Oleh: Dwi Ganjar
Pada hati yang terlukis. Suara gemeratak mulai turun. Angin merasuk memeluk pori, menggigil. Satu persatu membasahi kain yang dikenakan. Jejak langkah terpatri, hakiki pada roman. Risalah sunyi seperti kemarin, kini, dan nanti. Genderang juang terukir hingga sudut-sudut kota. Lautan ilmu tak berujung. Mutiara yang tersimpan baik-baik. Terjaga dalam kalbu.
K.H. A. Nur Kholis Ali, lahir pada tanggal 9 September 1943 di Desa Pandes. Salah satu desa yang terletak di ujung selatan kurang lebih 3 km dari kantor Kecamatan Cepiring Kabupaten Kendal. Beliau terlahir dari pasangan H. Ali Sajidin dan Hj. Mustafidah dan diberi nama Kunadi. Ketika lahir ia langsung diasuh oleh K.H. Bahrowi dan Hj. Aminah yang merupakan kakak dari Hj. Mustafidah. ?Pada usia 5 tahun ibu angkatnya, Hj. Aminah meninggal dunia. Kemudian K.H. Bahrowi ?menikah lagi dengan Hj. Mustaghfiroh yang tak lain adalah adik kandung dari Hj. Mustafidah ?yang merupakan ibu kandung dari K.H. A. Nur Kholis Ali.?
Pendidikan
Semasa kecil K.H. A. Nur Kholis Ali sering mengaji kepada kiai-kiai di kampung. Salah satunya ?kepada Kiai Turmudhi, seorang kiai yang sudah menerapkan pola pendidikan mengaji dan ?menulis. Selain itu, untuk memperdalam ilmu Safinatunnajah, Sulamunajat, kemudian tajwid, ?maka menimbalah ilmu kepada Kiai Rodhi. Berdasarkan tradisi setempat nama-nama santri yang ?mengaji diberi nama baru oleh Sang Kiai, dan namanya berganti menjadi Abdul Hamid.
?Selanjutnya ia belajar kitab Sulam Taufiq kepada Kiai Satari, mengaji kitab Alquran ?kepada Kiai Sayid dan Kiai Slamet kemudian Kiai Zainudin. Ketika mengaji ia dikenal sebagai ?murid yang paling kecil, namun terlihat aktif dan terampil sehingga tak sedikit yang akrab ?dengannya. Pada saat pembelajaran, terkadang juga sering tertidur, namun apabila ditanya ?langsung mengetahui jawabannya. Berkat ketekunan dan keuletannya ia pernah meraih juara 1 ?pada cabang lomba pidato di tingkat madrasah.?
Kemudian pendidikannya dilanjutkan di pondok pesantren An-Nur Kersan Kecamatan ?Pegandon Kabupaten Kendal pada tahun 1956-1959. Selama di Pesantren, ia boleh ?dikatakan cukup diistimewakan dan mendapat bimbingan langsung dari K.H. A. Nur ?Fathoni yang merupakan pengasuh di pondok pesantren tersebut. Setiap ba’da Magrib ia mengaji ?bersama putra-putra ndalem.
Pada tahun 1957 ia meraih juara 1 cabang lomba MTQ yang ?diselenggarakan oleh PC NU Kabupaten Kendal di Masjid Penaruban Weleri. Di ?tahun yang sama, beliau juga meraih juara 1 hafalan Nadhom Hidayatus Sibyan di pesantren An-Nur ?Kersan. Seperti remaja pada umumnya, ia juga gemar bermain bola. Hari Selasa ?dan Jumat adalah waktu libur di pesantren sehingga digunakan untuk bermain sepak bola. Saking ?cintanya ia dan teman-temannya memiliki kesebelasan tersendiri dan mempunyai seragam serta ?atribut bendera yang bernama P.S. Al Fajar Kersan yang kala itu merupakan kesebelasan terbesar ?lingkup pondok pesantren di Kabupaten Kendal.?
Setelah menamatkan pembelajaran di pesantren, pada tahun 1959 ia kembali ke ?rumah dan mengajar di Madrasah Miftahul Hidayah Ibtidaiyah Desa Pandes yang sekarang ?bernama Madrasah Diniyah Takmiliyah Ula. Selama kurang lebih 1 tahun ia mendalami ?ilmu Nahwu, Kitab Jurmiyah dan Imrithi kepada Kiai Misbah yang kelak menjadi ?mertuanya.?
K.H. A. Nur Kholis Ali kecil memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Berkeinginan menimba ?ilmu yang lebih dalam. Ketertarikannya pada ilmu pengetahuan membuncah, menyelami, ?merenungi, menghayati dalamnya Alquran dan kitab-kitab karangan ulama terdahulu. Akhirnya ?di tahun 1961 berangkatlah ke pondok pesantren Hidayatul Mubtadiin Lirboyo Kota Kediri ?Provinsi Jawa Timur di bawah asuhan K.H. Marzuqi Dahlan dan K.H. Mahrus ?Ali. Kesempatan itu ia gunakan untuk belajar dengan sungguh-sungguh. Membaca dan menulis ?hampir menjadi kegiatan kesehariannya di pesantren. Membeli buku-buku dan kitab-kitab ?menjadi kegemarannya. Selama di pesantren ia mendapat amanah sebagai rois kelas dari Ibtidaiyah ?hingga Tsanawiyah. Karena ketekunan dan keuletannya, di tahun 1964 ia meraih juara 2 ?cabang lomba menulis Khot Arab dan juara 3 cabang lomba melukis dalam ajang Porseni (Pekan ?Olahraga dan Seni) di Malang yang diselenggarakan oleh Pimpinan Wilayah IPNU-IPPNU Jawa ?Timur. ?
