KH Mohammad Danial Royyan, Kiai Kendal Penulis Handal

Oleh: Subhan Abidin

KH Mohammad Danial Royyan lahir di Kendal, Jawa Tengah pada 25 Juni 1959 dari pasangan suami istri Kiai Rayyan bin Husain dan Aisyah binti Kiai Umar Hasan.

Tokoh yang sangat familiar di Kabupaten Kendal ini memulai pendidikan agamanya di Pondok Pesantren Salaf Tegalrejo Magelang usai lulus dari MTs Sunan Abinawa Pegandon pada tahun 1975. Saat itu Pondok Pesantren Salaf Tegalrejo diasuh oleh KH Chudlori, seorang kiai yang terkenal dengan sifat wira’inya. KH Chudlori wafat pada tahun 1977 dan dilanjutkan oleh putranya, yakni KH Abdurrochman Chudlori (Mbah Dur) dan KH Ahmad Muhammad Chudlori (Gus Muh).

Setelah menyelesaikan pendidikan agama di Tegalrejo, Kiai Danial kemudian menimba ilmu di Pondok Pesantren Batukan Kediri, Jawa Timur di bawah bimbingan Kiai Jamaludin. Namun beliau hanya belajar di pondok tersebut selama 6 bulan.

Awal tahun 1980 Kiai Danial melanjutkan belajar di Pondok Pesantren An Nidhom Al Islamy Sukabumi, Jawa Barat di bawah bimbingan Kiai Abdullah Mukhtar hingga tahun 1987. Di pesantren ini, beliau belajar kitab-kitab agama mulai dari Nahwu dan Sorof, ilmu Balaghoh, ilmu Mantiq, ilmu adab diskusi dan berdebat, ilmu Fikih, ilmu hadis, tafsir, tasawuf.

Saat belajar di pesantren tersebut, Kiai Danial pernah mengaji kepada Al Alim Al Sholih Al Habib Abdullah bin Muhammad Al Athos. Habib Abdullah membacakan kitab Ihya Ulumuddin dan Shahih Al Bukhori dengan cepat secara bergantian tanpa membacakan maknanya. Hanya santri yang dianggap sudah alim saja yang diperbolehkan mengikuti pengajian tersebut, dan Kiai Danial salah satunya.

Setelah menyelesaikan penddikan di pondok pesantren Kiai Danial kemudian menikah dengan Hj. Maftuhah, putri ulama besar NU Kendal Kiai Ahmad Abdul Hamid pencetus kalimat Wallahul Muwaafiq ila Aqwaamit Thariq. Pernikahan itu terjadi pada 9 September 1988. Dari pernikahan itu, beliau dikaruniai 2 putra dan putri.

Kiprah Kiai Danial di organisasi NU tak diragukan lagi. Pada tahun 1992-1997 beliau telah mengabdi di Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Kecamatan Gemuh sebagai Katib Syuriah. Pada tahun 1997-2002 beliau bergabung dengan Pengurus Cabang (PC) NU Kabupaten Kendal sebagai Wakil Katib Syuriah. Pada tahun 2003-2007, beliau didaulat menjadi Rais Majelis Syuro Partai Kebangkitan Bangsa (PKB( Cabang Kendal. Pada tahun 1999-2009, diberi amanat menjadi anggota DPRD Kendal, tahun 2008 menjabat sebagai Katib Syuriah PCNU Kendal dan mulai tahun 2012 dipercaya sebagai Ketua Tanfidziyah PCNU Kendal sampai sekarang.

Salah satu talenta atau keunggulan para kiai NU adalah produktifitasnya dalam menulis. Dalam setiap generasi, para kiai NU selalu mengabadikan produk pemikirannya ke dalam sebuah kitab atau buku. Tidak semua kiai mau dan mampu menulis, apalagi dengan kualitas tulisan yang bagus. Beruntung Kabupaten Kendal dapat melahirkan kiai yang piawai dalam menulis. Tradisi kiai penulis Kendal tetap terjaga mulai dari KH Abdul Hamid, KH Chumaidi Umar, dan sekarang KH Mohammad Danial Royyan.

