Oleh: Fahroji
Ahad sore, 26 Desember 2021 pukul 16.20 Wib, saya mendapat pesan Whatsapp dari Ketua MWC NU Ringinarum Kiai Nur Faizin. Ia juga mengirim foto hasil jepretannya saat kami minum bersama istirahat sehabis ziarah di makam Sunan Gunung Jati Cirebon dalam rangkaian kegiatan ziarah sepulang dari Muktamar ke- 34 NU di Lampung.
"Assalamualaikum, kabare Yi Fahroji," tulisnya.
"Alhamdulillah Yi, sehat. Suwun kiriman fotonya," jawabku.
"Panjenengan hebat, salut kalih njenengan Yi,"
"Hebat napane Yi, kulo mboten sinten-sinten," (Aku bukan siapa-siapa)
"Konten-konten njenengan bikin penasaran ingin terus membaca,"
" Ooh.. niku. Mergo latihan lan ngulinake nulis. Mugi manfaat Yi," balasku.
"Abahe Izzudin, Rois Cabang, pingin ngertos, sinten si Kiai Sukorejo niku?. Ngendikane, njenengan kok pinter ngarang (nulis)".
Waduh, repot ini. Kalau Kiai Izzudin sampai nyebut saya kiai. Apa kira-kira yang ingin beliau ketahui dari saya ya. Mungkin beliau sudah sering dengar nama saya, cuma mungkin tidak hafal orangnya meskipun beberapa kali saya juga sempat ikut rapat di ndalem-nya saat masih menjadi wakil sekretaris PCNU Kendal 2012-2017.
Saya juga tidak pernah tahu kalau ternyata Kiai Izzudin sering menyimak dan mengikuti berita atau artikel yang saya tulis baik di pcnukendal.com maupun di NU Online Jateng.
Pertanyaan senada "Siapa Kamu" dalam bahasa Jawa juga pernah disampaikan rais syuriyah MWC NU Sukorejo KH. Ibadi saat saya masih menjadi ketua MWC NU Sukorejo. Dalam perjalanan menghadiri selapanan Ranting NU, suatu malam Kiai Ibadi bertanya, "Ji, kowe kuwi jane sopo?" saya agak kaget mendengar pertanyaan itu. Kemudian dengan nada guyon saya jawab, "Mbah, mosok njenengan tanglet kados niku. Kulo sakniki kan tiyang Ngloyo Trimulyo, riyin tiyang Sapen Sukorejo tanggane jenengan".
Saya dan Kiai Ibadi memang dulu tetangga, jaraknya hanya sekitar 100 meter. Namun demikian, kami beda dusun. Kiai Ibadi rumahnya di pojok barat Dusun Sentul. Sedangkan rumah orang tua saya berada di ujung Timur Dusun Sapen. Rumah kami dibatasi jalan kampung yang juga menjadi pembatas dusun.
Meski berdekatan, kedua dusun itu masyarakatnya memiliki sedikit perbedaan. Singkat cerita, Dusun Sentul masyarakatnya lebih religius dibanding Dusun Sapen yang waktu saya kecil identik dengan pekat (penyakit masyarakat). Beruntung keadaannya sekarang sudah berubah lebih baik. Namun di satu sisi saya bersyukur karena justru dari kampung kelahiran itu saya digembleng lingkungan untuk tahan banting menghadapi masalah.
Saya mencoba memahami konteks pertanyaan Kiai Ibadi yang pernah dijuluki "Kiai Jumat Kliwon" oleh Wakil Ketua PCNU Kendal, Kiai Slamet Nasikhun saat sambutan Pra Konferensi MWC NU Sukorejo. Mungkin Kiai Ibadi merasakan ada yang kontras dalam diri saya. Dibesarkan di Kampung Sapen dari keluarga biasa bukan keluarga kiai karena bisa dikatakan kampung kelahiran saya tidak ada kiainya. Kalau punya hajat seringnya juga mengundang Kiai Ibadi untuk memimpin doa.
Oleh Kiai Ibadi, saya pernah dianggap mampu menggerakan remaja Sapen untuk mengadakan pengajian remaja dengan mendirikan Forum Remaja Muslim Sapen (Formusa). Dari situ ternyata karir organisasi saya dimulai karena setelah itu terpilih menjadi Ketua Ranting IPNU Sukorejo yang berlanjut terpilih menjadi Ketua PAC IPNU Sukorejo. Dinilai mampu menghidupkan PAC IPNU Sukorejo, kemudian memuluskan jalan menjadi Ketua PAC GP Ansor dan MWC NU Sukorejo.
Keberhasilan saya menjadi ketua Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) Sukorejo yang berlanjut menjadi Komisioner KPU Kendal dua periode juga dianggap sebagai hal yang benar-benar nyleneh dan mungkin sulit dipercaya.
Nampaknya pertanyaan Kiai Ibadi, "Ji, Kowe kui jane sopo?" mencoba menelisik saya dari sisi nasab almarhum bapak saya yang memang bukan orang asli kampung kelahiran saya.
"Ada apa Mbah, kok tanya seperti itu. Nasab dan nasib itu kan hanya beda satu huruf".
"Mungkin sudah nasib saya menjadi ketua MWC NU Sukorejo. Saya jalani saja Mbah menurut kemampuan, karena saya bukan siapa-siapa," kataku malam itu.