Kepyur

...

Oleh: Fahroji

Kata "kepyur" sering digunakan untuk menggambarkan suatu tempat yang terkena titik air. Misalnya rumah yang baru dibangun dan dindingnya belum jadi, meskipun sudah ada atapnya namun tetap saja titik -titik air itu bisa masuk karena terbawa angin yang masuk ke ruangan.

Namun air yang dikategorikan kepyur biasanya titik-titiknya lebih kecil dibanding gerimis sehingga bisa condong terbawa angin dan masuk ruangan. Dengan demikian, air karena kepyur jumlahnya sangat kecil dibanding gerimis, apalagi dibanding hujan tidak ada apa-apanya.

Kedua, kata "kepyur" sering digunakan untuk menjebak ayam kampung. Dulu waktu kecil saya sering diminta membantu almarhumah emak saya untuk menangkap ayam kampung peliharaanya untuk dijual atau disembelih. Strateginya hanya dengan modal sejumput beras yang di-kepyur-kan (disebar) dalam kandang atau kurungan ayam.

Dengan strategi kepyur ini emak saya sering berhasil menangkap ayam kampung yang menjadi targetya. Padahal modalnya hanya sejumput (segenggam) beras. Sangat sedikit dibanding dengan beras yang dibeli di warung.

Nah, yang ketiga, kata "kepyur" dalam dua tiga hari menjelang Pilkada Serentak 9 Desember 2020 atau menjelang Pemilihan-Pemilihan lainnya biasanya akan menjadi viral dan ramai dibicarakan orang. Sejak kemarin grup-grup Whatsapp tak luput dari obrolan sekitar "kepyur".

Sama dengan yang pertama dan yang kedua, kepyur jenis yang ketiga ini juga sebenarnya modalnya sedikit jika prosentasenya dibanding dengan hasil yang akan diperoleh kelak jika berhasil memenangi Pilkada. Nilai kepyur dalam Pilkada nominalnya sangat beragam, bisa 20 ribu, 30 ribu sampai 50 ribu tergantung situasi di lapangan.

Jadi dengan menerima kepyur senilai nominal di atas sebenarnya kita telah masuk perangkap seperti ayam yang tertangkap dan akan disembelih karena terjebak makan kepyuran sejumput beras.

Lalu apa yang disembelih dengan kepyur Pilkada yang kita terima? Tentu saja kemerdekaan, kebebasan dan independensi yang kita miliki menjadi "tersandera" dalam ikut menentukan pemimpin daerah kita.

Wah, ini tak terasa sudah jam 7.48 Wib. Tidak bisa melanjutkan tulisan. Saya mau mandi terus sarapan dan datang ke TPS untuk nyoblos. "Bismillah niat ingsun milih pemimpin jujur, adil, amanah kerono Allah SWT. Mugo-mugo manfaat dunyo akhirat. Amin.

Sukorejo, 9 Desember 2020

Informasi Lainnya

Banser dan Natal: Khidmah Kemanusiaan Tanpa...

Oleh: Anis Hidayati Barisan Ansor Serbaguna (Banser) merupakan lembaga semi-otonom di bawah naungan Gerakan Pemuda (GP) Ansor, badan otonom...

Bola Liar Konflik PBNU dan Harapan Nahdliyyin...

Oleh: M. Irhamni Sabil, S.Sy., MH Sudah hampir satu bulan konflik yang menerpa jajaran Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) bergulir di ruang...

Seni Merawat Khidmah: Ikhtiar Menghidupkan...

Oleh: M. Adib Shofwan Khidmah di Nahdlatul Ulama bukan sekadar soal niat baik, tetapi juga membutuhkan seni, gagasan kreatif, dan strategi yang...

Gus Dur, sudah Lama Jadi Pahlawan Rakyat

Desember identik dengan bulan Gus Dur. Khaul ke-16 tahun ini digelar di mana-mana .Majalah AULA edisi bulan Desember tak absen mengangkat tema...

Advertisement

Press ESC to close