Jejak pemikiran Kiai Danial dapat dilihat dari kitab yang ditulisnya dalam bahasa Arab: Hakikat Ahlu Sunnah wal Jama’ah. Dalam kitab tersebut, beliau menerangkan argumen-argumen paham ahlu sunnah yang menjadi landasan pemikiran kiai-kiai NU sampai sekarang. Beliau rajin dan ulet mengumpulkan qaul-qaul ulama salaf sampai dengan ulama khalaf yang menjadi pondasi bagi pemikiran ahlusunnah wal Jamaah. Catatan-catatan ini menjadi penting agar pemikiran-pemikiran ulama terdahulu masih tetap terdokumentasikan dan dapat dibaca oleh kita yang berada di generasi saat ini dan anak cucu kita kelak pada generasi mendatang. Jangan sampai pemikiran-pemikiran ulama ahlussunnah tergerus oleh pemikiran radikal, karena mereka semakin gencar mengkampanyekan ide-ide radikalnya diberbagai media, baik tertulis maupun media sosial.

Dalam bagian awal kitab Hakikat Ahlu Sunnah wal Jama’ah, Kiai Danial memulai dengan meletakkan landasan pemikiran ahlussunah yang bersumber dari dua ulama besar di bidang teologi, yaitu Imam Abu Hasan Al Asyari dan Imam Abu Mansur Al Maturidi. Beliau berdualah peletak dasar paham ahlusunnah yang dipakai sampai sekarang. Pernyataan bahwa ahlusunnah adalah paham yang berpegang pada pendapat Imam Abu Hasan Al Asyari dan Imam Abu Mansur Al Maturidi ini juga ditegaskan oleh Sayyid Abdullah bin Alwi Al Haddad. Sebelum Sayyid Al Haddad menegaskan hal tersebut, ulama yang juga menyatakan hal yang sama adalah Imam Taqiyudin Al Subki dan Sayyid Murtadha Al Zabidi. Penegasan ini menjadi penting agar warga NU yang hidup di masa sekarang paham dan tahu bahwa ahlusunnah ala NU adalah paham yang terdapat mata rantai dengan ulama hebat zaman dahulu (Hakikat Ahlu Sunnah wal Jama’ah, hal. 5-6).

Isu hubungan antara agama dan negara kembali memanas lagi akhir-akhir ini. Hal ini disebabkan karena semakin gencarnya golongan Hizbut Tahrir dalam mengkampanyekan negara Islam. Mereka berpendapat bahwa negara Indonesia ini harus diubah menjadi negara Islam dengan sistemnya menganut sistem khilafah. Isu ini apabila dibiarkan begitu saja akan menimbulkan bahaya besar yang bahkan sampai memecah belah bangsa, seperti yang sedang terjadi di beberapa negara di Timur Tengah.

Bagi ahlusunnah, sebagaimana dinyatakan oleh Imam Al Mawardi dan Ibn Khaldun, hubungan antara agama dan negara adalah hubungan yang saling membutuhkan dan tidak dapat dipisahkan. Keberadaan negara menjadi penting untuk menopang kegiatan keagamaan dan keberadaan agama juga penting untuk mempertahankan negara. Imam Al Ghazali menegaskan bahwa agama tidak akan dapat menjadi sempurna tanpa adanya negara. Agama dan negara bagaikan anak kembar. Agama sebagai dasar, sedangkan pemimpin negara adalah orang yang menjaga agama agar tetap dapat dijalankan oleh pemeluknya.

