KH Abdul Chamid
Oleh: Mafakhir
Banyak tokoh – tokoh besar yang bisa dijadikan teladan bagi para santri yang pernah diceritakan oleh KH. Muhammad Wildan Abdul Chamid, pengasuh pondok pesantren yang pernah ditempati penulis. Terkadang memang demikianlah cara para guru, kiai dan pengajar untuk membangkitkan motivasi dan semangat para santri, siswa maupun peserta didiknya untuk belajar dan terus berusaha. Sehingga mereka bisa mengambil teladan dari para tokoh – tokoh tersebut. Diantara tokoh yang pernah beliau ceritakan adalah Haji Acmad. Haji Acmad adalah salah satu saudagar yang kaya raya di kota Kendal di era kolonial. Sebagai orang yang kaya raya beliau memiliki sifat yang dermawan lebih – lebih untuk perjuangan agama dan negara.
Pernah suatu ketika di Masjid Agung Kendal diselenggarakan pengajian rutin mingguan yang diisi oleh KH.Abdul Mannan Kaliwungu. Waktu mengaji tiba, para jama’ah sudah banyak yang menunggu. Sekian lama ditunggu ternyata KH. Abdul Mannan tidak kunjung datang dan akhirnya pengajian diliburkan. Karena ngaji diliburkan dan belum terdengar kabar keadaan KH. Abdul Mannan, maka simbah Haji Achmad yang termasuk salah satu jama’ah pengajian KH. Abdul Mannan, berusaha mencari tahu keadaan Kiainya. Ternyata simbah Haji Achmad mendapatkan kabar bahwa KH. Abdul Mannan terkendala transportasi saat ingin berangkat mengajar para santri. Saat itu KH. Abdul Mannan berada di rumah sang istri yang berada di Kaliwungu. Saat hendak berangkat tidak juga mendapatkan angkot untuk menuju Kendal akhirnya beliau batal berangkat mengajar di Masjid Agung Kendal dan pengajian diliburkan. Mendengar kabar tersebut, simbah Haji Achmad langsung membelikan andong beserta kuda untuk KH. Abdul Mannan sebagai alat transportasi pribadi supaya KH. Abdul Mannan tidak lagi libur mengajar sebab terkendala transportasi. Kalau zaman sekarang mungkin setara dengan membelikan mobil.
Dari sifat kedermawanan dan cintanya pada ilmu juga ulama, simbah Haji Achmad dikaruniai dzurriyah yang alim ‘allamah, diantaranya adalah KH. Abdul Chamid penulis kitab Jawahirul Atsani Bisyarhi Manaqibi al Jailani dicetak pertama kali di Mesir. Beliau adalah salah satu murid dari Simbah Wali Hadi (makam berada di belakang Masjid Agung Kendal). Simbah Wali Hadi sendiri memiliki memiliki karangan sebuah kitab Shorof yang berjudul Salsal Madkhol. Menurut KH. Bisri Musthofa Rembang, penulis tafsir Alquran Al – Ibriz, KH. Abdul Chamid merupakan ulama yang sangat pandai dalam menyusun bahasa Arab. Simbah Bisri berkata: aku durung tahu nemu kiai Jowo sing tulisan susunan bahasa arabe sing apike koyo bapake Wildan dan Kiai Abdullah Zaini Demak. Tak koreksi tak goleki salah babar blas ora ono (saya belum pernah menemukan ulama Jawa yang memiliki karya berbahasa Arab, yang susunan bahasanya persis susunan karya orang Arab kecuali Abahnya KH. Muhammad Wildan Abdul Chamid dan KH. Abdullah Zaini Demak. Saya koreksi dan cari kesalahanya sama sekali tidak saya temukan).
KH. Abdul Chamid adalah ulama yang pertama kali memberikan fatwa bahwa diperbolehkan atap rumah dari genting yang terbuat dari tanah liat, karena zaman dulu masih dianggap tabu orang hidup beratapkan tanah seperti orang yang telah meninggal. KH. Abdul Chamid adalah pengawal Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah di Kabupaten Kendal. Beliau sering berdebat dengan golongan orang – orang yang mengharamkan tahlilan.
