Oleh: Laila Maghfiroh
”Ikhlas berjuang untuk umat.Menjadi sosok tauladan sejati. Tak ada perjuangan sia – sia”
Namanya barangkali tak dikenal oleh generasi NU Kabupaten Kendal saat ini. Tapi sungguh, pribadinya patut untuk diteladani. Terlahir dari keluarga ulama besar atau lazim disebut ”Tuan Guru” di Tanah Borneo Suku Banjar Kalimantan Selatan, sosok kecil Mohammad Effendi merupakan putra keempat dari pasangan H. Ali Husin dan Zainab. Ia dilahirkan pada Jum’at, 22 Mei 1924 di Desa Padang Darat, Kabupaten Hulu Sungai Utara Kota Amuntai, Provinsi Kalimantan Selatan. Ia mulai mengenyam pendidikan dasar formal untuk anak pribumi atau dalam bahasa Belanda disebut Tweede Inlandsche School [1].
Setelah menempuh pendidikan selama kurang lebih lima tahun (1931–1935), beliau berhasil tamat dari Vervolog School. Kemudian ia melanjutkan ke Schakal School pada 1937-1939. Akan tetapi, ia tidak menyelesaikan studinya karena penyerbuan Jerman ke Belanda. Orang tuanya memutuskan untuk memindahkan putranya di Madrasah Normal (1939–1940). Namun akibat penyerbuan tentara Jepang (Dai Nipon), sekolah Madrasah pun bubar. Surat Keterangan Lulus atau ijazahnya, dibakar oleh Sang Ibu yang khawatir bila dituduh sebagai mata–mata Belanda. Hal ini karena pada surat tersebut terdapat stempel Kerajaan Belanda. Selebihnya surat–surat bukti pendidikan lainnya tidak tahu entah di mana. Ketika menginjak remaja, Mohammad Effendi memutuskan ikut bergerilya untuk memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia.
Singkat cerita, pada tahun 1946 sembari menimba ilmu agama di Pondok Pesantren Kertopati, Surabaya, Effendi ikut Sang Paman berdagang. Latar belakang keluarganya yang mendukung perjuangan kemerdekaan, memantik dirinya untuk bergabung dengan Badan Kelaskaran BPRI, dibawah komando Bung Tomo. Namun ketika Surabaya kembali ke pangkuan RI, berkapal layar lete–lete, ia pulang ke Kalimantan Selatan dan bergerilya sampai Kalimantan Timur bersama Mendiang Cilik Riwut (Pahlawan Nasional dan Gubernur Kalteng 1). Mohamad Effendi lalu kembali ke Surabaya. Kemudian karena dalam pengejaran penjajah, pasukan gerilya tersebar ke berbagai pelosok daerah. Beliau pun turut lari hingga sampai di Kabupaten Kendal. Di sinilah kisah sejarahnya dimulai.[2]
Sifat kepemimpinan Mohammad Effendi memang tidak bisa dipungkiri. Terbukti ketika awal meniti karier di Kendal, ia langsung bergabung dengan Nahdlatul Ulama (latar belakang keluarganya memang dari NU. Alarhum Sang kakak Tuan Guru K.H. Abdurrahman, penulis buku aqidah dan fiqih, Kifayat Al Mubtadi’in dalam bahasa Arab Melayu merupakan mantan Ketua PCNU Amuntai pada tahun 1950-an).[3]
Pada tahun 1952, bertemulah ia dengan seorang wanita bernama Tazkiyah di Desa Penanggulan, Pegandon. Mereka berdua pun menikah dan dikaruniai 9 anak. Tak tanggung–tanggung, sifat Effendi yang rendah hati, ramah, pandai bercerita, pintar, smart, mengantarkannya menduduki jabatan sebagai Ketua Gerakan Pemuda Ansor Cabang Kendal (1953–1956). Selain akhlak, perilaku, dan kebiasaan sehari–hari, kecintaanya pada Nahdlatul Ulama dibuktikan juga melalui pemberian nama putri–putrinya, di antaranya, putri pertama Hj. Anshoriyah, berprofesi sebagai Guru PNS PAI (1954–2018) dan putri kedua Fatayatun, seorang ibu rumah tangga (1955).
Selanjutnya, putra-putra beliau sebagai berikut: (3) Husaini Amrullah, wiraswasta (1957–2012); (4) Imanuddin Mahdi, S.H., PNS Pemerintah Daerah Kendal (1959); (5) Qomaruzzaman, Pegawai Pos Giro Kisaran, Sumatera Utara (1961); (6) Halimatus Sa’diyah, ibu rumah tangga (1963); (7) Hj. Khadijah, PNS Pemerintah Provinsi Riau (1965); (8) H. Saiful Haq, pengusaha (1968); (9) Husnul Khuluq, S.E., PNS Pemerintah Daerah Kendal (1970).
