"Sikut-Sikutan"

...

Oleh: Fahroji

Orang Jawa mengenal isilah "Sikut-sikutan". Kegiatan saling menyikut yang bisa diterjemahkan sebagai saling menyerang antara yang satu dengan yang lain itu hanya bisa dilakukan oleh orang yang dekat duduk bersama berdampingan. Sebab kalau kegiatan saling menyerang yang dilakukan dengan jarak jauh istilah yang digunakan biasanya beda, misalnya tembak-tembakan, lempar-lemparan dan seterusnya.

"Sikut-sikutan" sering tidak kelihatan oleh publik. Publik hanya melihat mereka sedang duduk mesra bersama membincangkan sesuatu. Padahal mereka bisa saja sedang saling menjatuhkan. Sikut-sikutan pada hakekatnya dilakukan orang untuk saling menjatuhkan atau mengalahkan yang lain karena sedang berebut sesuatu.

Nah… setiap menjelang Pemilu, atau yang paling dekat adalah Pilkada serentak 2020, orang ketemu, duduk bersama, jalan bersama runtang - runtung yang dilakukan tokoh penting baik tokoh politik atau bukan kemudian di-blow up media itu akan sering terjadi dalam beberapa bulan kedepan mendekati hari H Pilkada serentak 9 Desember 2020. Oleh karena itu, kita tidak perlu menjadi kagetan dan melihat hanya dari yang tampak dipermukaan.

Dalam dunia politik pertemuan-pertemuan para tokoh tentu menjadi hal lumrah sebagai bagian dari komunikasi politik. Menjelang runtuhnya Orde Baru, Gus Dur bahkan pernah runtang-runtung bersama Mbak Tutut (Siti Hardiati Indra Rukmana) untuk berkeliling pondok pesantren. Tentu Gus Dur punya target mengajak Mbak Tutut keliling pesantren yang merupakan kantong-kantong NU. Demikian juga Mbak Tutut waktu itu juga pasti punya target ketika bersedia diajak keliling pondok oleh Gus Dur. Kedekatan Gus Dur dengan Mbak Tutut tentu membawa pengaruh luar biasa bagi NU waktu itu, meskipun tidak luput dari pro dan kontra.

Namun, tak lama kemudian, setelah dekat dengan putra penguasa Orde Baru, publikpun dibuat kaget ketika Gus Dur kemudian terlihat dekat dengan Megawati Sukarno Putri. Apakah dari kedekatan Gus Dur dengan dua putri penguasa Orla dan Orba itu di dalamnya juga terjadi "sikut-sikutan"? Yang jelas happy ending ada pada Gus Dur dengan menjadi Presiden RI yang ke-4.

Dalam skala nasional, pertemuan tokoh penting yang mencitrakan "kemesraan" tentu lebih banyak contohnya karena media juga mem-blow up besar-besaran.

Bagaimana dengan dinamika politik lokal menjelang Pilkada Kendal? Nampaknya juga tidak akan sepi dari hal-hal semacam itu. Pertemuan tokoh PC NU dan PD Muhammadiyah Kendal serta Bakal Calon Bupati Tino Indra Wardoyo di Wana Wisata Watersix Weleri (23/6) yang di-blow up oleh media online Metro Times terlihat telah menunjukkan "kemesraan" kedua ormas Islam terbesar di kendal itu.

Bisa jadi pertemuan itu baru permulaan dan pertemuan serupa akan menyusul dilakukan pihak-pihak lain, karena dalam dunia politik kesan maupun pencitraan menjadi penting untuk dikedepankan. Namun kemudian apakah "kemesraan" itu akan langgeng atau tidak itu tergantung dari kepentingan masing-masing.

Jika kepentingan salah satu pihak tidak terakomodasi maka bisa saja "kemesraan" yang mereka perlihatkan menjadi "ambyar". dan berpontensi terjadi "sikut-sikutan".

Yang terpenting menjelang Pilkada Serentak kita tidak mudah menilai kedekatan atau jauhnya orang satu dengan yang lain hanya dari yang tampak dipermukaan. Karena sekali lagi hubungan dekat dan duduk berhimpitan itulah syarat untuk bisa terjadinya "sikut-sikutan".

Esai, renungan ba'da subuh
Sukorejo, 24 Juni 2020

Informasi Lainnya

Banser dan Natal: Khidmah Kemanusiaan Tanpa...

Oleh: Anis Hidayati Barisan Ansor Serbaguna (Banser) merupakan lembaga semi-otonom di bawah naungan Gerakan Pemuda (GP) Ansor, badan otonom...

Bola Liar Konflik PBNU dan Harapan Nahdliyyin...

Oleh: M. Irhamni Sabil, S.Sy., MH Sudah hampir satu bulan konflik yang menerpa jajaran Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) bergulir di ruang...

Seni Merawat Khidmah: Ikhtiar Menghidupkan...

Oleh: M. Adib Shofwan Khidmah di Nahdlatul Ulama bukan sekadar soal niat baik, tetapi juga membutuhkan seni, gagasan kreatif, dan strategi yang...

Gus Dur, sudah Lama Jadi Pahlawan Rakyat

Desember identik dengan bulan Gus Dur. Khaul ke-16 tahun ini digelar di mana-mana .Majalah AULA edisi bulan Desember tak absen mengangkat tema...

Advertisement

Press ESC to close