Oleh: Syamsul Ma’arif
Subuh baru saja selesai. Pagi pelan-pelan menyapa dengan rona cerah yang masih dibuliri kesumba hitam merona. Di suatu sudut anak-anak itu telah siap dengan pakaian kebesaran ala pesantren yang dengan bangga mereka kenakan. Pada hamparan dada masing-masing kitab Kifayatul Akhyar dengan erat mereka dekap. Para santri itu berjajar di aula utama mengumandangkan tasrifan serempak sebelum pembacaan pelajaran oleh pengasuh dimulai. Gempita alunannya meretakkan seisi ruangan. Menembus kelam, menghempas muram.
Begitulah suasana pondok pesantren al-Musyaffa’ selepas subuh. Sebagai sebuah lembaga pendidikan Islam pondok pesantren al-Musyaffa’ adalah satu diantara pondok pesantren dengan perkembangan paling pesat di Kabupaten Kendal, bahkan Provinsi Jawa Tengah. Kesuksesan ini tidak bisa lepas dari sosok sentral di belakangnya, yakni KH. Muchlis Musyaffa’ sebagai pendiri dan pengasuh pondok pesantren yang berlokasi di Dukuh Kampir, Desa Sudipayung, Kecamatan Ngampel, 7 km arah selatan dari pusat kota Kendal.
KH. Muchlis Musyaffa’ lahir di Kendal 09 Juni 1956, tepatnya di sebuah dukuh kecil bernama Kampir, Desa Sudipayung, Kecamatan Ngampel. Beliau lahir di lingkungan keluarga pesantren yang lekat dan ketat dengan penguasaan disiplin ilmu-ilmu agama. Orang tua beliau adalah pasangan Kyai Musyaffa’ pengasuh pondok pesantren Tarbiyatul Mubtadi’in, putra Kyai Umar pendiri Masjid Kampir dan Nyai Hj. Richaniyah, putri KH. Abdul Wahab bin Abdullah, pengasuh pondok pesantren Gubugsari, Pegandon.
KH. Muchlis Musyaffa’ adalah anak ketiga dari lima bersaudara; KH. Adib Musyaffa’, Nyai Siti Fadhilah Musyaffa’, KH. Muchlis Musyaffa’, Nyai Hj. Maryam Musyaffa’, dan Nyai Hj. Bariroh Musyaffa’. Beliau dikenal sebagai pribadi yang sederhana, karismatik, berwibawa, sedikit bicara, dan tenang dengan perawakan sedang seperti orang Jawa kebanyakan.
Pendidikan dasar keagamaan beliau peroleh dari orang tua, baik secara langsung di bawah bimbingan orang tua berupa pemahaman akan baca tulis Alquran, fiqh, tauhid, tarikh atau secara tidak langsung berupa teladan tingkah laku kedua orang tua. Menurut penuturan murid-murid beliau, orang tua KH. Muhlis Musyaffa’ adalah pribadi yang istiqomah, ahli tirakat, dan tawadu’. Pernah suatu ketika saat kedua orang tua beliau, Kyai Musyaffa’ dan Nyai Hj. Richaniyah berpapasan di jalan sampai-sampai tidak menyadari satu sama lain karena menundukkan pandangan selama perjalanan.
Pendidikan formal KH. Muchlis Musyaffa’ dimulai dari MI NU 10 Sudipayung lulus tahun 1970. Beliau kemudian memulai pengembaraan keilmuannya dengan nyantri di pondok pesantren asuhan KH. Ahmad Abdul Hamid Kendal, paginya sekolah di PGA Kendal. KH. Ahmad Abdul Hamid adalah seorang ulama besar yang sangat produktif dengan 26 karya tulisnya, kebanyakan berupa kitab ringkas beraksara pegon berbahasa Jawa. Setelah lulus dari PGA pada 1973 beliau memilih nyantri di pondok pesantren asuhan KH. Bisri Musthofa Rembang sebagai pengembaraan keilmuan selanjutnya. Pesantren yang kemudian diberi nama Raudlatut Thalibin yang sekarang dipimpin oleh KH. Musthofa Bisri, salah seorang putra KH. Bisri Musthofa. KH. Bisri Musthofa adalah ulama yang masyhur dengan seratus lebih karya tulis, dari yang ringkas seperti Rawihatul Aqwam (terjemah Aqidatul Awwam) dan Syi’ir Ngudi Susilo sampai yang tebal seperti Tafsir al-Ibriz. Kebanyakan karyanya beraksara pegon berbahasa Jawa.
