Oleh: Fahroji
Usai lebaran Idul Fitri 1441 H, isu Pencalonan Pilkada Kendal kembali menghangat. Hal ini dipicu oleh silaturrahim politik yang dibungkus dengan silaturrahim Idul Fitri oleh para Bakal Calon (Balon) Bupati maupun Balon Wakil Bupati Kendal ke sejumlah kyai dan Pengurus NU. Tak pelak hal ini telah menimbulkan kecurigaan antara kyai atau elit NU yang satu dengan yang lain. Lalu bagaimana seharusnya para elit NU maupun kyai NU menyikapi kondisi ini?
Meski lebaran tahun ini di tengah pandemi Covid 19 dianjurkan untuk bersilaturrahim lewat media sosial, namun tidak demikian bagi para Balon Bupati maupun Wakil Bupati Kendal. Lebaran ini tentu saja saat yang paling baik untuk bersilaturrahim sebelum Pilkada serentak digelar Desember mendatang.
Tidak ada yang salah dengan langkah mereka. Tidak juga bisa dikatakan mencuri start kampanye, karena mereka juga belum ditetapkan sebagai calon Bupati maupun calon Wakil Bupati oleh KPU Kendal. Langkah mereka saat ini baru bisa dikatakan memperkenalkan diri atau bersosialisasi.
Pada waktu-waktu seperti ini mereka yang mengklaim telah mengantongi rekomendasi DPP Parpol tertentu juga belum bisa dikatakan final. Rekomendasi partai politik di tingkat pusat bisa saja berubah menyikapi dinamika politik yang bisa berubah setiap saat.
Para elit politik masih mengatur strategi masing-masing. Partai besar pemenang Pemilu 2019 seperti PDIP dan PKB yang bisa mengusung calon secara mandiri memilih masih merahasiakan calonnya. Pada saat-saat akhir menjelang penutupan pendafaran ke KPU biasanya rekomendasi calon baru dikeluarkan. Langkah itu tentu bagian strategi partai yang bersangkutan. Sebaliknya partai kecil yang tidak mampu mengusung calon sendiri cenderung mempublikasikan bakal calonnya jauh-jauh hari sebelumnya dalam rangka menawarkan jagonya untuk mendapat "tandem" koalisi. Itupun menjadi bagian dari strategi partai yang bersangkutan.
Silaturrahim para Balon Bupati maupun Balon wakil Bupati ke kyai maupun elit NU itu tentu bisa dimaklumi karena di belakang mereka banyak jama'ah, santri maupun warga NU. Namun demikian, kyai atau elit NU yang menerima silaturrahim mereka tidak juga bisa serta merta dikatakan mendukung balon Bupati atau wakil Bupati tertentu, sehingga semestinya para kyai dan elit NU bisa saling berkomunikasi dan menjaga kekompakan serta menghindari rasa saling curiga satu dengan yang lain.
Bagi NU, silaturrahim tersebut akan lebih produktif jika digunakan untuk menjajaki bagaimana visi, misi serta komitmenya terhadap program-program NU di Kendal. Hasil penjajakan itu bisa menjadi bahan diskusi sendiri, sehingga ketika saatnya KPU menetapkan pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Kendal para kyai dan elit NU punya gambaran jelas untuk mengarahkan kepada siapa warga NU menjatuhkan pilihan nanti.
Semoga dengan menghangatnya atmosfer Pilkada, kekompakan kyai, elit NU dan warga semakin kokoh sehingga Pilkada 2020 membawa keberkahan bagi NU di Kendal.
