Pertemuan Semasa Lesbumi PCNU Kendal di Kaliayu Cepiring Diskusi Tradisi Nyadran

...
Cepiring, pcnukendal.com – Setiap desa di Jawa memiliki tradisi untuk menghormati dan mengenang jasa para sesepuh atau pepunden-nya, salah satu tradisi itu disebut nyadran. Dalam acara nyadran biasanya warga desa berkumpul di suatu tempat dengan membawa hidangan dan jajanan. Nyadran dilakukan untuk mendoakan para leluhur desa yang berjasa atau memiliki keistimewaan tertentu. Melanjutkan Tradisi Nyadran menjadi tema pertemuan rutin Selapanan Malam Sabtu (Semasa) Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (Lesbumi PCNU) Kabupaten Kendal di Balai Desa Kaliayu Kecamatan Cepiring, Jumat (01/09). Pada kesempatan itu, Ketua Lesbumi PCNU Kendal Muslichin mengupas ritus nyadran yang selain memiliki nilai tradisi atau budaya, juga memiliki nilai silaturahmi, spiritual, bahkan nilai ekonomi. “Nyadran bisa menyatukan masyarakat yang kesehariannya mungkin tak sempat bertatap muka karena terjadi silaturahmi di dalamnya. Dalam nyadran juga memuat hal-hal yang sejalan dengan esensi beragama. Dengan nyadran berarti kembali pulang dan mengingat kembali sejarah desa,” papar Muslichin. Selain itu, lanjutnya, perkumpulan yang melibatkan banyak warga akan menimbulkan dampak secara ekonomi bagi warga sekitar maupun dari luar desa. Mereka bisa memanfaatkan momen nyadran untuk berjualan dan aktivitas ekonomi lainnya. Senada dengan Muslichin, pengasuh pondok pesantren Pring Jagad Sukodono Kendal Gus Ilyas menanggapi pendapat sebagian pihak yang menganggap tradisi nyadran adalah bid’ah dan sesat padahal menurutnya dalam tradisi tersebut terkandung nilai budaya, ekonomi dan spiritual yang sama sekali tak bertentangan dengan agama. “Karena nyadran bisa menjadi media membangun kerukunan, sosial, komunikasi dan ada perputaran ekonomi di dalamnya. Harus bisa membedakan mana muamalah dan akidah. Nabi saw sendiri juga pernah memerintahkan Sahabat Malik untuk mendoakan pejuang yang dikubur di tanah Baqi',” tandasnya. Kegiatan Lesbumi Kendal di Kaliayu yang melibatkan budayawan, ulama, IPNU-IPPNU, mahasiswa KKN Universitas Alma ata Yogyakarta itu didukung penuh pemerintah desa setempat. Kepala Desa Kaliayu, Ahmad Jazuri memandang pelestarian tradisi di desanya sangat penting dilakukan terutama bagi para pemuda. Karena menurutnya maju mundurnya umat, bangsa dan negara, hidup matinya tradisi di desa berada di pundak pada pemuda sebagai generasi penerus. “Di sini kita bisa memperoleh ilmu yang jarang ditemui yang mesti dijalankan minimal pada diri sendri. Di Desa Kaliayu sendiri juga ada tradisi nyadran untuk mendoakan 3 sesepuh desa yakni Mbah Slamet, Mbah Soro dan Mbah Ibrahim. Nyadran tersebut diisi tahlil, yasinan dan doa bersama dengan harapan bisa mendapat keberkahan dan terjadi persambungan batin antara warga dan sesepuhnya,” terang Jazuri. (muf)

Informasi Berita Lainnya

Pelantikan MWC NU Kangkung 2026-2031, KH Mukh...

Kangkung, pcnukendal.com - Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Kecamatan Kangkung masa khidmah 2026–2031 resmi dilantik di Gedung MWC...

Silaturahmi Idulfitri LAZISNU Cepiring, Rois...

Cepiring, pcnukendal.com - Pengurus Lembaga Amil Zakat, Infaq, dan Shadaqah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) Kecamatan Cepiring menggelar silaturahmi...

Pelantikan Kepala Sekolah Baru SMP NU 06...

Kaliwungu Selatan, pcnukendal.com - SMP NU 06 Kedungsuren, Kaliwungu Selatan, menggelar halalbihalal sekaligus pelantikan kepala sekolah baru masa...

Pembekalan Aswaja SMA NU 05 Brangsong, Kuatkan...

Brangsong, pcnukendal.com - Menjelang kelulusan, SMA NU 05 Brangsong menggelar Pembekalan Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) bagi siswa kelas XII di...

Advertisement

Press ESC to close