Berbeda dengan golongan radikal yang terus saja memaksakan bahwa bentuk negara yang mayoritas pendudukannya muslim seperti di Indonesia ini haruslah berbentuk negara Islam, bersistem khilafah, dan peraturan yang digunakan adalah syariat Islam. Mereka menginginkan bentuk negara Indonesia yang sekarang ini seperti bentuk negara pada jaman kekhalifahan Khulafaur Rasyidin. Apabila bentuk negara tidak seperti yang mereka pikirkan, maka negara itu termasuk negara kafir dan harus dikembalikan menjadi negara Islam. Untuk mencapai tujuan tersebut, mereka tidak peduli walaupun harus berperang yang justru hanya menghasilkan perpecahan di antara pendudukan negara tersebut, bahkan perang antar sesama muslim.

Ulama ahlusunnah menarik kesimpulan bahwasanya tugas seorang pemimpin negara adalah menjaga eksistensi agama dan mengatur urusan dunia. Bagi ahlusunnah, yang terpenting dari suatu negara adalah sejauh mana negara tersebut dapat menjaga eksistensi agamanya dan mengatur urusan duniawi agar tidak bertabrakan dengan aturan agama tanpa memerdulikan bentuk negara yang dipilih. Apapun bentuk negaranya, entah monarki maupun demokrasi, asalkan warga negaranya dapat beribadah sesuai dengan ajaran agamanya masing-masing itu sudah mencukupi. Persoalan bentuk negara adalah persoalan ikhtilaf yang sulit disatukan oleh semua golongan terutama di Indonesia yang sudah terlanjur terdiri dari berbagai suku, ras, agama yang berbeda-beda dan apabila terus dipaksakan hanya akan berujung konflik berkepanjangan yang tentu saja sangat kontra produktif. Oleh karena itu, ulama NU menerima Pancasila yang sudah dapat diterima semua golongan yang ada di Indonesia sebagai dasar dari Negara Republik Indonesia (hakikat, hal. 75-78).

Salah satu sumbangan pemikiran KH Mohammad Danial Royyan yang lainnya adalah beliau dengan sangat presisi memetakan siapa yang pertama kali melakukan amalan tahlil. Melalui buku Sejarah Tahlil: Kumpulan Tahlil, Talqin, dan Ziarah Kubur dalam Sejarah dan Argumentasinya beliau mengungkap bahwa ulama yang pertama kali melakukan tahlil adalah Sayyid Ja’far Al Barzanji dan Sayyid Abdullah bin Alwi Al Haddad (hal.3). Akan tetapi, pendapat yang lebih kuat adalah Sayyid Abdullah bin Alwi Al Haddad adalah orang yang pertama kali menyusun tahlil karena beliau lebih dahulu wafat (1132 H) dibandingkan Sayyid Ja’far al-Barzanji (1177 H). Keduanya merupakan ulama sekaligus wali besar. Tahlil yang dilakukan oleh kaum Muslim di Indonesia dewasa ini hampir sama dengan tahlil yang dibacakan oleh Sayyid Abdullah bin Alwi Al Haddad di Yaman.

Mengapa hal ini perlu dan penting untuk ditampilkan di tulisan ini?  Karena jangan sampai orang-orang di generasi sekarang terpengaruh oleh pemikiran kubu sebelah dan meyakini bahwa tahlil ini adalah amalan yang seolah-olah dibuat-buat oleh kiai Indonesia dan tidak bersanad kepada generasi sebelumnya dan karena ketidak tahuan akan sejarah tahlil ini. Mata rantai ini penting karena agama Islam adalah agama yang didasarkan kepada sanad atau mata rantai yang kembali kepada Rasululah SAW dan tidak berdiri sendiri. Adapun pada jaman Rasulullah SAW masih hidup tidak ada amalan yang diajarkan beliau yang mirip dengan tahlil, bukan berarti tahlil yang diamalkan sekarang ini termasuk bid’ah yang sesat, karena sejatinya bacaan-bacaan dalam tahlil adalah valid dan sah bersumber dari Rasul SAW.

