Subarie Syams, Kader NU Multi Talent dari Patebon

...

Oleh: Zuhria Firdausie

Seorang Subari lebih dikenal dengan nama Subarie Syams, salah satu tokoh pergerakan organisasi NU di Kabupaten Kendal. Beliau lahir di Kendal, 5 Februari 1956. Satu hal yang menjadi motto hidup beliau adalah “Hidup mulia atau mati syahid”( ?? ????? ?? ?? ????? ).

Subari tumbuh dari keluarga sederhana, beliau yatim sejak masih anak-anak. Dibesarkan oleh ibu yang hanya seorang pedagang, namun beliau sangat gigih dalam hal belajar. Hobinya membaca dan menulis sehingga hal inilah yang mampu mengantarkan beliau dalam meniti karir hingga mencapai kesuksesan. Berbagai bidang kegiatan organisasi dan kemasyarakatan tak luput dari kepemimpinan beliau selama kurang lebih 46 tahun.

Beliau berhasil menyelesaikan pendidikan formal Pendidikan Guru Agama (PGA) Al Hidayah Kendal pada tahun 1975. Karirnya diawali dengan mengabdi menjadi guru di salah satu madrasah swasta yaitu MI NU Kebonharjo pada tahun 1975 – 1978. Kemudian, tahun 1978 – 1982 mengajar di MTs NU Sunan Abinawa Pegandon. Beliau juga mengabdi sebagai tenaga pendidikan non formal di desanya yaitu MDA Al Itqon pada tahun 1975 hingga tahun 1982 sekaligus ditunjuk oleh segenap guru untuk menjabat sebagai wakil kepala madrasah tersebut pada tahun 1980 – 1982. Lalu pada tahun 1978 – 1982 beliau juga pernah mengajar di MTs NU 07 Patebon.

Di bidang organisasi NU, jejak perjuangan beliau diawali pada tahun 1973 dengan mengikuti Batra IPNU – IPPNU Cabang Kendal. Dari sinilah awal perjuangan beliau bersama organisasi NU dimulai. Setelah beliau menyelesaikan pendidikan formal tersebut, disela-sela pengabdiannya mengajar diberbagai lembaga formal dan non formal, kiprah beliau dalam organisasi NU terus berkibar. Beliau ditunjuk sebagai wakil sekretaris MWC NU Kecamatan Patebon hasil Konferensi MWC NU Patebon di MDA Al Itqon Kebonharjo (1976). Lalu sebagai Wakil Ketua Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Kendal hasil Konferensi Cabang GP Ansor di MTs NU Cepiring tahun 1978. Tahun 1979 beliau ditunjuk sebagai Sekretaris MWC NU Patebon hasil konferensi MWC NU Patebon di Desa Wonosari, dan pada tahun 1980 beliau didaulat oleh teman-teman seangkatan untuk menjadi Ketua PAC GP Ansor Patebon.

Subari muda memutuskan menikah pada tahun 1980 dengan seorang gadis cantik yang menjadi idolanya yaitu Malichah binti K.H. Said asal Desa Jambearum, Patebon. Setelah menikah, beliau masih melanjutkan pengabdiannya mengajar di beberapa Madrasah Swasta. Pada tahun 1982 berkah petunjuk Allah beliau memberanikan diri mengikuti CPNS untuk guru Agama SD dan lolos.

Pada waktu itu situasi politik kurang kondusif, karena kekuatan partai Golkar tidak tertandingi oleh siapapun. Sebagai partai peserta pemilu (1982), dengan partai lawan politiknya PPP dan PDI,  beliau sudah ditunjuk sebagai Komisaris Kecamatan (KOMCAT) PPP dan sempat ditugasi sebagai PANWASLAKCAM (Panitia Pengawas Pelaksanaan Kecamatan). Mungkin beliau satu-satunya PNS namun masih menjabat sebagai Komcat PPP di Kecamatan Patebon. Beliau mengatakan satu-satunya, sebab banyak diantara rekan seangkatan telah bertekuk lutut pada partai Golkar pada tingkat Komcat/ Komdes masing-masing. Nah, jikalaupun masih bergabung dengan PPP dapat dipastikan mereka akan keluar tidak melanjutkan sebagai PNS.

