Di Bawah Bidara Ku Seka Air Mata

...

Oleh: Yusuf Setia Budi

Aku masih berjuang
Menggapai kemuliaan
Berulang kali terjatuh pada lubang kebodohan yang sama
Memaki diri dengan kedok kerendahan hati
Aku sadar, aku salah

Sekuat aku menahan tetesan air mata
Sekuat itu aku menahan jeritan tanpa kata
Lima batang cerutu lokal menemani malamku saat itu
Sebelas pena kupatahkan satu persatu
Dua ribu kata tercoret biru

Tanpa sadar celakku mulai luntur
Terhanyut air mata yang tak lagi mampu aku tahan
Perasaan yang terbangun begitu indah
Ternyata hanya sementara singgah

Hmmm, iya

Informasi Lainnya

Banser dan Natal: Khidmah Kemanusiaan Tanpa...

Oleh: Anis Hidayati Barisan Ansor Serbaguna (Banser) merupakan lembaga semi-otonom di bawah naungan Gerakan Pemuda (GP) Ansor, badan otonom...

Bola Liar Konflik PBNU dan Harapan Nahdliyyin...

Oleh: M. Irhamni Sabil, S.Sy., MH Sudah hampir satu bulan konflik yang menerpa jajaran Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) bergulir di ruang...

Seni Merawat Khidmah: Ikhtiar Menghidupkan...

Oleh: M. Adib Shofwan Khidmah di Nahdlatul Ulama bukan sekadar soal niat baik, tetapi juga membutuhkan seni, gagasan kreatif, dan strategi yang...

Gus Dur, sudah Lama Jadi Pahlawan Rakyat

Desember identik dengan bulan Gus Dur. Khaul ke-16 tahun ini digelar di mana-mana .Majalah AULA edisi bulan Desember tak absen mengangkat tema...

Advertisement

Press ESC to close