KH. Muchlis Musyaffa’ muda tidak lama belajar di pesantren itu. Tak sampai setahun, atas permintaan dan rekomendasi orang tua pada 1974 beliau kemudian menempuh belajar di pondok pesantren salaf Tegalrejo Magelang asuhan KH. Chudlori. Di pesantren inilah tempat belajar terlama beliau, terhitung semenjak 1974 sampai 1977 beliau belajar agama di bawah bimbingan KH. Chudlori dilanjutkan oleh putranya KH. Abdurrahman Chudlori pada 1978. Di pesantren ini beliau langsung masuk kelas Alfiiyah Ibnu Malik karena sudah memiliki bekal nyantri sebelumnya.
Bagi kebanyakan para alumni pondok pesantren Tegalrejo, KH. Chudlori dikenal sebagai sosok yang sangat wira’i dan ngati-ati. Segala sesuatu yang menjadi konsumsi dan kebutuhan keluarga beliau usahakan dari kebun kelapa milik pribadi. Sisi lain KH. Chudlori dikenal juga sebagai pribadi yang istiqomah, banyak tirakat, dan berbicara seperlunya. Dalam hal keistiqomahan sampai-sampai beliau paksakan masuk kelas masing-masing tingkatan untuk mengisi pelajaran, “Aku kudu ketemu santri-santriku,” tutur beliau suatu ketika.
Menurut penuturan KH. Ma’mun Yusuf Kaliwungu, salah seorang teman nyantri di pondok pesantren Tegalrejo, KH. Muchlis Musyaffa’ dikenal sebagai pribadi yang istiqomah, rajin riyadhoh dan mujahadah untuk menempa diri. Hal ini dilakukan agar dalam pengembaraan keilmuan menjadi lebih sempurna dan barokah. Pada umumnya yang diajarkan di pondok-pondok pesantren para santri dituntut berusaha sungguh-sungguh dalam mencari ilmu dengan usaha dhohir seperti rajin muthola’ah dan musyawarah. Di sisi lain juga usaha batin seperti tirakat, riyadhoh dan mujahadah agar hatinya bersih.
Setelah Tegalrejo, beliau melanjutkan nyantri di pondok pesantren An-nidzom Sukabumi asuhan KH. Abdullah Mukhtar pada 1979 sampai awal 1981. KH. Abdullah Mukhtar adalah sosok ulama yang juga sangat berpengaruh besar pada pribadi KH. Muchlis Musyaffa’. KH. Abdullah Muchtar dikenal sebagai sosok ‘alim ‘allamah yang luar biasa kuatnya dalam mengaji dan juga wira’i. Konon selama hidup beliau belum pernah melihat perempuan bukan mahrom. Ketika bertemu tamu perempuan beliau membatasi diri dan pandangan dengan satir. KH. Abdullah Mukhar juga sama sekali belum pernan menonton televisi, hanya satu kali saja saat pelantikan Gus Dur menjadi presiden.
Setelah Sukabumi, KH. Muchlis Musyaffa’ belajar di LPBA Jakarta dan mengabdi mengajar di Habib Abdurrahman bin Syech al-Attas dan sesekali masih mengunjungi pondok pesantren An-Nidzom. Setelah dari Jakarta beliau pulang dan menetap di kampung halaman.
Sepulang dari pengengembaraan keilmuan beliau menikah dengan Nyai Hj. Syafiah dari Sabetan, Kaliwungu pada 1983. Dari pernikahan ini beliau dikaruniai 5 orang anak, yakni Ulil Wafi, Rifki Maula, Sarikhul Huda, Wardah Fajar, dan M. Abdul Wahab. Pada 1994 Nyai Hj. Syafiah meninggal dunia. Kemudian pada akhir 1995 beliau menikah untuk kedua kalinya dengan Nyai Hj. Umi Barokah dari Kebumen. Dari pernikahan kedua ini dikaruniai dua anak laki-laki, yakni Azhar Faiq dan Arif Hasan.
Pondok Pesantren Al Musyaffa’
Pondok pesantren al-Musyaffa’ yang berdiri pada 1989 sebagai salah satu lembaga pendidikan Islam terbesar di Kabupaten Kendal berbeda dengan pondok pesantren besar lainnya yang terletak di pusat keramaian. Pondok pesantren ini terletak di desa Sudipayung yang sangat jauh dari keramaian dan pusat kota.
