Oleh: Robit Ikhwan
KH. Muhammad Adib Anas Noor atau Abah Adib adalah putra pertama dari lima bersaudara yaitu KH. Ahmad Marfu’in, KH. Misbakhul Fuad, Nyai Hj. Af’idatun Nisa dan Nyai Hj. Titin. Beliau dilahirkan pada tanggal 5 November 1961 dari pasangan KH. Anas Sholihin Noor dan Nyai Hj. Aminah. Keduanya merupakan pemuka agama di tempat tinggalnya yakni Desa Pamriyan, Kecamatan Gemuh, Kabupaten Kendal dan pendiri sekaligus pengasuh pondok pesantren Roudlotul Muta’allimin. Kedua orang tuanya mengajarkan dan melatih putra-putrinya untuk senantiasa taat dalam beribadah. Kakeknya, KH. Noor Fathoni adalah pendiri dan pengasuh pondok pesantren An-Nur Kersan Penanggulan Pegandon. Dari nasab tersebut, Abah Adib memiliki garis kiai dan mewarisi keilmuan ayah dan kakeknya.
Kecerdasan beliau terlihat sejak kecil. Ilmu-ilmu yang beliau pelajari di pondok pesantren antara lain nahwu, sorof, fikih, tasawuf dan lain sebagainya. Ketekunan dan keuletan beliau dalam mencari ilmu menjadikannya seorang yang memiliki wawasan luas tentang keislaman.
Pendidikan formal yang ditempuhnya hanya sampai tingkat sekolah menengah atas (SMA) saja karena beliau lebih fokus mempelajari ilmu agama dengan nyantri di pesantren ayahnya yaitu pondok pesantren Raudlatul Muta’allimin. Beliau mendapatkan pelajaran agama dan ilmu lainnya langsung dari ayahnya, KH. Anas Noor Fathoni. Beliau kemudian melanjutkan pendidikannya di pondok pesantren Al-Balagh Bangilan Tuban di bawah asuhan KH. Misbah Musthofa.
Saat nyantri di pondok pesantren Al-Balagh Bangilan Tuban beliau jarang mengaji, tapi hanya khidmah kepada pengasuh pondok KH. Misbah Musthofa dan keluarga ndalem dan guru-gurunya. Di pesantren ini, Abah Adib pernah diuji keilmuannya oleh KH. Misbah Musthofa untuk menata kitab-kitab yang telah diacak oleh KH. Misbah Musthofa. Alhasil, beliau berhasil menata kitab itu. Beliau nyantri di pondok pesantren Al-Balagh selama 6 bulan, 6 hari, dan 6 jam sebelum beliau harus pulang karena ayahnya sakit parah. Setelah ayahnya wafat pada tanggal 25 Agustus 1983, Abah Adib diminta ibunya untuk melanjutkan perjuangan ayahnya mengasuh pesantren dibantu adiknya KH. Ahmad Marfu’in.
Abah Adib menikahi seorang perempuan asal Desa Tamangede, Kecamatan Gemuh Kabupaten Kendal, Hj. Nur Hayati Auliya Rahmah. Dari pernikahan ini, keduanya dianugerahi lima orang anak, yaitu Ning Ida Fitri Nahdhiyati, Ning Dina Nadhifa, Ning Nur Rahmatika, Gus Muhammad Arjunnaja, dan Ning Wilda Nurul Karimah. Beliau juga telah memiliki empat orang cucu, yaitu Muhammad Nawal Udzma, Nahij Nabhan, Kaysa Manista Azza, dan Queen Shela Qashina. Seperti orang tuanya, Abah Adib juga sangat memperhatikan pendidikan agama putra-putrinya dengan harapan dapat meneruskan perjuangan dakwah Islam ayah dan kakeknya.
KH. Muhammad Adib Anas Noor merupakan salah satu kiai yang dianggap sepuh oleh para kiai di Kabupaten Kendal. Beliau adalah pendiri sekaligus pengasuh pondok pesantren Wasilatul Huda yang terletak di Desa Tamangede, Kecamatan Gemuh, Kabupaten Kendal Pondok pesantren yang berdiri tahun 1993 ini dibangun di atas tanah wakaf KH. Abdul Wahab yang merupakan mertua beliau dan mempunyai luas tanah 2000 m² dengan bangunan seluas 1659 m².
Pondok pesantren Wasilatul Huda adalah lembaga pendidikan dan pengajaran agama Islam yang sejak berdiri masih mempertahankan status salafiyahnya dengan menganut thoriqoh at-ta’lim watta’allum, senantiasa menjadi rujukan pengembangan keilmuan keislaman dan dakwah multikultur melalui kegiatan ta’lim, tarbiyah dan ta’dib melalui pembekalan moral, skill, dan penguatan di bidang ilmiah-amaliah dan amaliah-ilmiah serta mengembangkan wawasan. Pondok ini didirikan dengan tujuan menciptakan kepribadian muslim yang beriman dan bertaqwa kepada Allah swt, berakhlak mulia, serta melestarikan nilai-nilai amaliah salafus sholih.