Kondisi seperti itu beliau lakukan hampir setengah tahun. Setelah beliau menyadari sendiri antara tugas guru dan tugas politik di Kecamatan Patebon tidak bisa dilaksanakan bersama karena sewaktu menjadi guru beliau ditugaskan di SD Negeri Seklotok Desa Getas Kecamatan Singorojo yang perjalanan tempuhnya setidaknya setengah hari dikarenakan sulitnya transportasi, serta perjalanan menyusuri hutanpun dijalaninya dengan jalan kaki kurang lebih 4 jam. Dua (2) tahun bertugas di Desa Seklotok akhirnya dipindahkan ke SD Negeri 03 Singorojo yang memang lebih mudah dijangkau secara geografis.

 Tetapi tantangan tak hanya berhenti disitu. Kehidupan beragama di daerah tempat beliau mengabdi ternyata masih sangat kurang. Terbukti dari jumlah penduduk sekitar 200 jiwa ternyata yang menjalan salat Jumat tidak lebih dari 5 orang dengan tempat ibadah yang cukup kecil (musala). Kondisi tersebut sangat memprihatinkan bagi beliau, akhirnya tiga kali salat Jumat  dengan berbagai upaya dan cara sebagaimana diajarkan di kitab-kitab fikih harus dilaksanakan. Dan... alhamdulillah, jumlah jama’ahnya menjadi banyak, lebih dari 40 orang.

Subari muda memang tidak pernah diam kendati sebagai guru gajinya hanya cukup untuk kebutuhan keluarga. Ghirah dakwahnya, bersedekah ilmu tetap membara meski di tengah keterbatasan ekonomi. Keseharian beliau diantaranya; (1) sebagai guru PNS agama Islam di 2 lokasi SD Negeri 03 Singorojo dan SD Negeri 4 Singorojo Kecamatan Singorojo; (2) sebagai imam masjid di desa tersebut; (3) sebagai guru madrasah (satu-satunya guru) merangkap Kepala Madrasah di desa tersebut; (4) menjadi guru mengaji setiap habis salat magrib dan (5) sebagai penulis lepas untuk koran dan majalah. Luar biasa...

Tahun 1986 adalah akhir perjuangan beliau di Desa Seklotok, Kecamatan Singorojo. Setelah 4 tahun beliau bertugas sebagai guru di Kecamatan Singorojo, atas kemauan sendiri kemudian beliau mengajukan sebagai tenaga administrasi di Kantor Cabang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kendal. Hal itu ditempuh dalam rangka mengembangkan minat jurnalistik beliau. Sisi lain yang orang tidak mengerti yaitu karena keinginan pindah ke desa asal yaitu Kebonharjo untuk berkumpul bersama istri, anak dan orang tua. Alasan kedua, karena mencalonkan diri sebagai Kepala Desa meski tidak lolos dalam seleksi ujian masuk Pilkades. Hal ini dikarenakan dalam seleksi tersebut harus terpilih 5 bakal calon kepala desa saja, sementara bakal calon 9 orang.

Akibat kalah Pilkades dan enggan jika akhirnya banyak menjadi perbincangan masyarakat sekitar, untuk menghindari rasa malu akan kekalahan ini, maka upaya mutasi berhasil dilakukan. Subari akhirnya menjadi staf administrasi pada Kantor Cabang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kendal dengan jarak yang sangat dekat antara rumah dan kantor yakni hanya 5 km.

Berkah kekalahan Pilkades dan mutasi pada Kantor Cabang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan di tahun 1986 amat besar. Subari yang tengah dilanda semangat hidup tetap bangkit, meneruskan passion-nya di bidang jurnalistik, mengabdikan diri baik pada pemerintah maupun masyarakat luas, diantaranya (1) Pada Dinas P dan K, Subari dipercaya mengomandani penerbitan Bulletin Dinas P dan K untuk jajaran SD se-Kabupaten Kendal yang bernama Buletin Timbul; (2) Disamping penerbitan bulletin, gayung bersambut sebagai seorang jurnalistik terus dikembangkan. Keberhasilan itu ditopang karena “Koran Bahari” yang terbit di Semarang melakukan kerja sama dengan jajaran Dinas P dan K se-Jawa Tengah. Karena itu, koran yang berafiliasi ke Golkar tersebut akhirnya ibarat sebagai ladang tambahan. Buletin Timbul yang diterbitkan Dinas P dan K juga Koran Bahari beliau manfaatkan secara intensif, untuk maju dan mendapatkan keuntungan secara finansial.