Menurut penuturan KH. Muchlis Musyaffa’, pondok pesantren ini mulanya berdiri tanpa kesengajaan. Sepulang dari Jakarta kecenderungan beliau adalah berdagang, sehari-hari beliau berdagang tembakau, juga ikut membantu mengajar di pondok pesantren asuhan ayahnya. Namun takdir berkehendak lain yang akhirnya mengharuskan beliau menerima santri-santri yang berdatangan di kemudian hari.
Salah seorang ulama yang paling dekat dan beliau hormati adalah Habib Abdullah bin Muhammad al-Attas Lebo, Gringsing. Ulama yang sangat sering beliau sowani. Setiap kali sowan KH. Muchlis Musyaffa’ selalu ditanya tentang kesibukan sehari-hari di rumah. KH. Muchlis Musyaffa’ menjawab selain ngaji kegiatan utama beliau adalah berdagang tembakau. Mendengar jawaban tersebut, Habib Abdullah bin Muhammad al-Attas meminta agar KH. Muchlis Musyaffa’ fokus ngaji. Setiap kali KH. Muchlis Musyaffa’ sowan kepada Habib Abdullah bin Muhammad al-Attas selalu ditanya hal serupa hingga pada akhirnya suatu hari ada orang tua yang ingin memondokkan anaknya untuk ngaji kepada beliau namun ditolak dengan alasan tidak ada tempat tinggal untuk santri. Orang tua santri itu bersikukuh memondokkan anaknya kepada beliau. Karena terus didesak akhirnya beliau meminta waktu beberapa hari untuk bermusyawarah dan meminta masukan anggota keluarga, saudara yang beliau tuakan, dan guru beliau, antara lain ibunda beliau Nyai Hj. Richaniyah, Kiai Muharor Penjalin, Kiai Zuhri Gubugsari, Kiai Mahbub Nduren, Habib Abdullah Lebo, Gringsing. Jawaban mereka serupa, yakni agar beliau menerima santri tersebut. Sehingga akhirnya ndalem (tempat tinggal kiai) diberi sekat sebagai tempat tinggal santri. Santri pertama beliau ada 4, yakni Dasir, Dullah, Salman, dan Saian. Pada akhir tahun santri bertambah menjadi 13 orang. Di tahun kedua santri bertambah menjadi 19 orang. Pada tahun ketiga jumlah santri semakin banyak hingga membuat ndalem tidak muat menampung para santri. Ndalem pun kemudian beliau bangun menjadi dua lantai, lantai bawah bagian depan sebagai kegiatan dan pembelajaran para santri, lantai atas sebagai asrama tempat tinggal para santri. Di tahun inilah nama Al-Musyaffa’ ditetapkan menjadi nama pondok pesantren. Nama yang diambil dari nama ayahanda beliau sebagai bentuk penghormatan.
Pondok pesantren Al-Musyaffa’ mengalamai perkembangan yang sangat pesat. Santri berdatangan dari berbagai daerah di Jawa, Sumatra, Kalimantan, bahkan dari luar negeri seperti Malaysia. Tercatat pada tahun 2000 santri pondok pesantren ini berjumlah 196 yang terdiri 79 santri putra dan 90 santri putri. Pada tahun 2005, 368 santri (178 santri putra dan 190 santri putri), tahun 2010, 835 santri (410 santri putra dan 425 santri putri), tahun 2015, 1.455 santri (710 santri putra dan 745 santri putri), dan tahun 2020 sampai sekarang total ada 2.018 santri (1.014 santri putra dan 1.004 santri putri).
Santri di pondok ini dikelompokkan menjadi dua, santri salaf dan kholaf. Salaf adalah mereka yang mengkhususkan diri mengaji ilmu-ilmu agama, sedangkan kholaf adalah mereka yang di samping mengaji ilmu-ilmu agama juga belajar di sekolah formal. Jenjang belajar pada pondok pesantren ini meliputi Madrasah Diniyah, mulai dari ibtida’iyah ditempuh selama satu tahun, Tsanawiyah ditempuh selama tiga tahun, dan Aliyah ditempuh selama tiga tahun. Adapun kitab-kitab yang dikaji adalah kitab-kitab yang telah masyhur di dalam dunia pesantren. Kitab-kitab yang dikaji santri kholaf meliputi; (1). Sulamul Mubtadi’, (2). Tuhfatul Atfal, (3). Al-Ajurumiyah, (4). Safinatunnajah, (5). Al-Umriti, (6). Taqrib, (7). Qurrotul ‘Ain matan Syarh Fath Mu’in, (8). Fathul Mu’in. Sedangkan kitab-kitab yang dikaji santri salaf lebih banyak dan lebih beragam; (1). Sulamul Mubtadi’, (2). Aqidatul Awwam, (3). Mabadil Fiqh, (4). Akhlaqul Banin, (5). Tuhfatul Atfal, (6). Al-Ajurumiyah, (7). Safinatunnajah, (8). Amsilah Tasrifiyah, (9). Al-Umriti, (10). Taqrib, (11). Al-Fiyah, (12). Qowaidul I’rab, (13). Qurrotul ‘Aini matan Syarh Fath Mu’in, (14). Fathul Wahab, (15). Faroidhul Bahiyah, (16). Jauharul Maknun, (17). Uddatul Farid, (18). Sulamul Munawwaroq, (19). Ihya’ ‘Ulumuddin. Sementara bagi mereka yang hendak menghafal Alquran disediakan juga program Tachaffudzul Qur’an.