KH. Abdul Chamid wafat pada tanggal 15 Jumadil Ula 1348 H/1931 M. Haulnya diperingati setiap tanggal 8 Syawal di serambi Masjid Agung Kendal yang dibarengkan dengan haul Simbah Wali Joko dan Simbah Wali Hadi.
KH. Abdul Chamid dikaruniai putra yang diberi nama KH Achmad Abdul Chamid bin KH. Abdul Chamid bin H. Achmad, seorang penulis yang telah menerbitkan lebih dari 30 buku, perintis NU Kabupaten Kendal dan muassis pondok pesantren Al Hidayah juga mengasuh beberapa majlis taklim, diantaranya pengajian Ahad pagi di Kauman Kota Semarang. Jasa dan perjuangan beliau untuk membesarkan NU di Kabupaten Kendal pada khususnya dan wilayah Jawa Tengah bahkan tingkat nasional pada umumnya sangatlah besar. Banyak Pondok Pesantren, Madrasah Diniyah, TPQ, musala, masjid, Madrasah Aliyah sampai perguruan tinggi Islam yang beliau rintis.
Haji Achmad adalah sosok kiai yang pandai bergaul. Beliau dekat dan lekat dengan semua golongan, dari tukang becak, petani, pedagang asongan, pengusaha besar, bupati, menteri, pimpinan parpol, budayawan, olahragawan dan lain – lain.
Hal itu menurun kepada cucunya, KH. Achmad Abdul Chamid bin KH. Abdul Chamid bin H. Achmad. Kiai yang lahir pada tahun 1915 ini adalah kiai yang sangat telaten. Di dalam karya beliau Risalah Sapu Jagad dituliskan hari dan tanggal haulnya ulama Nusantara khususnya dari Jawa. Lebih dari 64 ulama yang hari, tanggal dan tahun wafatnya ditulis oleh beliau. Tidak hanya itu, beliau juga menyinggung kiprahnya di masyarakat saat itu, seperti sebagai pendiri pondok pesantren, pengurus NU, Pimpinan Thoriqoh, dan lain-lain.
Ketelatenan beliau, penulis buktikan saat dulu pernah muqim di rumah yang pernah menjadi tempat tinggal beliau bersama keluarga besarnya. Setelah beliau wafat, kediaman KH. Acmad Abdul Chamid dijadikan pondok pesantren oleh adiknya yaitu Simbah KH Wildan Abdul Chamid Bin KH Abdul Chamid Bin H. Achmad atas persetujuan putra putri beliau. Sebelum pondok dipugar banyak barang beliau yang tertata dan terarsip dengan rapi. Diantaranya ada banyak kitab kuning, kitab karangan ulama Nusantara seperti Mbah Hasyim, kliping-kliping koleksi beliau, foto, seragam tentara karena dulu beliau juga pernah menjadi pasukan Hizbullah, kaos olah raga, serban, perabot rumah tangga, alat pertanian dan atribut - atribut yang lain. Karena saat itu sekitar tahun 2005 pondok baru dibuka dan semua santri adalah santri baru sehingga para santri belum memikirkan nasib peninggalan beliau dan keluarga. Hanya sebagian saja yang diambil oleh putra putri dan muhibbinya.
KH. Achmad Abdul Chamid wafat pada tanggal 16 Syawal 1418 H bertepatan pada tanggal 14 Februari 1998 M dan dimakamkan dipesarean Grabag. Peringatan haul dilaksanakan rutin setiap tanggal 16 Syawal.
Tidak hanya KH. Acmad Abdul Chamid (Mbah Achmad), KH. Abdul Chamid (Mbah Chamid) juga dikarunia anak yang diberi nama hampir mirip, yaitu KH. Muhammad Wildan Abdul Chamid (Mbah Wildan). Mbah Wildan adalah anak ragil dari Mbah Chamid. Sedangkan Mbah Acmad merupakan anak pertama.
