Oleh: Fahroji
Ungkapan itu pernah dilontarkan oleh DR. Muhammad kala masih menjabat Ketua Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) RI pada Rakor Bersama KPU dan Panwaslu (sekarang Bawaslu) se-Jawa Tengah di sebuah hotel di Pekalongan.
Statement itu ditujukan kepada penyelenggara Pemilu (KPU dan Bawaslu) yang suka ngopi di warung kopi ataupun cafe. Sekilas pernyataan ketua Bawaslu itu terlihat jauh masuk pada wilayah privasi anggota penyelenggara Pemilu. Namun sesungguhnya pernyataan itu bagian dari proteksi dan antisipasinya terhadap penyelenggara Pemilu.
Warung Kopi atau Cafe adalah tempat ngopi yang bisa dikunjungi siapa saja. termasuk penyelenggara Pemilu, Pengurus Partai Politik dan seterusnya. Dikisahkan ada seorang penyelenggara Pemilu yang memiliki teman waktu masa kuliah yang kebetulan menjadi pengurus Parpol dan sama-sama penikmat kopi. Secara tidak sengaja mereka ketemu di sebuah cafe. Karena lama tidak ketemu sudah pasti mereka ngobrol satu meja.
Sementara di meja lain juga ada pengurus Parpol lain yang sedang ngopi dan kenal keduanya dalam kapasitasnya sebagai penyelenggara Pemilu dan Pengurus Parpol. Entah sengaja atau tidak, keduanya difoto lalu dikirim ke wartawan dan "digoreng" menjadi berita dengan konten melakukan lobi-lobi politik di sebuah cafe. Sudah tentu hal itu menjadi masalah bagi si penyelenggara Pemilu, padahal yang terjadi dia hanya ngobrol kangen-kangenan.
"Oleh karenanya anggota KPU maupun Bawaslu jangan ngopi di warung kopi. Silahkan ngopi di kantor Bawaslu, gratis!," guraunya.
Tentu saja pernyataan itu disampaikan dalam konteks mendekati hari pelaksanaan Pemilu. Foto atau selfi bersama memang bisa menunjukan keakraban atau teman yang ada dalam foto. Namun tentu saja tidak mesti demikian.
Dalam arena Muktamar ke- 34 di Lampung, Kiai Said bersama dengan Gus Yahya terlihat dalam satu foto bersama, padahal dia sedang berkompetisi berebut Ketua Umum PBNU. Meskipun setelah itu keduanya saling berangkulan.
Di luar arena Muktamar, ada anggota rombongan Muhibbin yang tidak mau diajak foto sesama Muhibbin dari Kendal. Ada apa?
Nampaknya dia tahu sebentar lagi akan ada pesta demokrasi lokal semacam Muktamar yakni Konfercab NU Kendal. Mereka yang tidak mau diajak foto bersama nampaknya takut dicap sebagai pendukung orang-orang yang berpotensi meramaikan Konfercab NU.
Saya yang ketemu rombongan Kang Ali Martin diajak foto bersama enjoy-enjoy saja dan tidak mungkin menolak karena teman, meskipun pada tahun 2008 pernah bersaing ketat memperebutkan kursi Komisioner KPU Kendal dan itu berkonsekuensi terhadap dapur ngebul. Namun kemudian saya juga pernah mendukung Kang Ali Martin maju dalam pencalonan Ketua DPD KNPI Kendal dan jadi. Alhamdulillah pertemanan saya dan Kang Ali Martin masih terjaga hingga saat ini.
Lha,... tidak mau foto bersama hanya karena menjelang Konfercab NU Kendal dan takut dituduh kelompoknya yang mengajak foto itu kan mencederai sebuah persahabatan. Lebih repot lagi ada yang dikeluarkan dari grup WA sebuah komunitas hanya gara-gara foto bersama.
Oleh karenanya, berhati-hatilah saat ngopi bersama di zaman yang sedang ngetren ngopi. Menjelang Konfercab NU Kendal, ngopi anda bersama orang-orang tertentu bisa menjadi masalah.

Penulis adalah Wakil Sekretaris PCNU Kendal 2012-2017