Istri, putra–putri, dan seluruh keluarga Effendi sangat mendukung kegiatan organisasi almarhum. Meski notabene beliau bukan asli putra Kendal, namun masyarakat menerimanya dengan amat sangat baik. Kehidupan agamis beliau memang tak bisa dibantah lagi. Hal ini terbukti kedua putrinya lulusan Pendidikan Guru Agama (PGA) setara dengan SLTA. Meski kental dengan kehidupan agama, beliau tidak mengekang putra- putrinya untuk mengikuti jejaknya, berkecimpung dalam kegiatan sosial kemasyarakatan di bidang agama. Kendati demikian, memang ada benarnya peribahasa Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Putra–putri Mohammad Effendi cukup aktif juga dalam kegiatan syiar agama melalui NU dengan keaktifannya baik dalam kegiatan hadroh, Tilawah Qur’an, majelis taklim, maupun IPNU-IPPNU dan Fatayat NU. Bahkan salah satu putranya, Qomaruzzaman, adalah pioner dibentuknya Teater Semut di Kendal. Sang Ayah pun mendukungnya.
Saat politik multipartai pada masa orde lama, Mohammad Effendi juga dipercaya untuk menduduki jabatan sebagai Ketua Partai NU Cabang Kendal (1963-1969). Dari sinilah kepemimpinan beliau makin nampak. Banyak orang mengatakan bahwa dia berwibawa (Jawa: merbawani), jika berbicara (Jawa: ngendikan) halus, lembut, runtut, namun tegas. Dengan tinggi badan sekitar 175 cm namun berperawakan langsing, boleh dikatakan beliau cukup tinggi. Sifat kedisiplinan, tanggung jawab, cinta tanah air, jelas dimilikinya karena latar belakangnya adalah militer. Meski asli suku Banjar, namun beliau cepat beradaptasi dengan kebudayaan lokal Kendal. Acara syawalan di Kaliwungu tak pernah dilewatkan. Bersama pengurus dan anggota dari partai NU, seringkali melakukan kegiatan safari dakwah, sampai ke pelosok daerah. Beliau juga rajin nyantri selapanan di Mbah Mangli dan Mbah Dalhar Magelang. Pengajian–pengajian umum juga sering digagasnya. Hal ini sesuai yang dituturkan putra putri beliau, Imanuddin Mahdi dan Halimatus Sa’diyah.
Pada masa orde lama, pelaksanaan ibadah haji belum sepenuhnya diatur oleh organisatoris pemerintah. Swasta juga diberikan keleluasaan untuk menyelenggarakan sendiri. Pendirian Yayasan Mu’awanah Lil Muslimin (Yamu’alim) kala itu sangat sukses dalam proses pemberangkatan ibadah haji yang dikelola oleh NU. Mohammad Effendi juga berangkat haji melalui Yamu’alim dengan kapal laut dalam waktu sekitar 3 bulan lamanya. Akhirnya ia dipercaya menjadi Ketua II Yamu’alim Provinsi Jawa Tengah (1970–1974). Pada saat menduduki jabatan itu, Effendi sering kali bersilaturahmi atau sowan kepada ulama–ulama besar di Jawa, seperti Tebu Ireng, Cirebon, dan sebagainya. Namun setelah era orde baru, Yamu’alim sudah tidak begitu berperan lagi karena aturan penyelenggaraan ibadah haji, pengaturan peserta, dan semuanya dilakukan oleh Departemen Agama.
Sekembalinya dari ibadah haji, kehidupan sehari – hari Mohammad Effendi pun tambah dekat dengan agama. Menurut Halimatus Sa’diyah, putrinya, Sang Abah, begitu putra-putrinya memanggil, sepulang dari Makkah, tingkat ketaqwaan dan keimanannya semakin bertambah. Setiap hari, waktu makan adalah saat yang tepat bagi Abah untuk berdiskusi, menasihati, dan memberikan taklim kepada keluarganya. “Abah itu kalau makan bersama, selalu disempatkan menasihati keluarga. Tapi dilakukan sebelum makanan terhidang atau menunggu makan dan setelah makan. Kami dilarang bergurau dan mengeluarkan suara berlebihan ketika makan dan minum,” begitu tuturnya. Makan bersama keluarga selalu dilakukan di ruang tengah dengan menggelar taplak seukuran meja makan besar, kemudian baru makanan dihidangkan. Makannya sambil duduk bersila bagi laki–laki atau mirip duduk tasyahud dalam salat bagi perempuan. Jika ada yang duduk sembarangan, pasti beliau akan mengingatkan.