Tahun 1965 sepulang dari Lirboryo, meletuslah peristiwa G30 S/PKI. Huru-hara terjadi di ?sana sini, karena situasi dan kondisi yang mencekam serta terjadi kekacauan di mana-mana ?sehingga tidak memungkinkan kembali ke Lirboyo. Ia kemudian ?mendapat amanah sebagai kepala Madrasah Miftahul Hidayah Ibtidaiyah di Pandes. Pada tahun ?yang sama pula ia dijodohkan oleh orang tuanya dengan wanita yang sangat dicintai dan ?disayangi, Mustofiyah yang tak lain adalah anak dari Kiai Misbah yang ?dahulu pernah menjadi guru ngajinya.?
Pada tahun 1967 ia berkesempatan menunaikan ibadah haji yang pertama bersama orang ?tuanya. Sambil menunggu kedatangan kapal Pasifik Abito dari Surabaya, kantor PHI ?Semarang menyelenggarakan lomba tartil Alquran dan ia meraih juara 1. Pada ?perjalanan pulang haji di dalam kapal diselenggarakan lomba pidato, dan ?beliau keluar sebagai juara 2. Kemudian di tahun 1977 ia kembali menunaikan ibadah haji ?yang kedua, kali ini bersama istri tercinta.?
Pengabdian
Pengabdian K.H. A. Nur Kholis diawali pada tahun 1953 sebagai anggota Pandu Ansor Ranting Desa Pandes.Tahun 1961-1965 sebagai anggota IPNU Cabang Kediri.Tahun 1965 terpilih sebagai Wakil Ketua Ranting GP Ansor Desa Pandes dan menjadi Mayoret Marching Band GP Ansor yang menjadi kebanggan PC NU Kabupaten Kendal. Pada tahun 1970-1980 ia mendapat amanah sebagai Ketua Ranting Partai NU Desa Pandes. Tahun 1975 terpilih sebagai Wakil Rois Syuriah Pengurus Ranting NU Desa Pandes. Pada Konferensi Anak Cabang tahun 1980 ia terpilih sebagai Katib Syuriah MWC NU Kecamatan Cepiring periode 1980-1986. Selanjutnya pada Konferensi Pengurus Cabang NU Kabupaten Kendal tepatnya di tahun 1986 ia terpilih sebagai Wakil Ketua Tanfidziyah periode 1986-1989. Pernah pula ia menempati posisi strategis, yaitu pada Konferensi Pengurus Cabang NU tahun 1989 ia terpilih sebagai Ketua Tanfidziyah periode 1989-1992. Pada perhelatan Konferensi berikutnya di tahun1992 ia terpilih kembali untuk kedua kalinya sebagai Ketua Tanfidzyiah PC NU Kabupaten Kendal periode 1992-1997.
K.H. A. Nur Kholis Ali terkenal sebagai aktivis Kendal yang gigih dalam menyampaikan pemikiran-pemikiran progresif. Wawasan kebangsaan, keilmuan, serta loyalitas keorganisasiannya tak diragukan lagi, terbukti selama menjadi Ketua Tanfdiziyah Cabang NU Kendal hampir seluruh desa di Kabupaten Kendal telah dikunjungi. Perhatiannya betul-betul dicurahkan untuk mengaktifkan NU di tingkat kecamatan maupun ranting. Pengkaderan terus menerus dilaksanakan. Sosialisasi hasil keputusan Muktamar NU ke-27 di Situbondo Jawa Timur (1985), yaitu kembalinya NU pada khittah 1926 disampaikan secara masif dari tingkat ranting hingga cabang. Pemahaman tentang ahlussunnah wal jamaah pun makin dipertajam, dengan harapan akan melahirkan generasi penerus yang berdedikasi tinggi pada organisasi, bangsa, dan Negara.
Pada Konferensi tahun 1997 ia diberi amanah sebagai Mustasyar Pengurus Cabang NU Kabupaten Kendal periode 1997-2002. Tahun 1998 dilaksanakan Konferensi Wilayah PWNU Jawa Tengah di Purwodadi dan ia pun menempati posisi yang cukup strategis di tingkat Provinsi, yaitu sebagai Wakil Ketua Tanfidziyah periode 1998-2003. Konferensi berikutnya di tahun 2003 ia terpilih kembali sebagai Wakil Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Tengah periode 2003-2008. Pada tahun 2008-2013 ia diberi amanah sebagai Wakil Rois Syuriah PWNU Jawa Tengah. Kemudian pada perhelatan Konferensi Wilayah di tahun 2013 terpilih sebagai Mustasyar PWNU Jawa Tengah periode 2013-2018. Pada Konferensi tahun 2018 untuk kedua kalinya ia terpilih kembali sebagai Mustasyar PWNU Jawa Tengah periode 2018-2023.
