Oleh: Fahroji
Kalau tidak salah hitung, Rabu 1 Desember 2021 genap seratus hari penyelenggaraan Konferensi MWC NU Sukorejo yang digelar di Gedung NU pada 21 Agustus 2021 lalu.
Ada keputusan konferensi khususnya masalah organisasi yang tergolong hal baru dari konferensi - konferensi pada umumnya. Bunyi keputusan itu kurang lebih, "Jika dalam waktu seratus hari terhitung dari konferensi tidak ada kegiatan atau progres pergerakan maka akan dilakukan evaluasi organisasi".
Sayangnya, keputusan komisi organisasi itu tidak merinci bagaimana ukuran ada kegiatan atau progres kegiatan pasca konferensi sekaligus tidak diperjelas bagaimana dan siapa yang harus mengevaluasi.
Namun demikian, dari sebagian peserta konferensi sebagian berharap dalam 100 hari pertama, pengurus MWC NU Sukorejo sudah bisa menggelar Rapat Kerja (Raker) untuk menerjemahkan dan mem-breakdown keputusan Program Kerja hasil konferensi. Dengan adanya Raker paling tidak akan diketahui skala prioritas pelaksanaan program kerja tahun pertama.
Program kerja MWC NU Sukorejo masa khidmat 2021-2026 sesungguhnya tergolong istimewa, karena dibahas dalam acara Pra Konferensi seminggu sebelum konferensi yang pembahasannya sampai larut malam pukul 02.00 Wib dini hari dengan curahan pimikiran yang mendalam dari peserta konferensi.
Konferensi MWC NU Sukorejo tahun 2021 di Gedung MWC NU Sukorejo sebagaimana diketahui berjalan dengan dinamika yang sangat luar biasa. Ini berbeda jauh dengan Konferensi MWC NU di MTs NU 13 Sukorejo tahun 2016 yang relatif adem ayem dan sejuk.
Geliat kegiatan dan dinamika MWC NU Sukorejo dalam kurun waktu 5 tahun terakhir nampaknya telah menjadikan NU Sukorejo "semakin seksi" sehingga banyak pihak ingin meminangnya. Bursa rais maupun ketua sudah lama beredar sebelum hajatan konferensi 21 Agustus 2021 itu akhirnya digelar.
Kondisi ini menyebabkan konferensi dan pasca konferensi mengalami dinamika yang menarik akibat kontestasi dua kubu yang berimbang. Terpilihnya KH. Ibadi sebagai Rais dan Muhammad Reza Pahlevi sebagai Ketua MWC NU Sukorejo nampak mengalami sedikit kesulitan dalam mengakomodasi kelompok yang menjadi kompetitornya. Hal ini ditandai dengan keengganan sebagian person bergabung dalam kepengurusan MWC NU Sukorejo.
Selanjutnya situasi ini juga berdampak pada munculnya nama-nama baru dalam kepengurusan MWC NU Sukorejo yang sebenarnya tidak punya rekam jejak dalam kiprah baik di IPNU maupun Ansor yang selama ini sebagai wadah menempa kader. Hal ini bisa terjadi karena stok kader NU Sukorejo sebenarnya sangat terbatas.
Namun demikian, dalam seratus hari pertama ini bukannya pengurus MWC NU Sukorejo tidak berkegiatan. Pembentukan pengurus MWC NU dan beberapa lembaga sudah dilakukan. Pelayanan kepada Banom dan lembaga dalam bentuk sambutan atau pengarahan juga sudah dijalankan.
Yang belum sempat dilaksanakan dalam seratus hari pertama ini sebagaimana harapan banyak pihak adalah menggelar Raker yang mencerminkan itikad baik pengurus untuk melaksanakan program kerja amanat konferensi.
Disamping itu, pertemuan rutin lailatul ijtima' malam Ahad Pon bagi pengurus MWC NU dan selapanan rutin Ahad Kliwon (Naharul ijtima') keliling Ranting harus kembali dihidupkan seiring dengan melandainya penyebaran Covid-19. Dua kegiatan itu tidak boleh berhenti untuk dapat memastikan koordinasi dan komunikasi organisasi berjalan dengan baik sehingga program kerja dapat terlaksana.
Pelantikan Pengurus MWC NU beberapa waktu lalu yang diwarnai ketidakhadiran separuh pengurus Ranting NU juga mengisyaratkan adanya persoalan penyamaan persepsi, visi dan misi yang perlu segera dituntaskan sehingga bisa menyatu kembali.
Bagaimanapun juga, pasca seratus hari konferensi roda organisasi MWC NU Sukorejo harus bisa berjalan normal seperti sebelum konferensi. Jangan sampai masa transisi dan adaptasi pengurus baru MWC NU Sukorejo justru melemahkan semangat pengurus Ranting Banom dan lembaga maupun warga NU yang selama ini sudah terbangun.
Tantangan dan ancaman NU Sukorejo baik internal maupun eksternal cukup besar. Di sinilah kemudian pengurus NU harus bisa menjadi munadhim (manajer) maupun muharrik (penggerak) agar dapat mengoptimalkan dan mendayagunakan sumber daya yang ada untuk mencapai tujuan organisasi. Semoga.

Penulis adalah mantan Ketua MWC NU Sukorejo 2016-2021