Adapun sepak terjang Subari dalam Organisasi Badan Otonom NU diantarnya: (1) Dua periode sejak 1986 – 1994 ditunjuk menjadi wakil PC GP Ansor Kabupaten Kendal. Bahkan untuk periode 1989 – 1994 ketika Ketua PC GP Ansor Kabupaten Kendal Abdul Wahab, Bc. Hk. dipilih menjadi Wakil Ketua PW GP Ansor Jawa Tengah beliau (Subari) ditunjuk sebagai Pelaksana Tugas (PLT) Pimpinan GP Ansor Kabupaten Kendal berlaku full layaknya tugas ketua; (2) Pada tahun 1994 terpilih sebagai Ketua Cabang Ansor Kabupaten Kendal secara aklamasi hasil Konferensi Cabang yang diselenggarakan di SMP Al Hidayah Kendal; (3) Tahun 1998 dipercaya sebagai Wakil Pengurus Wilayah GP Ansor Jawa Tengah hasil Konferwil di Kabupaten Tegal.

Sedangkan di organinsasi non NU: (1) Wakil Ketua DPD KNPI Kabupaten Kendal selama 2 periode yaitu tahun 1988 pada kepemimpinan M. Amin Suradi dan tahun 1992 pada kepemimpinan Sigit Priyono, BSc; (2) Tahun 1989 sebagai Ketua Ikatan Penulis Keluarga Berencana (IPKB) Kabupaten Kendal; (3) Tahun 1993 diangkat kembali sebagai ketua IPKB Kabupaten Kendal; (4) Tahun 1994 dipercaya  sebagai ketua BKRMI (Badan Koordinasi Remaja Masjid Indonesia) sampai saat ini.

Di organinsasi NU: (1) Wakil Ketua Cabang Lembaga Pendidikan Ma’arif NU Kabupaten Kendal (2004 – 2009); (2) Wakil Ketua Cabang NU Kabupaten Kendal sebagai PAW (Pengganti Antar Waktu) karena saudara Sekretaris Sofyan Hadi menjadi ketua KPU Kabupaten Kendal digantikam saudara Abdul Wahab dan beliau dipercaya menduduki wakil Ketua Cabang tanpa mundur dari jabatan wakil Ketua LP Ma’arif NU Kabupaten Kendal.

Beberapan kegiatan insidental dan monumental yang beliau ikuti adalah: (1) Tahun 1978 ikut mendirikan MTs NU 07 Patebon sebagai Sekretaris panitia; (2) Tahun 1980 mengikuti Konferwil GP Ansor di Kabupaten Pemalang; (3) Tahun 1989 mengikuti Konferwil GP Ansor Jawa Tengah di Semarang; (4) Tahun 1990 mengikuti Kongres GP Ansor X (16 – 25 Juni 1990) di Ujung Pandang Sulawesi Selatan; (5) Tahun 1995 mengikuti Kongres GP Ansor XI (11 – 15 September 1995) di Palembang Sumatera Selatan; (6) Tahun 1996 mengikuti Konferwil GP. Ansor di Semarang; (7) Tahun 1999 ditunjuk menjadi Duta Peserta Munas GP Ansor di Banyuwangi Jawa Timur beserta beberapa teman wilayah lainnya; (8) Tahun 2000 menjadi panitia Konggres Nasional GP Ansor XII di Donohudan Solo sekaligus di tahun yang sama menjadi utusan Konggres tersebut; (9) Mendirikan SMK NU 04 Patebon yang berada di Pidodo Wetan Kecamatan Patebon, Kabupaten Kendal yang diresmikan oleh Ketua Wilayah LP Ma’arif Jawa Tengah H. Chabib; (10) Tahun 2009 menjadi Ketua Panitia Konferensi Cabang NU Kabupaten Kendal di Boja. Konferensi berhasil sukses, kendati demikian sebagai ketua panitia tidak dimasukkan pada kepengurusan Pengurus Cabang periode tersebut; (11) Tahun 2014 mengikuti Konferensi Cabang NU Kabupaten Kendal yang berlangsung di Pondok pesantren APIK Kaliwungu sementara pemilihan berlangsung demokratis ada 3 kandidat dengan perolehan suara: Danial Royyan  mendapatkan 12 suara, Subarie Syams mendapatkan 6 suara dan Abdul Wahab dengan perolehan 2 suara. Kekuatan suara dipegang oleh MWC NU dengan demikian ada 20 suara dari MWC NU. Namun perjalanan tidak mulus dimana beliau juga dimasukkan dalam kepengurusan  periode tersebut. Sayangnya, karena tidak ada kesamaan visi misi, seiring berjalannya waktu, beliau menyatakan mundur di forum pleno pertama dalam pembahasan job description dan rencana program yang mendesak terutama program kaderisasi.