Sumbangsihnya yang lain dalam kepedulian kesehatan umat adalah diprakarsai berdirinya Rumah Sakit Nahdlatul Ulama (RS NU) Kendal. Di bawah kepemimpinan duet KH Mohammad Danial Royyan sebagai Ketua Tanfidziyah dan KH Izzudin Abdussalam sebagai Rais Syuriah, PCNU Kendal menggagas berdirinya RS NU.  Berdirinya RS NU sudah dirindukan oleh warga NU Kendal karena di Kendal sendiri belum ada rumah sakit milik warga NU padahal NU mayoritas di Kendal.

Ada anekdot yang familiar di Kendal, bahwa NU dan Muhammadiyah di Kendal itu tidak saling bermusuhan, bahkan bekerja sama di bidang kesehatan: Muhammadiyah menyediakan rumah sakitnya, dan NU menyediakan pasiennya. Anekdot ini cukup membuat kita sebagai warga NU merasa kecut di hadapan saudara kita, Muhammadiyah. NU yang didaulat sebagai Ormas Islam terbesar ini tidak mampu membangun rumah sakit barang satu buahpun di Kendal. Perasaan kecut ini semakin menjadi manakala kita tahu bahwa Rumah Sakit Islam (RSI) Kendal yang terletak di Bantir itu dulunya adalah milik NU, dan sekarang menjadi milik Muhammadiyah. Semoga pembangunan  RS NU ini segera terwujud dan masyarakat NU Kendal bisa menikmati rumah sakit yang menjadi milknya sendiri.

Selain rumah sakit, PCNU Kendal juga menggagas berdirinya kampus NU di Kendal. Apabila keduanya terwujud, maka ini akan menjadi legasi yang penting bagi warga NU di Kendal.

Meskipun tergolong kiai sepuh, akan tetapi eksistensi KH Mohammad Danial Royyan di media sosial tidak kalah dengan generasi milenial. Abah Danial merupakan salah satu kiai yang aktif di media sosial, baik itu Faceebook, Twitter, Instagram, maupun You Tube. Dawuh-dawuh hikmah yang adem seringkali muncul di laman media sosial beliau. Pengajian Ihya Ulumuddin yang digelar setiap akhir pekan juga dapat di simak di kanal You Tube. Selain itu, beliau juga masih aktif menulis di website NU Kendal Online. Beberapa karya masterpiecenya diantaranya adalah: Mohammad Danial Royyan, Hakikat Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah, Yogyakarta: Putra Menara, t.th dan Mohammad Danial Royyan, Sejarah Tahlil : Kumpulan Tahlil, Talqin, dan Ziarah Kubur dalam Sejarah dan Argumentasinya, Kendal: LTN NU Kendal dan Pustaka Amanah, 2013.

https://pcnukendal.com/sejarah-tahlil/

Informasi Lainnya

Banser dan Natal: Khidmah Kemanusiaan Tanpa...

Oleh: Anis Hidayati Barisan Ansor Serbaguna (Banser) merupakan lembaga semi-otonom di bawah naungan Gerakan Pemuda (GP) Ansor, badan otonom...

Bola Liar Konflik PBNU dan Harapan Nahdliyyin...

Oleh: M. Irhamni Sabil, S.Sy., MH Sudah hampir satu bulan konflik yang menerpa jajaran Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) bergulir di ruang...

Seni Merawat Khidmah: Ikhtiar Menghidupkan...

Oleh: M. Adib Shofwan Khidmah di Nahdlatul Ulama bukan sekadar soal niat baik, tetapi juga membutuhkan seni, gagasan kreatif, dan strategi yang...

Gus Dur, sudah Lama Jadi Pahlawan Rakyat

Desember identik dengan bulan Gus Dur. Khaul ke-16 tahun ini digelar di mana-mana .Majalah AULA edisi bulan Desember tak absen mengangkat tema...

Advertisement

Press ESC to close