Pondok pesantren Al-Musyaffa’ juga memiliki program ekstra, yakni pengajian bandongan, bahtsul masa’il, seni baca Alquran, seni kaligrafi Arab, hadrah, khitobah, life skill, dan mujahadah rutin Ahad pon.
Sementara lembaga pendidikan formal di pondok pesantren Al-Musyaffa’ meliputi SD, SMP, SMK dengan kompetensi keahlian; (a). TKR (Teknik Kendaraan Ringan), (b). TBS (Teknik dan Bisnis Sepeda Motor), (c). Busana Butik, (d). Tata Boga, terakhir adalah Ma’had ‘Aly. Keberadaan lembaga pendidikan formal di pondok pesantren ini dirasa penting karena melihat latar belakang para orang tua dalam memondokkan anaknya yang cenderung ingin pula menyekolahkan anaknya di sekolah formal. Meski demikian, peraturan diberlakukan sama dengan menyesuaikan satu sama lain dan saling mendukung.
Menurut KH. Muchlis Musyaffa’, karakter pondok pesantren Al-Musyaffa’ adalah perpaduan antara pondok pesantren Tegalrejo, An-Nidhom Sukabumi, dan pondok-pesantren Rembang. Ciri khas Tegalrejo digambarkan dengan mujahadah, riyadhoh, tirakat, dan model pembelajaran klasikal. An-Nidhom digambarkan dengan ratiban dan semangat mengaji. Sementara Rembang dicirikan dengan hafalan dan khitobahnya. Ciri khas itu pula yang tergambar dalam aktivitas santri-santri Al-Musyaffa’ dalam menempa diri untuk memperoleh pamahaman ilmu-ilmu agama yang bermanfaat dan barokah.
Kiprah di Masyarakat
Selain mendidik santri-santrinya, KH. Muchlis Musyaffa’ juga aktif dalam kegiatan-kegiatan keagamaan di masyarakat, antara lain; (1). Rabu siang mengisi pengajian ibu-ibu di majlis depan ndalem, (2). Malam rabu mengisi pengajian bapak-bapak di majlis depan ndalem, (3). Senin pagi mengisi pengajian untuk umum di aula utama pondok pesantren, (4). Mengisi pengajian kitab al-Ibriz di Gedung NU Kecamatan Ngampel, (5). Ahad wage mengisi pengajian kitab Ad-Da’watu at-Tammah bagi guru-guru madrasah diniyah se-kecamatan Ngampel di Gedung NU Ngampel, (6). Mengisi manaqib dan tahlil di kampung, (7). Mengisi pengajian seluruh karyawan SD SMP, SMK, dan Ma’had ‘Aly al-Musyafa’ pada Jumat manis, (7). Mengisi mujahadah wali santri dan masyarakat sekitar pada Ahad pon.
KH. Muchlis Musyaffa’ juga aktif di Organisai NU. Sejak mudanya beliau mulai aktif di PAC GP Ansor Kecamatan Ngampel, PC GP Ansor Kabupaten Kendal, hingga RMI NU Cabang, dan terakhir selama tiga periode sampai saat ini beliau tercatat sebagai Wakil Syuriah PC NU Kabupaten Kendal.
Demikian sepenggal kisah hidup dan kiprah KH. Muchlis Musyaffa’ bagi agama, bangsa, dan masysrakat. Semoga kita dapat meneladani dan mengambil contoh hal-hal baik yang terkandung di dalamnya.
Penulis adalah pengurus dan pendidik di pondok pesantren Al-Itqon Kebonharjo, Patebon, dan pengajar di SMP Al Musyaffa’.?