Buku
Selain aktif di organisasi, K.H. A. Nur Kholis juga sangat suka membaca dan menulis, kebiasaan yang menjadi kegemaran sejak menimba ilmu di pondok pesantren An-Nur Kersan. Gagasan cerdas serta kegelisahan-kegelisahannya tentang kehidupan dituangkan dalam beberapa buku yang diterbitkan secara pribadi, diantaranya: Koleksi Permata Hijau (1989), Roman Takdir Ilahi (1965), Apa Daya Kita Menghadapi Tantangan Zaman (2015). Tulisannya pernah dimuat diberbagai surat kabar, salah satunya majalah Genta, Solo. Kumpulan koleksi (kliping) majalah NU dan buku-buku NU dari berbagai tahun telah tertata dan tersusun rapi di almari.
Pengalaman lain
Pada tahun 1999 K.H. A. Nur Kholis menjabat Wakil Ketua Panitia Pengawas Pemilihan Umum Dati II Kabupaten Kendal. Tahun 2003 tepatnya di usia yang ke-60 tahun mendapat mandat sebagai petugas TPIHI (Tim Pembimbing Ibadah Haji Indonesia) Provinsi Jawa Tengah. Ia juga pernah didaulat sebagai penyaji makalah pada Seminar Budaya di Pendopo Kabupaten Kendal. Sering pula ia menjadi pembicara diberbagai kegiatan Banom NU.
Keluarga
Istri tercintanya, Hj. Mustofiyah senantiasa mendukung penuh aktivitas suami, memberikan semangat serta pengertian kepada putra-putrinya tentang arti perjuangan yang sesungguhnya. Hj. Mustofiyah sendiri pernah menjadi Wakil Ketua Muslimat NU Cabang Kendal. Oleh karena itu, anak-anaknya sangat mendukung kegiatan orang tua sehingga menambah semangat dan tekun belajar, serta gigih dalam meraih cita-cita.
Selain aktif mengabdikan diri sebagai pengurus NU di berbagai tingkatan, K.H. A. Nur Kholis Ali tidak pernah lupa akan kewajibannya dalam memenuhi kebutuhan keluarga. Ia memiliki usaha di bidang pertanian, sewa menyewa, dan usaha penggilingan padi. Pendidikan putra putinya pun tergolong amat sukses.
Anak pertamanya, dr. Ulya Huda adalah alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sultan Agung Semarang. Saat ini ia bertugas sebagai Kepala UPTD Puskesmas Gemuh. Selain sebagai dokter, ia juga aktif mengajak diskusi bersama generasi muda NU tentang ilmu kesehatan. Anak keduanya, Ulin Nuha, S.T.P. saat ini bekerja di Farmasi Kalbe Farma Jakarta. Anak ketiga, Ulfis Sana, S.P. kini berdomisili di Rembang, yang sebelumnya pernah menjadi tenaga pendidik di MTs NU 08 Gemuh. Anak keempat, Ulfin Nada telah berpulang diusia kurang lebih satu tahun, di mana tahun tersebut adalah tahun kesedihan bagi beliau dan keluarga. Putra kelima, Ultuf Bunaya, S.T. saat ini bekerja di Farmasi Yogyakarta. Ulfiz Zuhla, S.T anak keenam kini bekerja di Farmasi Kecantikan Semarang. Sedangkan Ulfatul Lutfa, S.T., anak terakhir saat ini bekerja di Farmasi Alat-Alat Kesehatan Semarang.
Selain sukses membina organisasi sukses pula membina keluarga. Hal demikian tentu menjadi teladan dan nilai tersendiri bagi aktivis Nahdlatul Ulama, yang tidak mengesampingkan perhatian dan pendidikan keluarga.
Kini diusianya yang ke-77 tahun, K.H. A. Nur Kholis Ali masih terus aktif mengabdikan diri sebagai Mustasyar PW NU Jawa Tengah. Di kampung halamanya ia juga membuka ruang-ruang majelis ilmu kepada masyarakat setempat. Hampir selama hidupnya mendharmabaktikan dirinya, ilmunya, tenaganya, dan pemikirannya untuk kemaslahatan umat melalui organisasi Nahdlatul Ulama. Beliau bagai mutiara yang tersimpan baik-baik, senantiasa terjaga, meniti karir pengabdian di organisai dari tingkat paling bawah, yaitu dari ranting, berproses, menempa diri, berkutat dengan keras pemikiran dan tantangan kemajuan zaman hingga mampu melanjutkan pengabdiannya sampai di tingkat Provinsi. Tentu hal ini menjadi inspirasi bagi sesama, memberikan kemanfaatan tiada henti. Ilmunya bagai lautan tak bertepi. Mencurahkan segala jejak pengabdian dan pengalaman yang sarat makna.
Penulis adalah Sekretaris Pemerintah Desa Kaliayu Kecamatan Cepiring