
Oleh: M. Azka Ulin Nuha
Sebuah bunga rampai ciamik yang ditulis oleh orang-orang maestro lokalisasi Kendal. Esai-esai yang menghimpun fragmen ingatan masa-masa berharga dan tak terbelikan ini menjadi refleksi, bahkan dapat dijadikan penelitian, pengembangan, dan prototipe teknologi lokal— barangkali. Sebuah cerita yang tak sekadar omong-omong, tetapi menyimpan banyak manis madu dan refleksi atas terkikisnya nutrisi ketradisian dan kebudayaan era ini. Buku ini bercerita tentang laku-laku di masa-masa Ramadan, tepatnya di kampung-kampung yang ada di Kabupaten Kendal. Tidak hanya sampai dicerita, tetapi buku ini meniriskan banyak pertanyaan yang kiranya perlu untuk dijawab dan dikaji ulang. Apakah kenangan-kenangan itu dapat menjadi bahan rekonsiliasi budaya, atau justru sekadar menjadi narasi terhimpun di rak buku.
Sedari fenomena pra-Ramadan seperti geliat suka ria anak-anak dan remaja Kendal masa lalu— bersih-bersih musala ataupun masjid— mencuci karpet dan tirai jemaah laki-laki dan perempuan sekaligus dibarengi dengan mandi di sendang. Cerita-cerita ini tidak sesingkat itu, banyak fragmen-fragmen yang menarik untuk dibaca. Dari keresahan sampai euphoria yang mungkin tak dimiliki kekayaannya oleh generasi saat ini. Teknologi tradisi anak-anak kampung Kendal juga diceritakan di buku ini. Meriam, sampai-sampai canda dan muram durja yang dialami pada masa-masa lalu. Namun, anehnya anak-anak dulu tetap memiliki moralitas, di sisi lain tetap mengadakan laku-laku jahil-lucunya. Dalam laku-laku Ramadan masa-masa itu, para orang tua dan anak secara tersirat memiliki hubungan sangat erat dengan persinggungan kelucuan buah hatinya, walau terkadang menyebalkan.
Tradisi menjelang lebaran pun turut memperkaya wacana dalam gelanggang saejarah anak-anak Kendal. Nyekar, pasar kembang, dan mangan iwak pitik pun menjadi kekayaan budaya yang dianugerahkan kepada aktor-aktor mungil kala itu. Apa saja yang digagas oleh penulis-penulis buku ini sangat perlu untuk dibaca ulang guna merenungi era-era ini. Barangkali generasi-generasi lakonnya kini sudah sampai di perjalanan hidup rumah tangga, rantau, dan mulai sibuk sendiri— karena memang sudah tanggung jawabnya.
Salah satu nilai yang terkandung di buku ini antara lain yang saya soroti adalah norma kearifan untuk hidup damai dan harmonis dalam riuhnya perbedaan. Misalnya, pagi-pagi buta anak-anak dulu suka berjalan-jalan selepas mendengarkan kultum dari musala atau masjid. Mereka sungguh unik, berjalan dan bertamasya untuk mengunjungi tempat saudara-saudara lintas agama. “Jalan-Jalan ke Gereja, Ngabuburit di Kelenteng”, itulah bisa dibaca di buku ini.
Selain itu, buku ini juga mengulik beberapa fragmen yang menyodorkan jati diri Islam Kendal. Di dalamnya mengandung narasi, deskripsi, bahkan diskusi mengenai potret laku Ramadan masa lalu, yang sekali lagi— tak bisa terbeli barangkali di saat ini. Dari yang dulunya kampung halaman menjadi oase pemicu kerinduan, kini mulai terkikis, sebab kenangan-kenangan itu sudah jarang kentara saat ini. Orang-orang yang berada di luar Kendal, kini sudah agak terampas tambatannya untuk sesekali merindu yang berat. Bukan berarti semua tradisi ataupun budaya ini sudah hilang, tetapi barangkali sudah tak se-abrek dulu, tak se-meriah dulu, dan tak se-gamblang-ria dulu.
