Oleh: Moh. Muzakka Mussaif
Masyarakat desa sering diidentikkan dengan kemiskinan, keterbelakangan, dan kebodohan. Namun, pendapat semacam itu menurut hemat saya tidak berlaku lagi terlebih dengan adanya Alokasi Dana Desa (ADD) yang besarannya hingga 1 milyar. Bahkan, hal itu masih bisa ditambah modal kekayaan desa (bandha desa) yang jumlahnya sangat bervariatif.
Desa dan masyarakat desa yang dipimpin oleh kepala desa dibantu oleh Badan Permusyawaratan Desa (BPD) sangat berpotensi untuk menjadi desa mandiri yang unggul, maju, dan bermartabat. Terkait hal itu saya mencoba memantik diskusi bagaimana membangun desa yang penuh keberkahan.
Istilah ini sangat penting untuk ditekankan karena sering kali membangun desa itu malah meninggalkan ciri khas pedesaan. Artinya, mengubah konsep desa menuju kota bahkan berkeinginan mengubah desa menjadi kota.
Konsep demikian ini menurut saya kurang tepat. Mengapa demikian? Sebab, karakteristik desa dan masyarakatnya sangat berbeda dengan kota sehingga kurang tepat jika membangun desa itu mengacu konsep pembangunan perkotaan.
Desa Berkah Bermartabat
Terkait konsep pembangunan desa berkah ini, saya teringat konsep desa dan kota yang disampaikan ulama salaf.
Menurut pendapat ulama salaf yang saya baca dalam kitab Durrotun Nasihin, kota merupakan tempat atau gudangnya ilmu sekaligus gudangnya kemaksiatan. Sedangkan desa adalah gudangnya keberkahan dan kebodohan. Menurut ulama salaf, ilmu dapat menarik keberkahan sedangkan kebodohan dapat menarik kemaksiatan.
Pendapat itu bagi saya sangat luar biasa meskipun pendapat itu sudah populer ratusan tahun lalu. Mengapa demikian? Sebab, pendapat itu kalau kita kaitkan dengan fakta-fakta terkini masih relevan.
Pusat ilmu masih berada di kota, terbukti dengan banyaknya pusat studi yang terbaik dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi ada di kota. Di kota pula gudangnya kemaksiatan, terbukti banyaknya tempat hiburan, pelacuran, perjudian, mabuk-mabukan hingga korupsi tingkat tinggi. Sebaliknya, desa yang minim fasilitas memiliki kelebihan yakni penuh keberkahan. Mengapa? Sebab, dari desalah semua bahan makanan dibudidayakan dan dihasilkan sehingga tinggal di desa lebih tenang, guyub-rukun, dan bergotong royong karena kebutuhan primer sudah tersedia. Sayangnya, di desa banyak orang hidup dalam kebodohan dan kurang pendidikan.
Kalau mengacu pada pendapat salaf bahwa ilmu dapat menarik keberkahan, maka orang kota yang berilmu yang mau mengabdi dan bekerja di desa pasti akan mendapat keberkahan karena ilmunya sangat dibutuhkan di desa. Sebaliknya, kebodohan akan dapat menarik kemaksiatan jika orang desa yang kurang ilmu datang ke kota bekerja seadanya menikmati glamornya kota yang penuh dalam kemaksiatan. Ini sangat berbahaya bagi mereka dan kelak bagi desanya saat mereka kembali ke desa. Sebab, mereka bisa jadi membawa virus-virus kota ke desa. Jika hal demikian berkembang di desa, maka desa akan kehilangan keberkahannya. Maka bisa jadi kelak desa itu menjadi gudang kebodohan sekaligus kemaksiatan. Naudzu billah min dzaalik.
So, bagi warga desa mestinya harus berjuang untuk mencari ilmu di kota, tetapi ilmu itu harus dibawa pulang ke desa sehingga ilmu itu berpadu dengan keberkahan desa. Konsep pembangunan desa dengan cara demikian ini akan menjadikan desa yang luar biasa. Sebab cepat atau lambat desa itu akan menjadi desa maju yang bermartabat. Di desa inilah kelak akan menjadi desa yang penuh berkah sekaligus menjadi gudang ilmu.
Semangat membangun desa dengan mencerdaskan warganya.

Penulis adalah Pengasuh Majlis Taklim Aliyakub Rejosari Ngampel dan Almushlihun Kendal