Dengan uang yang dimilikinya saat itu hanya 15.000 rupiah, Abah Adib membangun pondok pesantren bersama santri-santrinya dengan material pasir dan batu dari sungai Bodri. Abah Adib juga sering makan bersama satu piring bersama-sama dengan santrinya demi berdirinya pondok pesantren. Beliau juga tak luput dari fitnah orang-orang yang membencinya, namun beliau tetap sabar dan berjuang memohon pertolongan Allah swt. Tak hanya itu, beliau juga melakukan tirakat puasa 40 hari tanpa tidur, berbuka dan sahur hanya dengan sesapan air putih dan secuil palawija.
Pondok Pesantren yang berciri salafiyah ini memiliki kekhasan kajian khas kitab kuning diiringi bimbingan ubudiyah keseharian. Kegiatan sehari-harinya beradaptasi dengan perkembangan zaman. Beberapa kitab kuning yang dipelajari antara lain kitab fiqih, akhlak, akidah, tauhid, dan lain-lain dengan model pembelajaran bandongan dan sorogan. Sementara kegiatan-kegiatan yang bersifat ubudiyah para santri ditekankan untuk salat maktubah secara berjamaah, dzikir, wirid dan istighotsah setelah salat maktubah sesuai tuntunan dari Abah Adib. Salat-salat sunnah seperti tahajud, witir dan kegiatan lain seperti manaqib, maulid, dan aurodan juga menjadi rutinan di pondok pesantren ini.
Di pondok pesantren Wasilatul Huda yang diasuhnya, beliau mengadakan pengajian umum dan mujahadah Ahad pon dan Selosonan. Pengajian yang dimulai sejak tahun 2009 dilakukan selapan (35 hari) sekali. Pemilihan hari Ahad diambil dari hari lahir beliau dan pon merupakan pasaran lahirnya istri beliau. Dalam kegiatan mujahadah selapanan Ahad pon ini dikaji kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Ghazali dan doa bersama. Mujahadah dimulai usai jamaah salat subuh sampai duhur dengan rangkaian acara diawali sema’an dan khataman Alquran, tahlil dan manaqib, pembacaan Maulidur Rasul, dilanjutkan pengajian kitab Ihya’ ulumuddin dan diakhiri doa bersama. Pengajian ini sangat ditunggu-tunggu oleh para jamaah. Penyampaian khas Abah Adib dalam mengaji kitab Ihya Ulumuddin selalu dipaparkan dengan contoh dalam kehidupan sehari-hari sehingga mampu dipahami para jamaah yang memiliki latar belakang bermacam-macam.
Rutinan lainnya adalah Selosonan, pengajian rutin yang merupakan peninggalan ayahnya. Mujahadah yang dilaksanakan setiap hari Selasa ini mengkaji kitab Tanbihul Ghafilin karya Syekh Faqihuddin dengan rangkaian acara khataman Alquran setelah subuh, pengajian kitab Tanbihul Ghafilin, dan ditutup dengan doa bersama. Para jamaah yang datang berharap dengan mengikuti mujahadah tersebut akan mendapatkan hidayah dari Allah dengan washilah barokah doa Abah Adib yang terkenal akan kealiman dan kewira’iannya.
Bagi warga Jawa Tengah, khususnya daerah Kabupaten Kendal dan sekitarnya, mendengar nama Abah Adib akan mengingatkan pada sosok kiai sederhana dan penuh karomah. Beliau memiliki hati yang selalu menangis kepada Allah, menangis melihat umat dan menangis karena rindu kepada Allah. Meski terkenal di mana-mana, sering diundang untuk mengisi pengajian di berbagai tempat, beliau tetap hidup dengan sederhana. Abah Adib juga terkenal sebagai ulama yang memiliki psikokinesis tinggi. Beliau mampu mengetahui maksud, tujuan, ataupun permasalahan setiap tamu yang datang kepadanya. Beliau akan langsung memberikan nasihat dengan tepat sasaran. Tamu dari berbagai latar belakang tetap dihormati dan dimuliakannya. Dengan arif, Abah Adib mendoakan mereka agar memperoleh kebahagiaan dan petunjuk dari Allah swt.
Karakter beliau mencerminkan para guru spiritualnya, yakni Abah Mangli Magelang, Abah Nasuha Sumur Ngampel, Abah Moga, Abah Misbah, dan Abah Anas Noor ayahnya. Salah satu kelebihan Abah Adib adalah keistiqamahannya. Beliau tidak hanya mengajar mengaji, tetapi juga melatih para santrinya untuk selalu meningkatkan keimanan dan kekhusyukan dalam beribadah dan berdoa. Beliau dikenal sebagai kiai yang banyak memiliki ilmu hikmah atau kesaktian sejak kecil. Sejak umur 13 hari, beliau tidak minum air susu ibu (ASI) seperti bayi pada umumnya. Beliau memiliki kebiasaan yang dilakukan sejak kecil sampai sekarang, yakni tidak pernah tidur pada malam hari, dan tirakat dengan hanya minum air putih selama 7 tahun.
Sosok kiai karismatik, alim, dan bijaksana ini sangat menjaga dan berhati-hati dalam segala hal. Ketika diundang mengisi pengajian, beliau tidak mau menerima bisyaroh karena hanya mengharap ridho Allah swt dan memperjuangkan syiar agama Islam. Beliau juga sangat memperhatikan kedisiplinan dan kebersihan, sampai-sampai beliau tak canggung mengambil sampah di selokan dengan tangannya sendiri.
Penulis adalah Mahasiswa UIN Walisongo Semarang dan Santri Pondok Pesantren Wasilatul Huda