Sebuah paradoks, seperti yang pernah dilontarkan Clifford Geertz (1983), di saat Ramadan tiba, kegiatan yang bersifat keagamaan juga religius kian meningkat, dan kegiatan yang semata-mata sekuler agak dikendorkan. Memanglah begitu, tetapi tak bisa dipungkiri ekspresi persona terhadap bulan puasa adalah tanggung jawab diri, serta bagaimana iklim yang maujud kentara saat ini.
Buku ini dirasa cocok untuk bekal menjelang Ramadan, atau bahkan bisa menjadi teman bacaan pada saat puasa. Sebab, buku ini kaya akan wacana-wacana Ramadan— khususnya bagi warga Kendal sangat cocok untuk membaca buku ini, agar kita tidak kehilangan ruh identitas ke-Kendal-an. Buku ini setidaknya bisa merefleksikan orang-orang Kendal dalam membaca ulang ruh dalam dirinya.
Hal besar yang menjadi menarik dalam buku ini adalah fragmen-fragmen yang berisikan kekayaan budaya Kendal. Banyak mengandung kekayaan bahasa masa lalu, yang barangkali generasi-genarasi saat ini sukar tahu. Segingga buku ini patut untuk dibaca oleh siapapun— wabilkhusus wong kendal. Tidak hanya itu, banyak pengetahuan-pengetahuan yang didapatkan dari buku ini, jikalau kita mau mengembangkannya, mungkin bisa menjadi pemantik untuk mewarnai kebaikan dan mengevaluasi ihwal yang perlu, serta menyokong terbentuknya suatu wilayah Kendal yang Handal sekaligus Beribadat.
Sungguh, sebuah karya tentunya tidak ada yang benar-benar sempurna dan final. Buku ini masih memiliki kekurangan dalam aspek penulisan— masih ditemui beberapa ihwal bahasa yang perlu diperbaiki. Selain bahasa, sebuah cerita-cerita yang ada di dalam buku ini juga masih perlu dikritisi. Karena, barangkali semua tradisi ataupun budaya tidak bisa dipukul rata untuk ditandaskan di era ini. Hal yang mungkin bisa dilakukan adalah mengkaji, mengambil, dan merekonstruksi rekayasa tradisi dan budaya yang baik. Hal buruknya kita renungi dan mungkin bisa diformulasikan serta dievaluasi— mana yang harus diperbaiki. Bukan berarti menghapus kesemuanya dan atau menutup eksternal yang masuk, melainkan kita perlu membaca ulang dan mereformulasi dari kearifan menuju kebaruan ala tradisi Kendal yang Handal.
Terakhir, apresiasi untuk penulis-penulis yang di dalamnya juga termasuk Pak Subhan Abidin, guru saya, sekaligus buku ini diberikannya pada waktu di sekolah pesantren dulu. Mengingat, buku ini diberikan pada saat mata pelajaran Aswaja di SMP NU Al-Munawwir, Gringsing. Terima kasih juga untuk para guru se-yayasan Al-Munawwir. Penutup, salam takzim kepada Abi K.H. Sholichin Syihab (Khodimul Ma’had Al-Munawwir Gringsing).
Judul Buku: Ramadan di Kampung Halaman (Kumpulan Esai)
Penulis: Heri CS, Subhan Abidin, Muslichin, Muhamad Kundarto, Muhammad Hilal Ibnu Hasan, M. Lukluk Atsmara Anjaina, Setia Naka Andrian, M. Yusril Mirza, Chadori Ichsan, Najmah Munawaroh, Ermin Siti Nurcholis, Agus Susanto.
Penerbit: Lesbumi NU Kendal
Tahun Terbit: Cetakan pertama, Juli 2018
Jumlah Halaman: iv 76 halaman
ISBN: 978-602-6694-64-5