Ada hal menarik yang dituturkan beberapa cucu beliau tentang kebaikan akhlaknya yang patut dicontoh. Di antaranya, beliau sangat menghargai dan menghormati makanan. Apa maksudnya? Bisa dibayangkan, beliau sangat istikamah sampai akhir hayat ketika akan makan atau dahar (Jawa), pakaian yang dikenakan selalu rapi. Juga menyisir rambut dan berkopiah. Baju yang dikenakan untuk makan pun serupa baju yang dipakai untuk salat, seperti koko, kemeja, kemeja batik, semacam itu. Badannya selalu wangi wewangian khas arab. Kegemaran beliau juga sering men-syiwak giginya, meski pada usia 70-an sudah memakai gigi palsu. Gigi itu pun rajin beliau bersihkan dengan syiwak selain sikat dan pasta gigi. Jika makan selalu habis, bersih tak bersisa. Jika makan selalu diawali buah dan suasananya hening. Baru kalau sudah selesai, acara diskusi dilanjutkan lagi. Jika hendak salat Jumat, beliau berbaju istimewa. Berangkat awal jam 11 siang, dengan berjubah, lengkap dengan sorban dan bersarung terbaik pilihan, memakai celak (semacam pensil hitam dioleskan di bawah kelopak mata, seperti sunah rasul), menyemprot wewangian di badannya, serta beliau selalu berusaha ada di shaf pertama.
”Mbah Ji (panggilan cucu–cucu beliau) itu kalau pakai sorban tambah ganteng, berwibawa sekali, selalu pergi jum’atan awal. Cucu–cucunya selalu diingatkan berangkat awal dan mengenakan pakaian yang bagus kalau mau sholat jama’ah. Dzikirnya selalu lama setelah sholat jama’ah. Setiap senggang, selalu membaca buku, koran, kitab, dan mengaji. Puasa sunnah selalu beliau jalankan. Kalau ada orang meminta sedekah pasti diberi semampunya, bahkan dengan dengan para mualaf. Setiap kali datang ke rumah, pasti pulangnya dibawakan bekal uang semampu beliau atau sembako,” begitu tutur beberapa cucunya, di antaranya Nanang Fahrurozi, Husain Ghulamul Haq, dan Laila Maghfiroh yang kala itu sudah menginjak remaja.
Pada tahun 1980–1991, Mohammad Effendi ditunjuk sebagai Wakil Ketua MUI Kabupaten Kendal. Jabatan ini adalah salah satu bentuk amanah berat selama perjalanan karier organisasinya. Menurut putranya, Imanuddin Mahdi, Sang Abah seringkali bilang, bahwa jabatan dan harta adalah ujian bagi setiap umat manusia yang harus dihadapi dengan bijaksana. Jangan sampai ketika kita dipercaya menduduki amanah jabatan tertentu, menjadikan diri kita sombong, memanfaatkan jabatan tersebut untuk KKN, dan sebagainya. Naudzubillah min dzalik! Terbukti ketika berkesempatan menduduki jabatan politik seperti Anggota DPRD dan Pejabat Pemerintahan Daerah, ketika putranya iseng meminta untuk dimasukkan sebagai pegawai negeri, Sang Abah menolaknya mentah–mentah!
Pada tahun 1984–1990, Mohammad Effendi dipilih sebagai Mustasyar Pengurus Cabang NU Kendal. Salah satu kontribusi beliau adalah keberadaan gedung NU Kendal. Diceritakan Imanuddin Mahdi dan Halimatus Sa’diyah, putra-putrinya, dan K.H. Makmun Amin, bahwa Alm. K.H. Mohamad Effendi, K.H. Idham Cholid, K.H. Makmun Amin bersama beberapa anggota dan pengurus NU kala itu membeli sebidang tanah seharga kurang lebih Rp 55.000,- (lima puluh lima ribu rupiah) dan mendirikan bangunan yang terletak di Jalan Raya 299, Kelurahan Pegulon Kendal, dengan Sertifikat HM No. 00530 tersebut diatasnamakan Alm. KH. Mohamad Effendi (tertera sebagai pemilik tanah dan bangunan itu). Dalam hal ini beliau bertindak sebagai wakif. Oleh Corps Polisi Militer (CPM) pada tahun 1979–1980 an, kala itu dipinjam sebagai kantor. Sementara keluarga K.H. Mohammad Effendi memilih menempati rumah keluarga di Gg. Jujur, Patukangan Kendal sampai akhir hayatnya.
