Oleh: Fahroji
Sore itu saya berkesempatan ketemu KH. Ahmad Rajin, pengasuh Pondok Pesantren Assalafiyah Annahdliyah Curugsewu Patean untuk sekedar mengantar majalah Aula karena adik saya yang biasa ngurusi sedang repot.
Kesempatan itu sekaligus saya niati untuk silaturrahim karena sudah lama tidak ngobrol dengan Kiai Rajin. Mengantar media cetak NU seperti Majalah Aula, atau dulu Tabloid Warta NU sejak masih menjadi pengurus IPNU, bagi saya sekaligus menjadi kesempatan untuk bisa silaturrahim ke para Kiai dan tokoh NU. Doa dan wejangan sering menyertainya ketika ketemu para kiai dan itu lebih berharga dibanding dengan hasil dari fee media NU itu sendiri.
Saya menemui Kiai Rajin di kantor pondok kemudian diajak pindah ke ruang NU Coffee yang terletak di pinggir jalan. Feeling saya menangkap sekalian diminta menulis NU Coffee yang merupakan unit usaha pondok tersebut.
Tak lama kemudian seorang santri yang telah dilatih menjadi Barista menyuguhkan segelas kopi Liberica setelah terlebih dahulu menawarkan beberapa jenis kopi yang ada di NU Coffee mulai Robusta, Arabica ataupun Liberica.
"Saya tak nyoba yang Liberica saja, Kang," kataku.
Kopi Liberica, almarhumah ibu saya yang dulu pernah mengolah kopi menyebut "Kopi Gedhe" atau "Kopi Blendung". Kopinya besar tapi kulitnya tebal baunya agak wangi.
Sebelum kami duduk, sambil menunggu kopi diseduh, Kiai Rajin atau dulu saya sering panggil 'Pak Rajin' karena sama-sama ngajar di MTs NU 13 Arrahmat Sukorejo mengajak melihat ruang produksi kopi yang memakai branding "NU Coffee".
Penggunaan nama NU tentu bukan tanpa alasan, karena NU Coffee merupakan unit usaha pondok yang didirikan oleh jam'iyyah Nahdlatul Ulama dalam hal ini MWC NU Patean. Hal ini sama seperti NU Mineral yang merupakan unit usaha PC NU Kendal maupun NU Mart milik MWC NU Sukorejo.
Hujan gerimis di bulan Desember menyebabkan saya agak lama duduk ngobrol bersama Kiai Rajin di NU Caffee. Kesempatan ngobrol itu dulu sering dilakukan saat jam istirahat di MTs NU 13 Arrahmat dalam rentang waktu 18 tahun pengabdiannya di MTs itu.
Ketemu sekedar jabat tangan dan tegur sapa memang sering, misalnya dalam pertemun NU di Kendal karena beliau Rois Syuriyah MWC NU Patean dan saya waktu itu masih menjadi Ketua MWC NU Sukorejo, ataupun sesekali ketemu saat beliau mengisi pengajian Ahad Pagi di MWC NU Sukorejo.

Kesempatan ngobrol santai dengan Kiai Rajin nampak terhenti sekitar tahun 2008. Di tahun itu saya dan Kyai Rajin sama-sama mulai tidak aktif mengajar di MTs NU Arrahmat Sukorejo. Saya non aktif mengajar dan berkarier di KPU Kendal selama 10 tahun, sedangkan Pak Rajin berpamitan memilih mengelola MTs NU 29 Patean yang dirintisnya.
Keberhasilannya merintis MTs NU 29 Patean kemudian berlanjut pada pendirian Pondok Pesantren Assalafiyyah Annahdliyyah Curugsewu Patean untuk menampung anak-anak yang sekolah sekaligus sambil mondok.
Dari pondok kemudian melahirkan unit usaha atau Badan Usaha Milik Pondok yang bertujuan untuk melatih jiwa kewirausahaan para santri sekaligus membantu biaya operasional pondok pesantren.
Bagi saya, capaian yang ditorehkan Kiai Rajin cukup layak diapresiasi. Tekadnya berhenti dari hiruk-pikuk dunia politik yang penuh intrik ketika memasuki usia 50 tahun kini membuahkan hasil, setelah sebelumnya sempat menjabat ketua DPAC PKB Kecamatan Patean.
Jiwa kewirausahaannya disamping sebagai kiai juga sudah terasah sejak lama. Saat masih ngajar di MTs NU 13 Arrahmat, Kiai Rajin sempat membuat home industry kerupuk petis.
Kalau sekarang, di mana trennya orang kumpul-kumpul sambil ngopi, kemudian Kiai Rajin mendirikan NU Coffee tentu itu bagian dari kemampuannya membaca situasi dan menangkap peluang yang ada.
"Proses tak akan mengingkari hasil", begitu kata bijak itu sering kita dengar. Apa yang dicapai oleh Kiai Rajin tentu hasil dari proses panjang perjuangannya dengan gigih dan tanpa lelah serta sudah barang tentu atas Ridho-Nya. Hal ini tentu menjadi pembelajaran bagi kita yang sering hanya melihat hasil tanpa mau melihat prosesnya. Terlebih bagi generasi milenial yang terjebak berorientasi pada hasil yang instan dan mengabaikan proses.
Tak terasa obrolan saya dengan Kiai Rajin sambil menunggu hujan reda sudah cukup lama. Mulai dari pertanyaan anaknya sekarang di mana?, kegiatan masing-masing apa? dan obrolan bla bla bla lainnya. Obrolan sore itu nampaknya menjadi nostalgia seperti saat masih mengajar di MTs NU 13 Arrahmat Sukorejo.
Sebelum pulang, Kiai Rajin mempersilakan saya atau mungkin siapa saja untuk singgah di NU Coffee Curugsewu Patean. "Di sini juga ada kegiatan ngaji untuk penikmat kopi," ucapnya mengakhiri obrolan kami.
Penulis adalah Koordinator KOMPAK (Komunitas Pembaca AULA Kendal)