Oleh: Fahroji
Gegeran menyangkut maju mundurnya Muktamar ke -34 Nahdlatul Ulama di Lampung telah berakhir dengan gergeran. Polemik tentang waktu pelaksanaan Muktamar NU dalam sejarah penyelenggaraan Muktamar terhitung jarang terjadi. Baru kali ini waktu pelaksanaan Muktamar menjadi polemik antara yang pro dimajukan dan pro dimundurkan.
Polemik itupun akhirnya selesai dengan gergeran karena Pemerintah membatalkan PPKM Level 3 menjelang Nataru. PBNU pun memutuskan mengembalikan waktu Muktamar sesuai dengan keputusan Munas dan Konbes NU di Jakarta yang kemudian dalam perkembangan terakhir sesuai surat PBNU Nomor 4288/A.I.01/12/2021 tertanggal 15 Desember 2021 dimajukan satu hari dari tanggal 23-25 Desember menjadi tanggal 22-23 Desember 2021.
Dalam Muktamar-Muktamar sebelumnya gegeran lebih sering disebabkan persoalan figur atau tokoh yang diusung baik soal calon Rais Aam terlebih masalah calon ketua umum PBNU yang sering menghangat. Mengingat Muktamar ke-34 di Lampung belum berlangsung dan akan segera dimulai mungkinkah muncul gegeran babak ke-2 tentang calon Rais Aam atau Ketua Umum PBNU dalam Muktamar di penghujung tahun 2021 ini?.
Istilah Gegeran dan Gergeran berawal dari bahasa Jawa. Gegeran berarti keributan sedangkan Gergeran berarti tertawa bersama. Istilah ini digunakan almaghfurlah KH. Muchith Muzadi untuk menggambarkan konflik internal NU yang selalu berakhir dengan tertawa bersama.
Dalam sejarah panjang perjalanannya, NU memang tidak pernah sepi dari konfilk. Dalam buku Membanding Ulah GPK Abu Hasan (1996), H. Choirul Anam menulis sejumlah konflik di PBNU yakni Subchan SE versus KH. Idham Kholid, KH. Ahmad Sjaichu versus KH. Idham Kholid. Cipete versus Situbondo dan mufaraqah-nya KH. As'ad Samsul Arifin dari KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
Konflik paling panas di zaman Orde Baru terjadi saat Muktamar ke-29 di Cipasung Tasikmalaya dimana perbedaan dinilai telah keluar dari koridor NU karena muculnya KPPNU sebagai tandingan PBNU.
Diera reformasi Muktamar NU juga tidak sepi dari konflik seperti Muktamar ke-31 di Boyolali antara KH. Abdurrahman Wahid versus KH. Hasyim Muzadi dan Muktamar NU ke-33 di Jombang antara KH. Hasyim Muzadi versus KH. Said Aqil Siraj.
Muktamar ke-34 NU di Lampung kali ini nampaknya juga tidak luput dari dinamika yang semakin menghangat menjelang hari H Muktamar. Gegeran yang disebabkan perbedaan figur calon Ketua Umum PBNU. Sebagaimana diberitakan berbagai media, nampaknya juga sulit dihindari munculnya calon ketua umum PBNU KH. Said Aqil Siraj (petahana) yang ingin dipertahankan oleh pendukungnya pada satu sisi akan berhadapan dengan kelompok pendukung Katib Aam KH Yahya Cholil Staquf yang menghendaki regenerasi Ketua Umum PBNU pada sisi yang lain akan semakin meramaikan Muktamar NU kali ini.
Apa jadinya Muktamar NU tanpa isu dan terkesan adem ayem. Dinamika yang disebabkan perbedaan yang positif tetap diperlukan dalam Muktamar. Hamzah Sahal founder Alif.id dalam status facebook-nya menulis "Nggak apalah gegeran sedikit agar ada pembelajaran" .
Yang terpenting sebagaimana komentar Wapres KH. Ma'ruf Amin saat mengomentari polemik maju mundurnya Muktamar ke-34, "Muktamar selalu dimulai dengan Gegeran terlebih dahulu dan berakhir dengan Gergeran atau happy ending.
Gegeran menjadi Gergeran juga merupakan ciri budaya NU yang menjadi pondasi rekonsiliasi setiap konflik terjadi. Yang tak kalah penting justru bagaimana Gegeran menjadi Gergeran di tingkat pusat bisa ditranfirmasi di tingkat bawah. Karena masih sering dijumpai Gegeran dalam Konferensi NU di tingkat lokal tidak segera berakhir dengan Gergeran.

Penulis adalah Mantan Ketua MWC NU Sukorejo Kendal