Ketika ingin diminta kembali guna dimanfaatkan kegiatan ke-NU-an menjadi gedung NU, sepertinya pihak Corps Polisi Militer begitu berat melepasnya. Maka untuk membantu menuntaskan masalah tersebut, adalah sang sepupu Alm. KH. Idham Kholid yang kala itu menjabat Ketua DPR RI sekaligus Ketua PBNU Pusat sebagai penengah perselisihan, hingga akhirnya tanah dan bangunan itu dikembalikan kepada KH. Mohammad Effendi (sekitar tahun 1990-an) untuk direnovasi. (seperti dituturkan putra beliau Imanuddin Mahdi dan K.H. Makmun Amin)
Hingga akhirnya sejarah pun tercatat. Tepat pada hari Senin, 27 April 1998 sekitar pukul 19.30 WIB (bakda Isya), peristiwa amat bersejarah itu pun terjadi. Bertindak sebagai pemegang sertifikat atas tanah bangunan tersebut, dalam hal ini K.H. Mohamad Effendi, bertindak sebagai wakif/pihak pertama, menyerahkannya dengan ikhlas, tanpa paksaan dari siapapun, dikembalikan untuk kemaslahatan umat dan kegiatan syiar NU, diterima oleh pihak kedua, yakni K.H. Syamsul Ma’arif, yang kala itu menduduki jabatan sebagai Wakil Rois PCNU Kendal (1997–2002). Namun secara resmi, serah-terima itu dilakukan pada hari berikutnya, Selasa, 28 April 1998. Pihak yang mewakili sebagai penerima wakaf adalah K.H. Drs. Asmawi Usman, wakil PCNU Kendal, disaksikan oleh: Bapak K. Ahmad Jabri (PCNU Brangsong), Bapak K. Achmad Ridwan (PCNU Pageruyung), Drs. H. Asroi Thohir (PCNU Kendal). Sejak itu resmilah berdirinya Gedung NU Kendal.
Masih menurut putrinya, Hj. Khadijah, yang saat ini bermukim di Riau menuturkan melalui pesan Whatsapp, bahwa Sang Abah adalah teladan yang amat baik. Beliau sangat dekat dengan ulama dan masyarakat. Bahkan, ketika belum ada jalan di atas got sepanjang Gg. Jujur sampai masjid, beliau membangunnya supaya kalau ada orang yang lewat tidak melompat, khusunya untuk imam masjid saat itu Mbah Abdul Manan. Beliau juga dekat dengan Alm. KH. A. Abdul Chamid. Menurut KH. Makmun Amin sosok beliau amat baik dimatanya. ”Pak Effendi kui nek ngelakoni opo – opo ikhlas meni, disiplin, karo sing enom – enom cedak, orak kasar, nek karo NU jasane yo gede” (Pak Effendi itu kalau melakukan apa –apa ikhlas sekali, disiplin dan dekat sama anak muda, jasanya terhadap NU besar), tuturnya. Lain lagi menurut tokoh NU H. Ali Chasan umar menuturkan, ”Setahu saya pak Effendi berjasa besar memperjuangkan Gedung NU yang dulu dipinjam CPM, waktu saya bangun tiga lantai, saya juga mohon doa restu beliau. Beliau gigih, semangat, rajin dan ikhlas berjuang untuk NU Kendal. Beliau cukup berpengaruh dan berwibawa, sayang pada anak – anak muda NU”.
Saat beliau aktif di NU dan menduduki jabatan pemerintahan seperti anggota DPRD Kendal, Pejabat Pemerintahan Daerah Dati II Kendal, sifat ramah dan kebaikannya tidak pernah berubah. Menurut putrinya, bahkan saat menjabat sebagai Pejabat Pemerintah, pada masa G30S PKI, beliau pernah diajak oleh serombongan orang berseragam militer dan bersenjata lengkap dengan alasan akan diajak rapat. Beberapa pemuda Ansor yang menjaga rumahnya pun curiga. Mereka lalu menguntit mobil jeep itu sampai Daerah Bleder (Kendal Utara atau yang dikenal Mbiru). Rombongan pemuda Ansor mencegat mobil tersebut dan berhasil menyelamatkan nyawa beliau. Rumahnya pun dijaga pemuda Ansor dan beberapa ajudan dari Pemda secara bergantian selama kurang lebih seminggu, hingga kabar Pak Harto waktu itu telah berhasil menumpas G30S PKI.