KH. Muhammad Wildan Abdul Chamid bin KH. Abdul Chamid bin H. Achmad adalah seorang ulama karismatik yang pernah menjabat sebagai Ketua Hakim Pengadilan Agama Kabupaten Kendal, muassis dan pengasuh pondok pesantren Roudlotul Muta’allimin dan penulis kitab La’aliul Atsani Fitarjamati Manaqibi Quthbi Robbaniy Syaikh Abdul Qodir Al Jilani. Kiprah KH. Muhammad Wildan Abdul Chamid dalam mengawal NU sudah tidak diragukan lagi. Keaktifan beliau menjadi pengurus NU cabang dan wilayah pernah menduduki jabatan Ketua MUI Kabupaten Kendal dan Provinsi Jawa Tengah merupakan salah satu bukti bahwa beliau penegak aqidah Ahlussunnah Wal Jamaah Annahdliyah. Tidak sampai disitu, beliau juga sangat aktif dalam bidang pendidikan dan pengajaran. Keseharian beliau dihabiskan untuk umat dan ilmu. Dari satu tempat ketempat yang lain, beliau berpindah – pindah untuk dakwah menyampaikan ilmu. Dari bangun tidur sampai tidur lagi hanya urusan agama dan sosial yang beliau pikirkan.
KH. Muhammad Wildan Abdul Chamid lahir pada 17 November 1937 M dan wafat pada hari Kamis, 9 Juni 2016 bertepatan pada tanggal 4 Ramadan 1437 H di usia yang ke-79. Beliau dimakamkan di Pemakaman Grabag bersama keluarganya. Haulnya diselenggarkan setiap tanggal 4 Sya’ban.
Menantu beliau, KH. Asro’i Thohir Kaliwungu dan KH. Daniyal Royan Gemuh juga masyhur dengan kealimanya. Tidak hanya alim tapi juga aktif di organisasi NU baik kultural maupun struktural. Selain itu juga pernah berkiprah di dunia politik.
KH. Asro’i Thohir pernah menjabat sebagai Kepala Kantor Departemen Agama Kabupaten Magelang, pengurus NU Cabang dan Anak Cabang, pengurus Takmir Masjid Agung Kaliwungu dan Masjid Agung Kendal, serta menjadi pengajar di Universitas Wahid Hasyim (UNWAHAS) Semarang. Beliau juga aktif berdakwah di luar daerah dan membimbing jama’ah pengajian di Masjid Agung.
Sementara, KH. Daniyal Royan Gemuh tidak hanya sebagai ulama tetapi juga pernah menjadi politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) pada era Gus Dur. Peran beliau ditubuh NU tidak diragukan lagi, gebrakan – gebrakan untuk memajukan NU di Kendal sudah bnayak beliau lakukam, diantaranya pembangunan Rumah Sakit NU Kendal, unit usaha NU Mineral, PAUD Percontohan NU Kendal dan berencana akan membuka Sekolah Tinggi NU di Kendal. Keaktifan beliau tidak hanya di organisasi. Beliau juga aktif dalam pendidikan dan pengajaran yang digelar di rumahnya, dan sering berdakwah ke luar daerah. Beliau juga memiliki karya sebuah kitab yang berjudul Haqiqot Ahlussunnah Wal Jama’ah.
Putra KH. Muhammad Wildan Abdul Chamid adalah Kiai Farid Fad bin KH. Muhammad Wildan Abdul Chamid bin KH. Abdul Chamid bin H. Achmad. Beliau merupakan pengasuh pondok pesantren Roudlotul Muta’allimin, pengajar di Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang, dan menjadi penulis tetap di harian Suara Merdeka. Cicit H. Achmad ini sangatlah cerdas. Beliau mirip dengan simbahnya, yaitu KH. Abdul Chamid yang memiliki skill mumpuni dalam menulis. Gus Farid menjadi penerus tongkat estafet perjuangan abahnya dalam menegakkan ajaran Ahlussunnah Wal Jamaah Annahdliyah khususnya di Kabupaten Kendal. Saat ini ia juga menjadi pengurus Takmir Masjid Agung Kendal dan menjadi pengasuh pengajian yang dulu diisi oleh abahnya.
Wallahu ‘Alamu Bishowab