 keluarga besar MTs NU 13 Arrahmat merencanakan peringatan Harlahnya yang ke-34 dengan mengadakan ziarah ke beberapa pendiri, diantaranya ke pemakaman umum Kauman Sukorejo. Di sana dimakamkan almaghfurlah KH. Ahmad Masjhadi yang wafat belum lama ini dan merupakan tokoh sentral sejak awal berdirinya madrasah hingga beliau wafat. Usai ziarah rencananya dilanjutkan dengan tasyakuran sederhana.
Namun rencana itu akhirnya dibatalkan karena kepala madrasah sedang berduka cita atas meninggalnya istri tercinta almarhumah ibu Rosyidah yang sehari kemudian disusul meninggalnya ibu almarhumah Hj.Tarini yang sekaligus ibu mertua kepala MTs NU 13 Arrahmat Sukorejo. Acara ziarah akhirnya diganti tahlil di rumah kepala madrasah di Sambikerta Kalipakis yang sudah pasti juga mendoakan para muasis MTs NU Arrahmat Sukorejo.
Saat ini keberadaan MTs NU 13 Arrahmat Sukorejo menjadi icon yang membuktikan adanya harakah Nahdlatul Ulama di Kecamatan Sukorejo, disamping icon yang baru Gedung MWC NU Sukorejo yang ditunjang dengan NU Mart-nya. Secara fisik MTs NU masih memungkinkan untuk berkembang karena adanya perluasan lahan yang dimilikinya.
Dari sisi output pendidikan alumni MTs NU 13 Sukorejo saat ini sudah banyak yang mengabdikan diri dan tersebar di berbagai sektor kehidupan. Sebagian kecil ada yang memilih kembali ke madrasah dengan menjadi guru dan tenaga kependidikan. Saat ini tak kurang dari 6 alumnus tercatat sebagai guru MTs NU 13 Arrahmat Sukorejo.
Capaian yang ditorehkan MTs NU 13 Arrahmat selama 34 tahun tentu tidak lepas dari dedikasi dan totalitas para penggagas dan pengelolanya. Madrasah yang didirikan tahun 1987 diinisiasi oleh almaghfurlah KH. Ahmad Masjhadi yang saat itu menjabat ketua MWC NU Sukorejo. Kepada penulis, Kiai Masjhadi kala itu pernah bercerita saat menjadi guru di MTs NU 10 Penawaja Pageruyung. Beliau sempat diminta menjadi kepala madrasah namun menolak karena ingin mendirikan MTs NU di Sukorejo.
Dalam perjalanan awal MTs NU 13 Arrahmat tentu tidak lepas dari sentuhan tangan dingin KH. Ahmad Masjhadi yang menjabat sebagai kepala madrasah pertama yang merangkap ketua MWC NU Sukorejo sampai tahun 1998. Setelah melepas jabatan ketua MWC NU Sukorejo, tidak lama kemudian ia juga melepas jabatan kepala madrasah. Kiai Masjhadi kemudian menjabat ketua pengurus
madrasah sampai akhir hayatnya yang hingga kini kekosongan jabatan itu juga belum sempat diganti.
Kepemimpinan periode kedua MTs NU 13 Arrahmat Sukorejo dipegang oleh almarhum H. Pawit Nur Hidayat yang juga menjabat ketua MWC NU Sukorejo. Pada periode ketiga dilanjutkan oleh Suharyana. Pada periode ini tidak terjadi perangkapan jabatan karena ketua MWC NU Sukorejo dijabat KH. Abdullah.
Pada periode keempat perangkapan jabatan kepala madrasah dan ketua MWC NU kembali terjadi. Setelah Kiai Nurudin terpilih menjadi ketua MWC NU Sukorejo, tak lama kemudian juga mendapat amanat menjadi Kepala MTs NU 13 Arrahmat Sukorejo. Namun pada Konferensi MWC NU Sukorejo 2016 setelah penulis terpilih menjadi ketua MWC NU Sukorejo, perangkapan itu berakhir hingga saat ini.
Tantangan MTs NU 13 Arrahmat Sukorejo
Selama 34 tahun nampaknya MTs NU 13 Arrahmat Sukorejo tidak lepas dari pengaruh kuat yang dimiliki almaghfurlah KH. Ahmad Masjhadi dengan segala kelebihan dan kekurangannya baik saat menjabat kepala madrasah maupun ketua pengurus (BP3MNU). Mencari figur pengganti yang mau mewakafkan sebagian besar hidupnya untuk MWC NU dan MTs NU 13 Arrahmat Sukorejo menurut hemat penulis sangat sulit ditemukan.
Namun demikian, Kiai Ahmad Masjhadi sudah menyelesaikan tugas selama hayatnya dan keberlangsungan MTs NU 13 Arrahmat tetap harus berjalan menatap masa depan. Kepengurusan Badan Pelaksana Penyelenggaraan Pendidikan Madrasah Nahdlatul Ulama (BP3MNU) yang merupakan kepanjangan tangan MWC NU Sukorejo selaku owner (pemilik) madrasah harus segera diisi oleh MWC NU Sukorejo, tidak boleh dibiarkan mengalami kevacuman yang berlarut-larut.

Penulis adalah Ketua MWC NU Sukorejo Periode 2016-2021