Angin terus berhembus menjalar kearah sesuai musimnya, begitu pula arah kebijakan politik dan organisasi yang ada di Indonesia.  Membuka cakrawala baru dan berfikir moderat, maka ketika tahun 1984 NU menyatakan khittahnya hasil muktamar di Situbondo Jawa Timur. Dengan khittah NU 1926 berarti warga NU bebas menentukan  pilihannya “NU ada dimana-mana tapi tidak kemana-mana” itulah jargon hebat yang menjadi pedoman warga NU. Hal inilah yang mendrong beliau meniti karir di bidang politik. Beliaupun mulai dekat dengan Golkar hingga akhirnya diberi kepercayaan sebagai Ketua Pemenangan Pemilu 1997. Diawali dengan kampanye yang lebih taktis, akhirnya Golkar mendulang suara terbanyak sepanjang sejarah Golkar di Kabupaten Kendal dan mendapatkan 21 kursi. Sebagai Caleg nomor urut 26, beliau memang tidak berharap banyak untuk bisa duduk di DPR. Namun oleh DPD Golkar beliau ditetapkan sebagai calon DPR karena ternyata pada food gather 6 orang mundur. Dengan demikian Caleg menjadi 21 orang termasuk beliau.

Beliau dilantik sebagai anggota DPRD II Kabupaten Kendal tahun 1997 hanya 1 tahun selama 1 periode (1997 – 1998) karena pada tahun tersebut terjadi reformasi disegala bidang yang akhirnya menggulingkan Soeharto sebagai Presiden Republik Indonesia.

Setidaknya sejak 1984 apa yang beliau tekuni tetap beliau jalankan yaitu tugas jurnalistik dan sebagai puncaknya beliau sempat menjabat sebagai; (a) Redaktur Bulletin Timbul Dinas P dan K Kabupaten Kendal; (b) Sebagai wartawan mingguan Bahari Semarang; (c) Freelance di Bulletin PGRI Semarang; (d) Menjadi Redaksi majalah Gema Diponegoro KOdam IV Diponegoro Jawa Tengah. Karir jurnalistik berakhir ketika menjadi anggota DPRD II Kabupaten Kendal tahun 1997 dan hanya menjadi penulis secara freelance ketika ada kesempatan.

Aktivitas beliau di bidang Sosial, diantaranya: (a) Menjadi Ketua BP3 SD Negeri 1 Kebonharjo, Kecamatan Patebon (1986 – 2014); (b) Menjadi Anggota BP3 SMP Takhassus Al Qur’an Kalibeber, Mojotengah, Wonosobo tahun 1997 – 2000; (c) Menjadi Pengurus Komite SMK Negeri 4 Brangsong tahun 2008 – 2011; (d) Menjadi Pengurus MDA Al Itqon Kebonharjo Patebon tahun 1986 sampai sekarang (madrasah tersebut membawahi TPQ, MDA dan MDW); (e) Menjadi Ketua Pengurus MTs NU 07 patebon tahun 2015 – 2020; (f) Menjadi pengurus SMK NU 04 Patebon sejak berdiri sampai sekarang.

Demikianlah sekelumit kisah seorang Subarie Syams, seorang kader NU multitalenta dari Patebon. Sampai sekarangpun, beliau masih giat dan sangat peduli dengan kegiatan Ke-NU-an dan sosial kemasyarakatan. Semoga menjadi hikmah dan teladan bagi generasi saat ini.

Informasi Lainnya

Banser dan Natal: Khidmah Kemanusiaan Tanpa...

Oleh: Anis Hidayati Barisan Ansor Serbaguna (Banser) merupakan lembaga semi-otonom di bawah naungan Gerakan Pemuda (GP) Ansor, badan otonom...

Bola Liar Konflik PBNU dan Harapan Nahdliyyin...

Oleh: M. Irhamni Sabil, S.Sy., MH Sudah hampir satu bulan konflik yang menerpa jajaran Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) bergulir di ruang...

Seni Merawat Khidmah: Ikhtiar Menghidupkan...

Oleh: M. Adib Shofwan Khidmah di Nahdlatul Ulama bukan sekadar soal niat baik, tetapi juga membutuhkan seni, gagasan kreatif, dan strategi yang...

Gus Dur, sudah Lama Jadi Pahlawan Rakyat

Desember identik dengan bulan Gus Dur. Khaul ke-16 tahun ini digelar di mana-mana .Majalah AULA edisi bulan Desember tak absen mengangkat tema...

Advertisement

Press ESC to close