Oleh: M. Adib Shofwan
Dalam menapak jalan spiritual, manusia sering tak mengungkapkannya dengan kata-kata, ia biarkan hal itu menjadi rahasia dirinya agar orang lain tidak tahu dan dirinya tidak terjangkit panyakit ujub dan riya. Berjalan dalam senyap, begitu orang menggambarkannya.
Ada pertanyaan yang pernah penulis sampaikan kepada seorang kiai yang telah berpulang beberapa tahun lalu, “Yai, manusia itu bisa berpindah dari maqom kasab menuju maqom tajrid dengan syarat dan prosesnya bagaimana?”. Dengan tersenyum, kiai itu dawuh, “ Nikmati dan syukuri yang ada, Allah nanti yang akan memindah maqom seorang manusia”.
Sekian lama pertanyaan itu bersemayam dalam jiwa. Ada sebentuk keyakinan jika suatu saat nanti pasti akan terjawab.
Maqom kasab merupakan kondisi seorang hamba yang telah Allah tetapkan untuk beribadah melalui usahanya guna mencukupi rezeki untuk dirinya dan keluarganya. Pada maqom ini hamba harus bekerja, berdagang, bertani dan mengais rezeki dengan cara sewajarnya.
Sedangkan Maqom Tajrid adalah maqom di mana hamba sudah memfokuskan diri untuk ibadah pada Allah dengan tanpa disibukkan urusan duniawi mencari rezeki. Semua urusannya sudah ditanggung oleh Allah SWT. Pada posisi ini manusia sudah mampu bersabar untuk tidak berharap kepada selain Allah.
Diantara kedua maqom tersebut, adakah maqom yang menjadi perantara seorang salik mengalami akselerasi perpindahan?. Tidaklah sopan seseorang pada maqom kasab berharap pindah ke maqom tajrid karena tidak rela dengan apa yang telah di qodho-kan Allah. Begitu juga orang yang sudah di maqom tajrid, kok berpindah ke maqom kasab maka sungguh dia telah tertipu dengan dunia, lari dari pertolongan Allah.
Perjalanan panjang hidup telah memberikan pelajaran, segala yang Allah berikan pada manusia harus dinikmati agar bisa bersyukur. Nikmati apa yang kita miliki, syukuri apa yang kita punyai. Mendermakan waktu, tenaga, pikiran dan ilmu kepada umat merupakan salah satu jalan beribadah kepada Allah dengan Nasrul ilmu atau ngadep dampar seperti mengaji di rumah, mengajar di madrasah atau pondok, dan pengajian bersama masyarakat.
Khidmah seperti ini kalau dilihat secara lahir dengan kacamata dunia tidak menghasilkan pundi-pundi rupiah, tapi memberikan keberkahan dalam hidup. Berkah ini sulit digambarkan namun dapat dirasakan. Sebagai manusia yang masih mencari, salik tetap menjalankan ikhtiar sebagai manusia biasa, mengais rezeki dengan menulis dan berdagang buku. Sebuah pilihan profesi yang kata orang tersesat di jalan yang enak.
Perjalanan hidup membuka hati kita bahwa semakin kita khidmah kepada Allah, secara langsung atau melalui para hamba Allah maka perhatian-Nya akan tercurah kepada kita. I’timad kehidupan harus tetap pada Sang Penguasa semesta, ikhtiar sebagai manusia dijalankan tetapi jangan terlalu bersandar pada ikhtiar karena ada zat yang menciptakan ikhtiar yang lebih berhak menjadi tempat bersandar. Pada posisi ini mungkin 70% waktu dan pikiran sudah tercurah kepada umat dan khidmah pada ilmu, sisanya hanya terkadang untuk ndurusi duniawi mengais rezeki untuk sangu berjuang.
Ketika kita sedang khidmah pada ilmu sering kali Allah secara kontan menggaji apa yang kita kerjakan, bukan dari objek yang kita ajar tapi dari jalan rezeki yang telah Allah ciptakan. Sering ini menjadi tangisan jiwa yang panjang. Berharap pada manusia yang kita bantu itu buruk tapi orang yang dibantu dan tidak tahu berterima kasih itu lebih buruk lagi. Semoga apa yang salik jalankan tidak hanya mendapat bagian di dunia karena yang lebih diharapkan besok di akhirat kelak. Teruslah berjalan, pengembaraan belum sampai tujuan. Salam dari debu-debu jalanan.

Penulis adalah Ketua Ranting NU Kebonharjo 2 Kecamatan Patebon