Beberapa gelar tanda jasa yang beliau terima, selain aktif di NU, yaitu: (1) Gelar Tanda Jasa Pahlawan Indonesia, dengan pangkat terakhir Letnan Kolonel, dengan jabatan Komandan Resimen 1 SHS Kalimantan, atas jasanya dalam perjuangan gerilya membela kemerdekaan negara, diberikan oleh Presiden–Panglima Tertinggi Angkatan Perang Republik Indonesia, 17 Agustus 1959, ditandatangani oleh Ir. Soekarno; (2) Surat Tanda Penghargaan dari Komandan Resor Militer 072 memberikan penghargaan setinggi-tingginya atas pengorbanannya dalam perjuangan kemerdekaan 45, Orde Lama dan Penumpasan G30S PKI. Salatiga 30 September 1967, ditandatangani oleh Komandan Pelaksana Kuasa Perang Kol. Inf. Koesworo; (3) Ketua Dewan Harian Daerah BPPJSN 45 Jawa Tengah Cabang Kendal, Periode 2002 – 2007; (4) Gelar Kehormatan Ulu–Ulu Abdi Dalem dari Keraton Surakarta, karena jasanya merawat/sebagai takmir masjid Agung Kendal yang merupakan wakaf dari Keraton Surakarta Hadiningrat dengan gelar: Romo Mohamad Effendi Handipandiningrat.
Berakhirlah sejarah ini ketika Sang Pejuang tutup usia. KH. Mohammad Effendi wafat pada 21 Juni 2006 dan dimakamkan di pemakaman umum Grabag karena beliau menolak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan. Rasanya sulit menemui pribadi semacam ini sekarang bukan? Begitu rendah hatinya beliau. Beberapa saat setelah dimakamkan, pada 10 November 2006, Pemerintah Kabupaten Kendal memberikan penghargaan dengan mengadakan upacara pemancangan bambu runcing pejuang 45 pada makam almarhum, dengan serangkaian upacara resmi, dengan inspektur Upacara Bupati Kendal, dihadiri segenap Muspida dan peserta upacara dari legiun Veteran, Pelajar, PWRI, Pemda, dan tokoh masyarakat.
Kisah K.H. Mohammad Effendi penulis sampaikan sebagai bahan renungan bagi kita semua terutama generasi muda saat ini. Betapa perjuangan beliau untuk kebesaran nama NU khususnya di Kabupaten Kendal sungguh luar biasa. Tak pernah sekalipun almarhum memanfaatkan jabatan yang dimilikinya untuk kepentingan pribadi. Hal ini terbukti kesembilan putra-putrinya dengan berbagai profesi atas usaha mereka sendiri. Jika ada sekelompok orang yang menyakiti atau memfitnah beliau, tak pernah sekalipun beliau isyaratkan membalas. “Porah jarke wae, wong kabeh ki nggone Gusti Allah, ben gusti Allah seng males” (biarkan saja, semua milik Allah, biar Allah yang membalas), tuturnya.
Beliau pun tak pernah sombong memamerkan perannya kepada siapapun. Hal ini dituturkan selain oleh putra-putrinya, juga keponakan–keponakannya yang tinggal bersamanya, tetangganya, dan beberapa masyarakat, seperti Pak Badrun tukang cukur, lewat sang cucu beliau menuturkan, “Ulama asli ulama ki yo Mbah Jimu, opo–opo ikhlas meni”. (Ulama asli ulama itu ya Mbahmu, apa–apa selalu ikhlas). Alm. Mbah Kaemi, sopir beliau juga berpendapat sama. Bahkan ketika mendapat gelar pahlawan sekalipun, dokumen ini hanya diketahui beberapa putra-putrinya, sampai untuk keperluan menulis biografi ini, penulis membuka semua dokumen pribadi almarhum. Semoga secercah kisah ini membawa hikmah dan manfaat bagi kita semua. Dunia ini hanya sesaat, penuh kefanaan. Hanya nama baik, budi amal saleh, ilmu bermanfaat, serta keturunan saleh-salehah yang selalu akan dikenang. Insya Allah…
[1] id.m.wikipedia org.
[2] Mohamad Effendi “Lampiran Model BB 6 / Tulisan pribadi riwayat perjalanan hidup, hal. 1
[3] Sukarni Muin”Kitab Fiqih Ulama Banjar”, IAIN Antasari Banjarmasin, 2015