Khutbah: Hikmah Idul Fitri, Menguji Ketakwaan dan Mengikis Cinta Dunia


Oleh: M. Adib Sofwan

اَللهُ اَكْبَرُ.7.اَللهُ اَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ للهِ مَاوَدَعَ اَلْمُسْلِمُوْنَ شَهْرَ الصَّوْمِ وَاسْتَقْبَلُوْا يَوْمَ الْعِيْدِ اَللهُ اَكْبَرْ مَا اَقْبَلُوْا عَلَى نفُوْسِهِمْ وَقُلُوْبِهِمْ بِالرِّعَايَةِ وَالتَّهْذِيْبِ اَللهُ اَكْبَرُ مَارَقَّتْ اَلنُّفُوْسُ وَصَفَتْ اَلْقُلُوْبُ وَاجْتَمَعَ الْمُسْلِمُوْنَ عَلَى الْحُبِّ فِى اللهِ فَوَجَبَتْ لَهُمُ الْجَنَّةْ وَحَقَّ لَهُمُ الرِّضْوَانْ اَللهُ اَكْبَرُ.اَللهُ اَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرَا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَاَصِيْلاً لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَاَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ لاَاِلَهَ اِلاَّ الله وَلاَنَعْبُدُ اِلاَّ اِيَّاه مُخلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنُ وَلَوْكَرِهَ الْكاَفِرُوْنَ فَيَا اِخْوَانِى الْمُسْلِمِيْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Alhamdulillah puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT Tuhan semesta alam atas limpahan nikmat, taufiq dan hidayahnya sehingga kita masih bisa menghadiri sholat id pada pagi ini sembari menikmati kehangatan sinar matahari pagi.

Sholawat dan salam semoga tercurah ke pangkuan baginda agung Muhammad SAW atas jasa beliau mengemban amanat kenabian dan kerasulan sehingga kita bisa membedakan mana yang haq dan mana yang batal, satu harapan semoga kita senantiasa mendapatkan syafa’at dari beliau di dunia hingga di akhirat kelak. Amin.

Sebuah kewajiban kita sebagai seorang mukmin adalah bertaqwa kepada Allah SWT dimanapun dan kapanpun kita berada. Marilah pada kesempatan pagi ini kita mengumpulkan semangat dan niat untuk menyatukan jiwa kita guna menjadi manusia yang lebih bertaqwa, menjadi manusia yang lebih ta’at kepada Allah SWT sebagai bukti kongkrit, syukur kita atas nikmat yang telah Allah limpahkan kepada kita. Kalau kita enggan dan tidak mau bersykurur, apakah kita sudah siap nikmat-nikmat kita di cabut oleh Allah dari diri kita?

Hari ini adalah hari raya Idul Fitri, hari dimana kita telah meninggalkan bulan yang penuh kemulyaan yaitu bulan romadhon. Kemulyaan Ramadhan karena di dalamnya Allah menurunkan Al-Qur’an yang menjadi pedoman bagi seluruh umat manusia di alam semesta ini. Dan adanya lailatul qadar, malam yang lebih utama dari seribu bulan. Dan hari ini juga kita memasuki hari raya idul fitri, suatu hari yang paling utama dan paling mulia dibandingkan hari-hari yang lain karena keberkahan yang Allah turunkan untuk umat manusia.

Hadirin jama’ah idul fitri yang dirahmati Allah SWT.

Apa hikmah yang bisa kita petik dibalik pensyariatan hari raya idul fitri? dan kenapa terkadang kita salah didalam memaknai dan memahaminya?. Hari raya ini adalah waktunya kita diuji dan menjalani ujian didepan Allah SWT dan di depan muslimin semua, kita sebagai muslim diuji seberapa kita bisa mengambil kemanfaatan dari puasa romadhon yang telah kita laksanakan? Seberapa ketaatan kita mendatangi atas panggilan Allah SWT dan rasul-Nya?. Seberapa kezuhudan kita atas harta dunia? Dimana selama sebulan kita telah ditempa dengan mengekang nafsu kita. Seberapa sifat tenggang rasa kita untuk mau tolong menolng kepada para fakir miskin, sanak saudara, keluarga dan para tetangga kita dan seberapa kita memahami dan mau mengamalkan tahaddus binni’mah? menampakkan atas kenikmatan yang telah Allah limpahkan kepada kita dan kita mau membuka dan berbagi dengan lainnya.

Hadirin jama’ah idul fitri yang dirahmati Allah SWT.

Hikmah yang paling pokok atas pensyariatan hari raya, dimana sebelumnya telah diawali dengan puasa selama satu bulan yang mana kita dilatih dan dididik untuk mengekang hawa nafsu, baik nafsu makan, minum, syahwat, pandangan mata kita dijaga dari hal-hal yang haram untuk dilihat, mulut dijaga dari berucap yang kotor seperti hasud, ghibah atau menggunjing dan sejenisnya, telinga dijaga dari mendengar perkara yang haram. Semua ini diharapkan tidak hanya dikerjakan ketika romadhon saja, akan tetapi dibawa untuk setelah romadhon.

Hikmah hari raya ini adalah mendidik kita untuk hidup dengan zuhud atas harta dunia, membersihkan hati dan jiwa kita dari kecintaan harta dunia agar muncul rasa cinta antar sesama muslim untuk saling tolong menolong dalam kebaikan dan ketaqwaan.

Hadirin jama’ah idul fitri yang dirahmati Allah SWT.

