Muktamar yang Membahagiakan Ala Kiai Misbakhun

...

Oleh: Khusnul Huda

"Arep muktamar kapan wae,  pokoke kudu mangkat, kudu nganakke rombongan."  

Begitulah tekad Kiai Misbakhun. Kiai yang kesehariannya bertani dan mangku Musala depan rumahnya. Ia tidak terlalu peduli siapa saja yang maju sebagai calon Ketua PBNU, siapa mendukung siapa, kelompok mana melawan kelompok mana, gerakan apa yang dilakukan oleh para tim sukses untuk menggalang dukungan, dan sebagainya. 

Kiai Bakhun, begitu biasa disapa, tidak mau ambil pusing dengan langkah para jago yang mengumpulkan para pengurus NU mulai tingkat Wilayah hingga pengurus Cabang yang punya hak suara.

"Sing ngumpulke kiai, sing dikumpulke yo kiai, kuwi yo mesti apik. Apik kabeh," tuturnya

Kiai Bakhun sangat percaya, siapapun yang dipilih Muktamirin dalam Muktamar nanti dan metode apapun yang digunakan tidak masalah. Sebab NU adalah organisasi yang didirikan oleh para ulama besar dan para wali Allah. Para pemegang saham NU itu tidak akan mungkin "tego" membiarkan "rumahnya" rusak atau dirusak orang. Bahkan dia yakin, siapapun yang akan merusak NU akan hancur dengan sendirinya. Ya Jabbar, ya Qahhar...  konon dulu itu adalah doa yang  dititipkan oleh Waliyullah Mbah Kholil Bangkalan melalui Mbah Kiai As'ad Syamsul Arifin untuk disampaikan ke Mbah Hasyim Asyari saat NU akan didirikan. 

"Dadi ora usah khawatir, sopo wae sing dadi Ketua PBNU, mesti apik. Ora mungkin kiai sing apik, alim, alamah, kok milih pemimpin sing elek. Dadi percoyo wae, Ketua NU sopo wae, kuwi mesti wong apik, lan NU tetep apik-apik wae, " lanjutnya.

Saat sejumlah elit NU oyok-oyok-an terkait waktu pelaksanaan Muktamar, antara yang ingin maju pada 17 Desember atau mundur di akhir Januari 2022, Kiai Bakhun tak mau berkomentar banyak. Menurutnya, Muktamar bukan hanya masalah pemilihan Rois Aam, Ketua PBNU dan jajarannya  Muktamar adalah agenda nasional, mantu gedhen yang harusnya bisa membahagiakan banyak pihak. 

Kedatangan ribuan atau bahkan puluhan ribu Romli (Rombongan Liar), banyaknya pedagang di sekitar arena Muktamar, menjadi salah satu faktor penting untuk mengukur kesuksesan Muktamar. Sebab dengan begitu akan banyak yang terbahagiakan. Ada warga sekitar yang bisa ikut mremo mengais rezeki, ada UMKM yang ikut tumbuh, ada anak-anak IPNU - IPPNU, Banom, lembaga yang ikut belajar bisnis dengan membuka stand cinderamata dari kaos, jaket, topi, bolpoin berlogo muktamar, hingga kebahagiaan warga NU bisa hadir dan merasakan aura Muktamar.

Belum lagi kebahagiaan Panitia Lokal, satuan  pengamanan baik Banser maupun Satuan Inti Pagarnusa, menjadi kebanggaan tersendiri bisa melayani dan mengawal masyayikh yang selama ini hanya mereka kagumi dan baru mereka dengar namanya. Mereka bisa bertemu, apalagi mencium astha beliau (walaupun kadang dikritik melanggar SOP, wong ditugasi ngawal kok malah ikut rebutan salaman-), melayani dan menjaga para ulama panutan itu, menjadi kebanggaan yang tidak akan hilang bahkan bakal menjadi bekal yang dibawa mati. 

Makanya, saat mendengar Gus Muwafiq mengusulkan supaya Muktamar diundur bulan Juni 2022, saat kondisi pandemi diperkirakan sudah membaik, tidak musim hujan, sehingga akan lebih banyak umat yang terlibat dan berbahagia, Kiai Bakhun mengaku sangat setuju. Sekali lagi, Muktamar adalah mantu gedhen yang harus membahagiakan banyak orang. 

"Cocok... Insyaalllah Juni Coronane wes minggat, dadi iso bareng-barengan mangkat  Muktamar, mampir ziarah wali-wali sing dilewati, tekan kono leyeh-leyeh, mlaku-mlaku nggolek kaos, klambi muktamar, terus muleh. Ngono kuwi wes alhamdulillah, bahagia..," tegas Kiai Misbakhun. 

Yah, bahagia memang sederhana bukan? Setidaknya bagi Kiai Bakhun dan mungkin juga puluhan, ratusan, ribuan atau bahkan puluhan ribu warga nahdliyin yang lain. Pokoke mangkat Muktamar !!!

Semoga Muktamar ke-34 ini bisa menjadi Muktamar yang adem, teduh, guyub dan tetap membahagiakan banyak pihak dan yang pasti semua yang terlibat tetap  menjaga ukhuwwah dan memegang teguh khidmah kepada Jam'iyyah Nahdlatul Ulama.

Penulis adalah Ketua NU Care Lazisnu Kendal, Jawa Tengah. 

Informasi Lainnya

Banser dan Natal: Khidmah Kemanusiaan Tanpa...

Oleh: Anis Hidayati Barisan Ansor Serbaguna (Banser) merupakan lembaga semi-otonom di bawah naungan Gerakan Pemuda (GP) Ansor, badan otonom...

Bola Liar Konflik PBNU dan Harapan Nahdliyyin...

Oleh: M. Irhamni Sabil, S.Sy., MH Sudah hampir satu bulan konflik yang menerpa jajaran Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) bergulir di ruang...

Seni Merawat Khidmah: Ikhtiar Menghidupkan...

Oleh: M. Adib Shofwan Khidmah di Nahdlatul Ulama bukan sekadar soal niat baik, tetapi juga membutuhkan seni, gagasan kreatif, dan strategi yang...

Gus Dur, sudah Lama Jadi Pahlawan Rakyat

Desember identik dengan bulan Gus Dur. Khaul ke-16 tahun ini digelar di mana-mana .Majalah AULA edisi bulan Desember tak absen mengangkat tema...

Advertisement

Press ESC to close