Agama harus dibawakan secara menyenangkan agar agama membawa keceriaan hati, keceriaan sosial. Nabi Muhammad SAW paling marah jika
suatu kebaikan menjadi problem.
Demikian dikatakan Gus Baha' atau KH. Ahmad Bahauddin Nursalim seperti dikutip Majalah Aula Edisi bulan Juni 2020.
"Saya masih ingat wasiat bapak saya, kalau kamu ngajar atau berdakwah, guyon saja. Sebab orang yang sedang ngaji itu, sudah dibebani banyak hal, misalnya punya hutang, takut istri dan lainnya. Jangan membuat mereka menangis keduakalinya. Di rumah sudah banyak masalah, ternyata di pengajian bertambah masalah baru, yaitu ditakut-takuti siksa neraka oleh ustadz. Ini namanya membuat kesedihan dan tangis kedua kali," tegas Gus Baha'.
Menurutnya, ada empat hal dasar tentang epistemologi nalar Islam ceria itu. Pertama, berdasarkan QS Al-Najm ayat 83, potongan ayat adlhaka (tawa) wa abka (tangis), adalah ajaran normatif agar kita memilih berdakwah dengan penuh keceriaan, sebab semua sifat-sifat Allah itu pasti aktif, efektif dan efisien. Nafidzah wa mu'atstsirah.
Karena itu, mayoritas ulama dulu menghindari perilaku formal, serius dan detail. Sebaliknya mereka justru tampil di publik dengan cara guyon, bercanda dan ngelucu. Potongan ayat adlhaka wa abka (tertawa dan menangis) diinterprestasikan sebagai justifikasi kaifiyah mu'amalah dengan Allah yang adlhak (guyon). Artinya ayat ini tuntunan pada kita agar berinteraksi secara vertikal dengan cara yang elegan, yaitu ceria dan tertawa.
Lebih lanjut Gus Baha' menjelaskan guyon dalam konteks ini harus berorientasi pada min sa'ati rahmatihi. Karena itu, dinamika hidup yang direspon dengan hati yang gundah gulana, berarti melawan pemberian Allah berupa sikap adlhak. Sebab itu, seseorang ruwetnya seperti apa, punya hutang misalnya, ya waktunya ketawa, harus ketawa.
Demikian pula ketika menceritakan tragedi pertengkaran dengan istrinya. Waktunya bertemu teman ya tertawa saja, "Wah, istriku hebat, jioss…piring dibanting, kaca dipecah", sekalipun ketika sampai di rumah takut beneran. Sebab, adlhaka (ketawa) merupakan pemberian Allah yang nafizah-muatstsirah.
Kedua, berdasarkan hadits yang ter-maktub dalam kitab Ihya'ulumuddin, karya Imam Al Ghozali, Rasulullah bersabda, "Sungguh, termasuk umat terbaikku adalah kaum yang tertawa keras (yadlhakuna jahran), karena percaya terhadap luasnya rahmat Allah (min sa'ati rahmatihi)
Berdasarkan hadits tersebut, mayoritas ulama terdahulu selalu bercanda, kelakar, santai, rileks, guyon dan tertawa. Ini semua mereka lakukan sebagai ekspresi atas kebahagiaan dan ridla terhadap pemberian Allah SWT. (Fahroji)
Disarikan dari majalah Aula Edisi Juni 2O20.
Info langganan 082135050118.