Oleh: Nur Fadhul Ma'arif
Pada era society (5.0) ini kita dituntut untuk menyimbangkan diri dengan akselarasi teknologi. Arus cepat teknologi informasi membuat kita pontang-panting mengikutinya. Saking cepatnya, sebagian orang hanya menggunakannya agar tidak dianggap gagap teknologi. Keinginan besar untuk selalu kekinian juga membuat buram mata dalam memahami maksud penggunaan teknologi.
Sejak abad ke-15, teknologi melalui media massa telah mampu merubah mindset manusia bahkan mampu menyekenario ulang sejarah sesuai keinginan penguasa teknologi. Keberhasilan itu juga terus berulang di era-era selanjutnya hingga sekarang, saat era media sosial bermunculan.
Pada era kemunculan WhatsApp misalnya, platform digital ini telah digemari berbagai kalangan, stiker atau gambar-gambar pun bermigrasi ke layar ponsel pintar. Kegemaran masyarakat menggunakan media sosial menjadi anak panah yang siap digunakan untuk membidik siapa saja.
Stiker atau gambar-gambar di media sosial dianggap mampu mewakili pesan singkat bahkan isi hati si pengirim. Lantas bagaimana bila stiker atau gambar-gambar itu mulai disisipi propaganda dan menggiring opini publik, mempermainkan mindset dan mencuci otak melalui video singkat dan meme.
Penulis sendiri sering mendapati kaum milenial melakukan bullying terhadap Parpol tertentu melalui stiker medsosnya. Mereka berprinsip bahwa pemimpin di parpol tersebut membuat kebijakan yang merugikan rakyat, sehingga pantas untuk dibully. Kebanyakan anak remaja juga tak tahu persis dan tak menyadari apa yang dilakukannya, mereka mengaku hanya ikut-ikutan saja.
Kita harus ingat ajaran kanjeng Nabi yang tidak pernah sedikitpun Rasulullah SAW mengajari kita untuk menghujat siapapun sekalipun kita dalam keadaan terzalimi. Kita telah nyata menikmati kekayaan negeri ini, maka pantaskah kita gemar menghujat.
Ada satu kisah yang mengingatkan kita akan hal ini. Yakni kisah saat Rasulullah menyuapi seorang pengemis buta, namun justru dibalas cacian. Rasulullah tak marah dan tidak bosan menyuapi sang pengemis. Hingga suatu hari sang pengemis merasa heran karena yang menyuapinya makanan orang lain. Suara langkah kaki, cara menyuapkan makanan, serta nada bicaranya berbeda dengan yang biasanya. Ya, saat itu bukan lagi Nabi Muhammad SAW yang menyuapkan makanan kepada si pengemis. Rasulullah telah wafat. Abu Bakar As-Siddiq, yang kemudian menjadi khalifah, mendatangi si pengemis dan menyuapinya makanan. Betapa terkejutnya si pengemis begitu tahu bahwa pria baik hati yang biasa datang dan menyuapinya adalah Nabi Muhammad SAW, orang yang selama ini dia benci. Dia pun menangis, menyesal selalu mencaci, menghina, dan memfitnah Rasulullah.
Oleh karena itu, mengajak kaum millenial menjaga fikrah agar tetap bersikap tasammuh, tawassuth, tawazzun dan ‘adalah, cerdas dan arif dalam berpikir kritis sebelum mengambil tindakan adalah keharusan.
Tasammuh artinya menjaga rasa toleransi, baik antar umat beragama maupun yang berbeda aqidah. Tawassuth (moderat) berarti mampu menempatkan diri di tengah, tidak condong kepada siapapun sehingga akan melahirkan sikap tawazun yakni seimbang. Sesuatu yang baik adalah yang berjalan dengan seimbang. Jika keseimbangan pemikiran dapat diraih, maka generasi milenial akan bersikap 'adalah atau adil terhadap siapapun. Tidak tumpul keatas dan tajam ke bawah.
Kita harus cermat dan hati-hati dalam menggunakan media sosial. Tidak buru-buru hanya untuk disebut kekinian tanpa menyadari maksud dan latar belakang. Telaah terlebih dahulu, baru ambil tindakan yang bijak. Terlebih saat ini telah ada polisi virtual (virtual police) yang akan mengawasi masyarakat dalam bermedia sosial dan tim cyber yang akan melakukan penegakan hukum.