Zuhud atas harta benda dan dunia bukan berarti diam berpangku tangan tidak mau bekerja dan menjauhi kehidupan dunia. Bukan itu, akan tetapi zuhud adalah kita mau beramal dan bekerja untuk mendapatkan harta akan tetapi dengan cara dan jalan yang diridhoi Allah, kita mencari harta akan tetapi hati dan jiwa kita tidak dipenuhi dengan kecintaan akan harta dunia tersebut.

Harta yang kita kumpulan untuk menggapai dan menempuh jalan keridhoan Allah SWT. Karena dunia dan isinya ini hanya jalan, kendaraan yang akan menghatarkan kita menuju menuju kehidupan di akhirat kelak. Ini yang harus kita sadari dan jangan berhenti di tengah jalan sebelum kita sampai pada tujuan akhir kita.

Hadirin jama’ah idul fitri yang dirahmati Allah SWT.

Kita lihat bagaimana kedermawanan sahabat Usman bin Affan ra. Beliau menginfaqkan ribuan onta untuk kebutuhan perang. Lebih luar biasa lagi adalah sahabat Abu Bakar As-shidiq yang menginfaqkan seluruh harta beliau untuk biaya perjuangan. Beliau hanya meninggalkan untuk keluarganya Allah SWT dan rasulnya.

Orang yang hatinya senantiasa Isyqu sangat mencintai dan memikirkan dunia itu bukan seorang zahid walaupun dia fakir tidak punya harta. Jadi barometer zuhud bukan pada banyak sedikitnya harta yang dipunyai, akan tetapi apakah hati orang itu punya kecintaan yang berlebihan kepada harta dunia sehingga dia merasa harta adalah miliknya bukan anugrah dan titipan Allah SWT. Hingga tidak mau tahadduts binnikmah berbagi dengan saudara lainnya.

Hadirin jama’ah idul fitri yang dirahmati Allah SWT.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surat : At-Taubat : ayat 24

قُلْ إِن كَانَ اَبَآؤُكُمْ وَأَبْنَآؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُواْ حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

Katakanlah : “Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai lebih kamu cintai daripada Allah dan rosul-Nya serta berjihad di jalan-Nya maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya” dan Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasiq.

Ini adalah hakikat zuhud dalam agama islam yang sesungguhnya. Dunia dan isinya boleh kita raih, anak dan istri kita miliki, akan tetapi itu semua tidak boleh mengalahkan kecintaan kita pada Allah dan rosul-Nya.

Allah SWT mensyariatkan puasa di bulan romadhon sebagai latihan dan masa training bagi para mukminin hingga puasa itu menjadi suatu malakah, sebuah sifat yang menyatu dengan jiwanya ketika mukminin puasa dengan sesungguhnya. Bukan keluh kesah dan merasa sakit jika dia berpuasa dengan segenap jiwanya.

Rosululloh SAW bersabda :

اِزْهَدْ فِي الدُّنْياَ يُحِبُّكَ اللهُ ، وَازْهَدْ بِمَا فِي أَيْدِ النَّاسِ يُحِبُّكَ النَّاسُ

Artinya: “Berzuhudlah dalam (urusan) dunia, niscaya kamu akan dicintai Allah. Dan berzuhudlah (jangan mengharap) dari apa-apa yang ada pada genggaman manusia, niscaya kamu akan disukai manusia.”

Harapannya, ketika kita telah selesai berpuasa, jika kita lebih dekat dan lebih mengenal kepada Allah SWT, langkah dan gerak kita senantiasa merasa dilihat dan dikontrol oleh Allah SWT yang akhirnya seluruh indra kita bergerak atas bimbingan dan petunjuk Allah SWT. Amin

Hadirin jama’ah idul fitri yang dirahmati Allah SWT

Demikian khutbah idul fitri pada pagi hari ini, semoga di pagi yang cerah dan penuh limpahan barokah ini kita bisa dan mampu untuk senantiasa terus menggenggam semangat dan pelajaran dari puasa romadhon yang telah kita lakukan. Amin.

قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى جَعَلَنَا اللهُ وَاِيّاكُمْ مِنَ الْعَائِدِيْنَ وَالْفَائِزِيْنَ وَأَدْخَلَنَا فِى جَنَّة النَّعِيْمِِ أقُوْلُ قَوْلِى هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهََ لِى وَلكَمْ وَلِوَالِدَيَّ وَلِوَالِدِيْكُمْ فَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّحِمِيْنَ.

Informasi Keislaman Lainnya

Ngaji Haid

Oleh: M. Adib Shofwan 1. Pengertian Haid Haid atau haidl yaitu darah yang dikeluarkan seorang wanita dari urat (otot) pangkal rahim secara...

Tafsir Surat An-Nasr

 Oleh: M. Adib Sofwan Surat An-Nasr termasuk golongan Madaniyah, atau Surat yang turun di kota Madinah. Jumlah ayatnya sebanyak tiga dan...

Kisah Nabi Ibrahim as, Perjumpaan Sang Kekasih...

Oleh: M. Adib Shofwan Sebuah kisah, ketika Nabi Ibrahim as duduk sendirian, datanglah seorang tamu serupa laki-laki. Usai berucap dan berjawab...

Keutamaan Air Zamzam

??? ?????? ?? ?????? ???? ?? ????? ????? ???? ??? ???? ?? ???????? ??? ???? ??? ?????? ?? ?????? Hendaklah ia memperbanyak salat di Al-Hijir,...

Tiga Cara Membangun Cinta pada Nabi Muhammad SAW

Oleh: M. Adib Shofwan Kecintaan kita pada Nabi Muhammad SAW merupakan salah satu hal yang wajib kita pupuk dan kembangkan guna kesempurnaan...

Advertisement

Press ESC to close