Oleh: Fahroji
Pulang dari Semarang lewat exit tol Weleri terlihat di sepanjang jalan raya Weleri berkibar bendera Ansor. Saya menduga itu partisipasi Ansor dalam menyambut Harlah NU ke-94. Dugaan saya nampaknya keliru, karena di ponpes Al Mashud sedang digelar Konfercab Ansor Kendal, sebuah permusyawaratan tertinggi ditingkat cabang yang salah satunya berwenang memilih pimpinan baru GP Ansor Kendal. Setengah jam setelah sampai Sukorejo, di beberapa group WA dishare ucapan selamat kepada Misbahul Munir yang terpilih menjadi nahkoda baru PC Ansor Kendal.
Sudah beberapa waktu saya memang tidak mengikuti dinamika Ansor Kendal di mana saya pernah ada di dalamnya. Gelaran Konfercab Ansor Kendal kali ini sungguh mengagetkan bagi saya, di tengah-tengah santernya berita ketua PC Ansor Kendal (demisioner) Ulil Amri, akan meramaikan bursa calon Pilkada Kendal 2020, tiba-tiba saja terdengar gelaran Konfercab Ansor Kendal.
Tidak ada yang salah dengan Konfercab Ansor Kendal, karena mungkin sudah saatnya. Hanya saja yang sering kita lihat ketika ada pimpinan sebuah ormas akan maju dalam jabatan publik sepertinya ada semacam toleransi atau memberi kelonggaran untuk menggelar permusyawaratan tertinggi (Konfercab). Kelonggaran atau tepatnya pengunduran waktu penyelenggaraan permusyawaratan tertinggi itu biasanya sebagai bentuk support dan penghargaan atas khidmatnya. Di samping sebenarnya organisasi juga punya kepentingan untuk mendistribusikan kader terbaiknya dalam jabatan publik.
Gelaran Konfercab Ansor kali ini bisa memunculkan beberapa spekulasi pertanyaan, misal, Apakah Konfercab kali ini merupakan gerakan murni penyelamatan organisasi Ansor dari hegemoni Pilkada Kendal?.
Jika kader Ansor yang akan maju meramaikan Pilkada hanya satu orang, sebut saja ketuanya maka Konfercab biasanya akan diundur. Namun sebagaimana berita yang beredar di samping Ulil Amri (ketua demisioner) akan maju pencalonan, ketua sebelumnya Wahidin Said juga akan maju dalam pencalonan Pilkada Kendal. Teman saya waktu di KPU Kendal itu bahkan berani ambil resiko dengan undur diri sebagai komisioner Bawaslu Kendal.
Balon lainnya yang belum saya kenal secara pribadi adalah Tino Indra W. Konon dia adalah wakil ketua PW Ansor Jateng. Belakangan nama Ali Martin juga muncul, teman yang satu ini, yang telah selesai menyandang gelar Doktor juga kabarnya akan meramaikan Pilkada Kendal. Mantan ketua DPD II KNPI Kendal ini pernah menjabat Departemen Litbang PC Ansor Kendal.
Jika demikian keadaanya, maka Konfencab Ansor yang baru lalu bisa merupakan bagian penyelamatan organisasi Ansor. Setidaknya kader-kader Ansor yang muncul dalam bursa calon tidak lagi menjadi representasi Ansor Kendal. Sehingga Ansor tidak menjadi kendaraan pribadi dan alat bargaining dengan pihak-pihak tertentu.
Tentu saja ketua baru Ansor, Misbakhul Munir, memikul beban berat menyelamatkan Ansor dari tarik menarik kepentingan menjelang Pilkada nanti. Apalagi dari nama-nama yang saya sebut diatas notabene adalah para seniornya yang tentu saja sangat dihormatinya. Namun demikian sebagai nahkoda baru, Misbah harus mampu menjaga Ansor agar tetap menjadi organisasi kepemudaan sayap NU sebagaimana divisualisasikan dalam logo Ansor segi tiga sama sisi. Dibolak-balik bagaimanapun tetap segi tiga sama sisi. Ansor dalam kondisi apapun harus tetap menjadi Ansor tidak boleh berubah menjadi yang lain.
Terkait dengan banyaknya kader Ansor yang ikut meramaikan pilkada Kendal harus dipahami bahwa usia kader Ansor adalah usia meniti karier dalam berbagai bidang termasuk bidang politik. Dalam konteks warga negara mereka juga punya hak dipilih dan memilih sehingga tidak ada yang salah atas langkah mereka.
Banyaknya kader Ansor yang ikut meramaikan bursa Balon Pilkada Kendal tak pelak juga telah menjadi hiburan tersendiri atas muncul dan redupnya isu pencalonan Bupati dan Wakil Bupati Kendal saat ini.
Mengapa bisa demikian?, karena Pilkada yang konon pesta demokrasi lokal tapi ditentukan oleh tokoh-tokoh nasional. Harapan warga (termasuk NU) yang ingin memunculkan tokoh lokal yang merakyat sering kandas oleh selembar kertas yang disebut rekomendasi DPP Partai Politik. Warga sering kali dipaksa memilih calon yang sama-sama tidak disukai. Lima tahun yang lalu warga NU tidak habis pikir, mengapa KH. Mustamsikin (sekarang ketua DPC PPP Kendal) gagal dalam pencalonan.
Terpilihnya Misbakhul Munir sebagai ketua PC Ansor Kendal yang baru, disisi lain juga bisa menjadi incaran baru para petualang politik karena pertimbangan representasi Ansor Kendal yang baru. Jika ini terjadi tentu mekanisme organisasi Ansor harus dijalankan. Yang jelas semuanya serba mungkin karena penentuan calon biasanya ditetapkan detik-detik akhir pendaftaran calon.
Sukorejo, 23 Februari 2020

Penulis adalah Wakil Ketua PC GP Ansor Kendal 2007-2011.